Welcoming the New Mac Book Pro 2011

Bismillah. Akhirnya notebook saya HP Compaq Presario V3660 telah purna tugas untuk menemani saya setelah empat tahun mencangkul. Kalau dihitung-hitung hasil cangkulan bersama laptop ini mungkin sudah berkali-kali lipat dari harganya sendiri — project Depkominfo, beberapa task force, beberapa proyek motret, dll. Alhamdulillah.

Sebenarnya kinerjanya masih cukup prima, dengan prosesor Core 2 Duo 1,5 GHz, terbaik di zamannya. Sedikit lambat buat bekerja dengan gambar-gambar resolusi besar. Tetapi masih acceptable, saya bahkan berencana untuk memakainya enam bulan sampai setahun ke depan. Hingga akhirnya ada yang berminat untuk membeli laptop saya itu sehingga, mau tidak mau, saya harus mencari gantinya. Programmer tanpa laptop seperti petani tanpa cangkul.

Setelah nyaris jatuh ke Toshiba Portege versi Intel i3, entah ada apa tiba-tiba pilihan berbelok ke MacBook Pro 2011 layar LED Display 13″ berprosesor Intel i5 dengan sistem operasi bawaan Mac OS X Snow Leopard.

Kenapa MacBook Pro?

Hedon? Hei kenapa tidak? Aidil Akbar selalu bilang, financial planning should be fun. Kita tidak harus menjadi pelit ketika keuangan kita tertulis rapi dan selalu patuh anggaran. Saya sudah sejak setahun yang lalu mulai menulis tujuan keuangan dalam jangka pendek salah satunya adalah laptop baru. Dan salah satu impiannya adalah: naik kelas dari yang middle-end ke high-end.

Bukan apa-apa, laptop selama tiga tahun dipakai gila-gilaan saya kuatir tiba-tiba mati. Kan repot kalau belum ada dana buat beli baru. Makanya saya sedikit demi sedikit menganggarkan dana untuk membeli laptop baru.

Bahkan ketika dananya terkumpul pun, saya masih ragu-ragu untuk mengeksekusinya. Buat apa wong laptop sekarang masih bisa dipakai kok. Tapi sering tergoda, pilihan hampir jatuh ke Toshiba Portege prosesor Intel i3 yang 8 jutaan. Yang saya butuhkan adalah sebuah “justifikasi” kuat.

Anyway, akhirnya tereksekusi juga. Semoga berkah dan menjadi cangkul yang baik seperti Compaq saya. Amin.

PS: Thanks to Daniel yang telah menemani menjemput di Click Ambasador. Akhirnya kenalan juga sama pacarnya 😀

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Pengen tau justifikasi mas Galih apa koq akhirnya milih Mac Book Pro dan bukannya laptop-laptop non Mac…

    Seperti kita tau, produk2 Mac harganya aduhai 😀

    1. Pengen dapat pengalaman baru mas. Saya kalau ganti laptop tapi tetap Windows rasanya kok ga ada hepi hepi nya gitu meskipun harganya sama dengan Mac. Jadi kenapa saya butuh upgrade? Dengan begini pengetahuan saya soal sistem operasi akan semakin komplit: Windows, Linux, Solaris, dan akhirnya Mac OS. Lagipula sekarang harga Mac sudah sangat terjangkau dibanding dulu-dulu waktu masih pakai prosesor Motorolla.

  2. wah mantab, selamat bermain2 dengan cangkul barunya pak programmer. kalo saya masih setia dengan DELL lawas, ya mungkin sudah 4 tahunan umurnya.. (ndak pamilier dengan mekbuk sih xixixx…)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *