Lifecycle Tablet yang Terlalu Cepat

Tidak dipungkiri, tablet adalah gadget yang paling diminati saat ini sejak kemunculan Apple iPad. Gadget tipis ini sekarang menghiasi tempat-tempat nongkrong nan gaul di sudut-sudut kota metropolitan. Melihat animo yang sedemikian besar, tentu vendor-vendor lain tak ingin membiarkan kue manis itu dinikmati sendirian oleh Apple. Maka muncullah Samsung Galaxy Tab, Acer Iconia, BlackBerry Playbook, dan sederet merk-merk lain mulai dari yang paling mahal sampai yang model-model Cina.

Nama iPad sendiri pun telah menjadi generik seperti Aqua dan Sanyo. Sehingga ada yang bilang, sekarang ini iPad bermacam-macam, ada iPad yang dari Apple, ada yang iPad yang Android, ada yang iPad Cina, dll. Menggelikan atau memalukan? Entah.

Akan tetapi, untuk apa sih tablet itu sebenarnya?

Jika Anda sering presentasi ke client, dan setiap hari Anda harus mobile ke sana ke mari, maka Anda butuh tablet. Saya melihat betapa praktisnya ketika dosen saya menerangkan pengembangan dan pencarian ide di IDEO, sebuah perusahaan kreatif. Beliau cukup mengakses Youtube di iPad-nya lalu menampilkannya ke proyektor in-focus.

Jika Anda butuh alat yang praktis untuk baca ebook, akses email secara mobile yang lebih nyaman ketimbang di ponsel, komputasi sederhana ngitung untung rugi penjualan, monitor saham — Anda butuh itu, meskipun buat saya tablet masih terlalu berat untuk dijinjing selama dua jam untuk membaca. Dan komputasi sederhana itu saya kira hanya dilakukan oleh para pengusaha.

Tapi berapa banyak dari pemilik tablet — entah GTab entah iPad — yang menggunakan alat sesuai kebutuhannya? Saya melihat kebanyakan mereka memakai tablet untuk bermain game. Yeah, ini memang salah satu fitur tablet sih, tapi kok ya mahal-mahal cuma buat nge-game. Sayang duitnya kalau saya mah…

Jika kita mengabaikan fungsi dan fokus pada lifestyle, menurut saya perkembangan tablet juga terlalu cepat. Sebuah produk terlalu cepat basi, alias lifecycle-nya terlalu cepat. iPad1 yang begitu menghebohkan, sekarang sudah dipandang sebagai benda yang ketinggalan jaman. Nggak ada gengsi-gengsinya sama sekali kalau orang melihat iPad1 sekarang. Hal yang sama akan menimpa iPad2 sebentar lagi, juga Galaxy Tab 10, dan seterusnya. Dalam waktu yang menurut saya terlalu cepat. How long can you catch the trend and prestigue?

Saya pribadi masih memilih netbook ketimbang tablet. Karena masih bisa diisi Windows atau Linux. Dengan sistem operasi ini, saya akan bisa mengerjakan banyak hal. Itu artinya bahwa kebutuhan saya masih berupa sebuah komputer yang utuh, bukan tablet. Saya tidak mungkin bikin program Java atau mendesain web pakai tablet kan? Netbook meskipun akan lambat, masih bisa dipakai untuk itu.

Published
Categorized as ITisMyWorld

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

12 comments

  1. untuk mengeksekusi transaksi sambil jalan-jalan, membalas email penting, sekedar cek status, restart & administrasi sederhana ke server, saya sering pakai tablet murahan bermerek zte (dulu pas beli 3 juta, sekarang 1,7 juta)

    untuk kerja serius tetep pake laptop.

    tablet zte mungil 7 inch mudah dibawa dengan tas kecil yang juga berisi dompet (dan buku nikah, xixi..). sedangkan kalo bawa ipad tetap butuh bawa tas yang serius, jadilah pilih zte

    kelebihan lain tablet android bisa dipakai wifi tethering, jadi cukup pake 1 kartu saja sudah bisa berbagi koneksi ke kelompok kecil yang butuh internet di mana aja pas cangkruk :d

  2. hahaha.. setuju banget mas.. kalo cuma ngikutin tren & gengsi mah gak akan ada abisnya.. yah, yg abis paling duit..

    Tapi tetep pengen sih.. cuma gak mau keluar duit sendiri. maunya dapet yang gratisan :))

  3. Saya sudah mau nulis tentang ini tadinya, Galih, tapi karena kurang riset saya tunda. Eeh..ternyata sudah keduluan Galih, hihihi..

    Saya liat kelemahan utama tablet ini adalah nggak nyaman buat dipake ngetik narasi yang panjang-panjang. Karena keyboard-nya kan touch screen, jadi nggak terasa kalo ngetik cepat. Karena itu orang lebih sering menggunakan tablet untuk membaca, browsing, dan main game. Dan karena budaya baca masyarakat kita masih rendah, tinggallah tablet itu hanya untuk browsing dan main game.

  4. Saya belum menemukan asyiknya pake tablet. Punya tapi tak pernah saya pakai. Dan saya gak paham sama Playbook yang tidak bisa terkoneksi secara mandiri. Sejauh ini saya masih kuno, pake laptop. 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *