Memotret Keseharian

Salah satu alasan saya berhenti aktif dari Fotografer.net dan situs forum kamera serupa beberapa tahun yang lalu adalah karena saya bosan dengan style fotografi yang begitu-begitu saja. Olah digital yang berat ibarat wajah cewek cantik pergi ke kondangan — dempulnya semeter. Jadi meskipun fotonya sebenarnya cakep, tapi oldig membuatnya jadi menor dan membosankan.

Lalu seolah-olah fotografi itu sesuatu yang sangat serius. Harus dengan heavy equipment, konsep matang, metering cahaya yang terukur, dan akhirnya eksekusi yang sempurna. Saya mencoba melakukannya ketika membuat project essay. Hasil fotonya memang bagus, dilihat indah, tetapi apa iya fotografi hanya seperti itu? Fotografi seharusnya fun dan bisa juga dibawa tidak serius.

Saya suka foto-foto once upon a time yang merekam sebuah kejadian keseharian dengan apa adanya. Mungkin secara konsep fotografi sekolahan foto itu tidak bagus — penuh noise, ngeblur, komposisi kacau, dsb. Tapi isinya yang dibuat dengan spontan dan apa adanya menurut saya adalah sebuah seni tersendiri. Contoh: suasana sore di sebuah gang sempit di Depok, angkot yang sedang ngetem di depan stasiun Wonokromo, ayam sedang diberi makan di lereng gunung Wilis, seorang santri sedang turun dari masjid di pesantren Tebu Ireng, seorang ayah sedang menggendong anaknya di rumah kayu di tepi hutan Kalimantan, dsb.

Sesuatu yang biasa bagi setiap orang yang menjalani rutinitas, tapi jadi spesial bagi orang di belahan bumi berbeda yang mengalami suasana berbeda. Bagi saya, asap kopaja, kemacetan di jam pulang kantor adalah pemandangan yang menyesakkan dan bikin mata sepet; tetapi mungkin buat kawan yang di Probolinggo jadi spesial karena tidak pernah melihatnya. Itulah yang saya sebut foto once upon a time, atau pada suatu ketika, atau titi kala mangsa.

Karena yang penting adalah objeknya, maka hasil dan kualitas foto jadi nomor dua. Spontan dan fun. Alat jadi tak terbatas harus kamera-kamera mahal, bisa jadi kamera saku (Lumix F3 saya harganya dibawah sejuta), atau kamera ponsel.

Jangan pernah mikir konsep. Jepret! Jepret! Jepret. Lalu upload. Saya sarankan jangan diupload ke jejaring sosial macam Twitter atau Facebook karena foto di Twitter tidak tahan lama dan Facebook tidak tersusun secara kronologis. Konsistenlah, dan lihat apa yang terjadi… (MTGW banged).

Contoh yang bagus tentu saja fotoblog favorit saya: Oh! dan Memo. Meskipun bukan once upon a time  dan lebih ke citizen photo jurnalism (maksudnya berkonsep dan kadang-kadang serius banget), tapi dua blog itu bisa jadi inspirasi. Contoh lain, Mas Fahmi yang konsisten dengan Weekly Photo Challenge-nya. Meskipun fokusnya lebih ke pembuatan konsep yang kreatif (maklum, ilmunya sudah di level berbeda), tapi juga bisa sebagai inspirasi.

Saya sedang memulai project foto once upon a time ini di sesi blogging post di foto.galihsatria.com. Update kategori ini tidak akan terlihat di halaman depan karena sudah terlanjur dipakai foto-foto yang lebih (sok) serius. Ini akan terlihat di feed-nya atau langsung di alamat ini. Pokoknya konsepnya: gak pake mikir, gak pake konsep, gak pake teknik, jepret, jepret, jepret!

Published
Categorized as Fotografi

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 comments

  1. whuahhh… dimention disini, hehe, makasih untuk trafficnya 🙂 btw aku ikut weekly photo challenge itu memang sengaja memaksa mikir kreatif. kalo jepretan santai yg once upon a time aku punya http://unessentials.efahmi.info juga, kebanyakan isinya dari jepretan kamera henfon, yg langsung diupload seketika.

  2. saya lebih suka jepretan-jepretan seperti yang sampeyan ceritakan itu cak.. kalo udah ndakik-ndakik dengan metode maupun peralatan malah males, apalagi udah kena yang namanya oldig, betul, seperti tante2 mau pergi ke arisan! hwkwkwkw

  3. Betul, sering kali motret secara spontan itu lebih bisa dinikmati oleh sejumlah orang. Selain karena tidak perlu persiapan ekstra juga karena alat yang dibawa cukup kamera saja alias anti ribet. Intinya, praktis.

  4. Setuju om, saya pikir fotografi itu bagian dari seni, jadi jangan terlalu dikungkung oleh keharusan, teori dan perhitungan yang terlalu njelimet nanti malah kehilangan ekspresinya ^_^

Leave a Reply to Fenty Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *