Memulai Investasi itu Sulit Lho!

Investasi bukan sekedar beli reksadana atau logam mulia lalu menyimpannya. Ini adalah soal kultur dan gaya hidup. From spending lifestyle to investing lifestyle. Dari kecil saya sudah suka menabung, tetapi untuk bisa menjadi investor, itu perlu waktu tersendiri rupanya.

Ketika kita mendapatkan THR, bonus, gaji ke-13, SPM, atau apapun namanya, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Kalau saya sih gadget — notebook baru (Portege atau Macbook Pro), tablet yang lagi tren macam iPad atau Galaxy Tab, upgrade BlackBerry, iPod, netbook. Oh, masih ada lagi. Saya hobi fotografi kan, lensa apa lagi yang saya perlu? Lensa tele cepat bukaan besar, lensa makro 1:1, kamera saku high-end karena saya mulai merasa DMC F3 saya semakin menurun kualitasnya, kamera mirrorless yang lagi tren macam Olympus PEN. Oui, oui, saya juga suka main musik, saya ingin sebuah sound card yang bagus agar bisa nulis aransemen musik dengan nyaman di laptop.

Fiuh… bayangkan kalau semuanya dipenuhi, hahaha…

Tapi berapa banyak dari kita yang memikirkan soal produk investasi dahulu. Top-up reksadana, beli logam mulia sekilo, beli saham, dll. Kapan menikmati hasil kerja keras kalau harus disimpan? Halangan terbesar saya adalah ketidaktegaan melihat nilai investasi yang turun. Duit yang saya peroleh dengan memeras keringat kok ya berkurang nilainya, mendingan dibelikan sesuatu yang bisa dinikmati ketimbang ngenes lihat portofolio yang mengkerut. Lebih baik saya diamkan di tabungan. Aman dan nyaman…

Lalu kemauan untuk menyisihkan dari penghasilan. Ini adalah bagian tersulit bagi sebagian besar orang. Dan jangan harap ketika penghasilan naik, pengeluaran tidak naik. Adaaaa saja yang membuat jumlah pengeluaran itu ikutan naik (buktikan sendiri dengan mencoba mencatat pengeluaran secara rutin). Saya pernah ngecek kenapa pengeluaran saya lebih besar dari pengeluaran saya ketika masih fresh graduate dulu. Padahal saya merasa tidak menaikkan lifestyle saya — kos-kosan sama cuma naik 50 ribu, ngantor masih pakai sepeda motor, makan masih di warteg dan kaki lima. Tapi toh saya tetap merasa dulu sama lapangnya dengan yang sekarang.

Inflasi salah satu biang keroknya.

Jadi, menabung dengan aman dan nyaman tetap akan turun nilainya karena inflasi. Jadi, suka tidak suka, kita harus mengubah tabungan dengan sesuatu yang lebih berisiko. Sesuatu yang berpotensi mengalahkan inflasi, syukur-syukur kalau bisa menghasilkan yang lebih besar lagi. Berpotensi berarti tidak pasti bisa mengalahkan inflasi, bisa jadi kalah banyak, hahaha…

Contoh. Tabungan — bunga sekitar 2% setahun, dipotong biaya ATM, ini itu, pajak, dua persen itu akan habis. Dihajar inflasi 7% — maka uang kita akan hilang 7% setiap tahunnya. Deposito — bunga sekitar 5%, dipotong pajak, mungkin bersih sekitar 4% setahn. Dijahar inflasi 7%, maka laju merosotnya nilai uang kita adalah 3% setahun. Saham — potensi return 20 – 1000 persen setahunnya. Risikonya, hilang tak bersisa.

Produk mana yang bisa dipilih, semua tergantung bagaimana sikap Anda terhadap risiko. Mengenal profil risiko juga tidak mudah. Tidak langsung serta merta bilang, “Saya adalah investor konservatif, jadi saya pilih deposito!” Itu hanya bisa dikenali dengan mengubah lifestyle, dari spending menjadi investing. Saya perlu waktu dua tahun mempelajari reksadana, emas, dan saham. Saya baru berani beli saham di awal tahun ketiga, beli reksadana di bulan keenam setelah saham, dan beli emas di bulan kesebelas. Makanya saya perlu merayakan diri ketika itu — beli jam tangan setelah beli saham untuk pertama kalinya. Hehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. haha.. mantab juga bang sekali gaji ke-13 bisa nyikat sekian banyak gejet..

    invest memang masalah gaya hidup kok. jangankan invest, sekedar nabung aja mungkin susah hwkwkw..

  2. wah lum pernah dpt gaji ke13,msh merintis gaji pertama sendiri dulu hehehe. mengenai investasi, memang kadang2 pilihan bergantung kondisi dan keterbatasan, formula umumnya disesuaikn dgn diri pribadi msg2 😀

  3. tabungan bukan untuk investasi, hanya sekedar menyimpan uang, saya lebih senang investasi sodaqoh atau investasi kebaikan

  4. Rasullulah SAW bersabda: “Barang siapa merutinkan membaca istighfar, niscaya Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dari setiap kesulitan, jalan keluar dari kesempitan, dan memberikan rezeki dari yang tidak disangka-sangka”

Leave a Reply to Galih Satria Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *