Rugi Dua Kali

Seorang kawan memutuskan untuk membeli mobil baru Nissan Grand Livina edisi Highway Star dengan cara kredit selama lima tahun. Sebagai orang yang pernah dan sedang belajar financial planning, saya agak merasa sayang dengan keputusan tersebut. Ada tiga poin lemah dalam keputusan itu:

  1. Mobil adalah jenis aset yang nilainya mengalami penyusutan dari waktu ke waktu. Bahkan, begitu mobil keluar dari dealer, harganya bisa jadi sudah jatuh lima puluh jutaan.
  2. Dia harus membayar cost of fund alias biaya bunga yang dibebankan. Padahal, dengan tenggat waktu cicil yang semakin panjang, bunga otomatis semakin tinggi.
  3. Mobil membuat mau tidak mau gaya hidup juga meningkat. Suka tidak suka. Ini saya amati di keluarga saya (ayah dan ibu) mulai hanya mulai memiliki motor Honda Astrea Star hingga sekarang, Kijang Innova.

Yuk coba main itung-itungan simpel saja. Kebetulan tadi ada brosur kredit mobil Honda All New Jazz di meja saya.

Perhatikan kolom Cost of fund. Semakin lama jangka waktu cicilan, semakin tinggi biaya bunga yang harus dibayarkan. Dalam lima tahun, orang harus membayar 82 juta sendiri untuk biaya bunga! Buset, itu duit sudah bisa dipakai buat bayar DP rumah baru. Kolom PV adalah kolom yang memperhitungkan nilai inflasi di titik 8%. Jadi nilai 82 juta di lima tahun mendatang itu kira-kira sama dengan nilai uang 76 juta sekarang.

Properti seperti rumah dan tanah, nilainya terus naik sehingga biaya bunga ini seolah-olah bisa dicover oleh kenaikan nilai asset jika asset tersebut dijual. Berbeda dengan mobil, berapa harga si Jazz ini setelah lima tahun? Mungkin tinggal 120-an juta. Makanya saya sebut rugi dua kali.

Tentu saja semakin lama jangka waktu cicilan, semakin ringan angsurannya. Siapa yang kuat bayar cicilan 16 juta sebulan? Yang artinya dia harus punya penghasilan minimal 50 jutaan kalau dia mau hidup normal. Tapi siapa pula orang yang gajinya 50 jutaan mau nyicil mobil harga segitu? Kalau mau dia cukup nabung setengah tahun sudah bisa beli cash. Tapi siapa pula orang yang gajinya 50 juta sebulan pakai Honda Jazz? Tentunya ia akan beli mobil sekelas Mercy atau BMW.

Hehehe, point saya adalah, keputusan keuangan tidak hanya sekadar urusan matematis sederhana seperti ini. Semua orang bisa menghitung biaya bunga sebuah cicilan. Tetapi tentu ada kondisi-kondisi yang memaksa orang harus mengambil kredit mobil dengan jangka waktu terlamanya: lima tahun.

Apalagi kalau sudah berbicara tentang gaya hidup dan kelas sosial. Dan kelas sosial erat kaitannya dengan dengan siapa kita bersosialisasi. Artinya jika kita hidup di lingkungan kelas sosial A, kita akan sulit untuk hidup dengan cara yang lebih rendah dari kelas A. Dan inilah yang sering membuat orang memaksakan diri. Ini juga yang menyebabkan penghasilan berapapun akan kurang. Inilah yang menyebabkan orang bergaji seratus juta sebulan belum tentu bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

13 comments

  1. mungkin dari perhitungan finansial, kondisinya rugi kalo beli grand livina. tapi bisa jadi ada sejumlah pertimbangan lain yg non finansial ikut mempengaruhi keputusan orang beli mobil. misalnya soal kedekatan kedekatan keluarga dan perasaan aman/nyaman kalo pagi bisa pergi bareng nganter anak2 sekolah, lanjut nganter istri ke kantor, trus ke kantornya sendiri. hal2 intangible semacam itu susah ngitungnya. dan memang ada harga yg harus dibayar untuk itu. imho sih.

    1. Yup, makanya ada paragraf ini:
      Hehehe, point saya adalah, keputusan keuangan tidak hanya sekadar urusan matematis sederhana seperti ini. Semua orang bisa menghitung biaya bunga sebuah cicilan. Tetapi tentu ada kondisi-kondisi yang memaksa orang harus mengambil kredit mobil dengan jangka waktu terlamanya: lima tahun.

      Tapi kok ya lima tahun sih, kan ada opsi mobil seken misalnya yang lebih murah. Jadi kesannya nggak terlalu ngoyo dengan cicilan dan biaya bunganya.

      1. kalau bisa baru ngapain beli seken 😛

        eh aku kirim ntar sore ya, biar bisa buat PR weekend (kalau lagi ga “sibuk”) :))

  2. kalo bisa dicicil, kenapa beli cash?

    mungkin saja si dia berfikir dengan membawa mobil (cicilan) itu akan meningkatkan kredibilitas di muka mitra bisnis, dan dari sana akan mengalir transaksi2 yang menghasilkan profit lebih besar..

    masuk akal

    tapi bagi pegawai kantoran dengan gaji pasti, mencicil mobil (3 tahun lah, jangan 5 tahun) sepertinya langkah solutif jika dia ingin segera terlihat sukses di mata tetangga kanan kiri maupun mertua, juga misalnya ketika ingin menyamankan keluarganya dalam bepergian..

    masuk akal juga

    yang gak masuk akal, bukan pengusaha, bukan pekerja, tapi ngoyo mencicil mobil dengan uang orang tua hanya untuk mendapatkan pacar yang keren! hwkwkwkww… dan itu banyak lho, menurut cerita kawan saya seorang sales mobil, dia sekarang gencar memasarkan mobil ke mahasiswa2 dan mahasiswi2 :))

  3. Aku lebih milih beli mobil second kalau memang ntar butuh punya mobil, kalau bisa Peugeot 206, terserah tahun berapa, dicicil paling setahun-dua tahun.

    Beli mobil second punya resiko sendiri, yang tentu saja panjang dan lama dibahasnya.

    Seperti yang aku pernah obrolin, untuk penjualan mobil dan motor ini pricing strategy-nya aneh. ATPM menjual mobil dengan harga tinggi untuk menjaga pasar mobil bekas mereka, alhasil harga mobil dan motor baru tiap tahun naik tanpa ada inovasi yang berarti.

    Sebagai perbandingan, harga vios di UAE itu cuma 60jt dan itupun nggak ada yang mau beli. Tapi beda juga Qatar sama Indonesia, nggak ada pajak di sana.

  4. Jadi ingat kakak sepupuku. Dia pegawai kecil, gajinya gak seberapa, tapi beli motor mahalan. Cicil 5 tahun kalau gak salah ya. Aku sih mikirnya sayang aja. 5 tahun nyicil pasti harga motornya jadi mahal banget ketimbang beli cash. Tapi yaaa gak tau juga lah pertimbangan dia beli motor mahal, nyicil 5 tahun pula. 😀

  5. Rugi sih emang kalo kudu ngredit, nah karena alasan inilah akhirnya yang membuat saya enggan kredit dan akhirnya tak punya2 motor hingga sekarang :-p *maklum anak ekonomi, kebanyakan terlalu perhitungan *katatemen

  6. Analisis yang cermat, Mas. Tapi, mungkin akan berbeda hasilnya jika tujuan beli mobil bukan hanya untuk gaya hidup, tapi mobil tersebut ‘dikaryakan’ lagi, katakanlah untuk armada antar jemput dan semacamnya. Barangkali… 🙂

  7. Teman saya ada yang sanggung beli CRV cash tapi memutuskan untuk beli kredit 3 tahun. Alasannya untuk menjaga cash flow dan uangnya bisa dialokasikan kebutuhan yang lain. Bagaimana menurut Mas Galih? Apakah mungkin bijak secara kredit tapi ada persentase DP dan jangka waktu cicilan yang baik?

  8. Ini lah resiko berbisnis diindonesia Jika mobil mewah/mahal digunakan utk modus meyakinkan calon rekan bisnis/buyer, mobil second harga under 70 jt msh nyaman kok, kecuali zona nyaman ada pada gengsi yah mau gmn lg, saya setuju dengan mas galih…ini jelas perhitungan yg hrs dipertimbangkan oleh calon pembeli…jika blh usul utk yg kredit, usahakan cicilan gak lebih dr 30 % dr total gaji/pendapatan rutin perbulan, salam

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *