Nerimo Ing Pandum

Saya orang Jawa dan dibesarkan oleh keluarga Jawa. Salah satu nilai yang tertanam di diri saya adalah falsafah Jawa “nerimo ing pandum”, atau kurang lebih berarti selalu mensyukuri apa yang telah didapatkan. Falsafah ini mengajarkan untuk hidup sederhana, tidak berlebihan, dan yang paling penting mensyukuri apa yang telah diberikan.

Jika dibandingkan dengan kehidupan dunia kerja Jakarta, sering saya diolok-olok begini, “ini termasuk anak lulusan universitas x yang terkenal ga bisa negosiasi dan menghargai diri sendiri”. Memang benar, saya dulu mulai bekerja sebagai fresh grad dengan ukuran salary yang tidak terlalu besar. Bahkan dalam perkembangannya pun, kenaikannya mungkin tidak setinggi kawan-kawan yang bisa “membungkus” diri dalam balutan kinerja kinclong sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi.

Selain tidak bisa “menjual”, saya lebih berpegang pada nilai “nerimo ing pandum” tadi. Buat apa minta banyak-banyak? Toh segini juga sudah lebih dari cukup untuk hidup sederhana dan layak. Untungnya saya lebih suka membaca buku di rumah ketimbang jalan ke mal menonton film terbaru. Saya juga lebih suka sepedahan Jakarta-Depok PP daripada naik sepeda di fitness center. Saya anggap itu kemujuran karena saya yakin akan ada banyak sekali pos gaya hidup yang bisa dipangkas. Sehingga, dengan pendapatan yang tidak terlalu besar tadi, saya sudah bisa hidup dengan layak dan sambil berinvestasi.

Masalahnya kadang-kadang orang terlalu melihat ke atas dan membandingkannya dengan orang lain. Dengan achievement yang sama, kenapa si A lebih tinggi gajinya ketimbang saya? Kadang-kadang kita hanya melihat kulit-kulitnya saja yang terlihat glamor. Padahal rezeki orang berbeda-beda. Saya yang secara skill lebih pandai daripada Anda bisa jadi salary saya cuma setengah Anda dan tempat kerja saya berukuran seperempat tempat kerja Anda.

Akan lebih tenteram dan bahagia rasanya jika kita mencoba memandang ke bawah. Bahwa ternyata masih banyak yang tidak seberuntung saya. Bahwa ternyata saya bisa hidup dengan gaya hidup seperti ini dimana masih banyak yang masih gali lubang tutup lubang. Bahwa ternyata saya masih bisa makan enak, mau nonton kapan saja kalau mau (masalahnya ga suka nonton eeee), dan sebagainya. Tidak semua hal harus diukur dengan uang. Uang memang bisa membeli banyak hal yang bisa membuat bahagia, tetapi kebahagiaan itu intinya justru dari dalam hati, lebih tentang bagaimana menyikapi keadaan dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Ini bukan berarti tidak ada keinginan untuk maju merangkak naik ke posisi yang lebih tinggi. Saya akan lebih suka mengerjakan dua kali lebih besar daripada yang telah saya terima ketimbang saya dibayar terlalu tinggi padahal tidak ada hal besar yang telah saya lakukan. Buat saya, penghargaan atas apa yang saya kerjakan tidak harus melulu diukur dengan uang. Tetapi tentang besar tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya, itu saya anggap sebuah achievement juga. Ketika saya dipercaya memegang sebuah tanggung jawab yang strategis, itu saya anggap achievement yang besar. Karena ketika saya harus meninggalkan posisi tersebut, saya bisa melihat banyak hal yang telah saya letakkan dan kerjakan. Dan ketimbang berjibaku membungkusnya untuk menaikkan posisi tawar, saya lebih suka atasan-atasan saya menyadari bahwa saya harus dihargai lebih.

Sebuah catatan sore untuk pengingat diri sendiri.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. Hmmm… Rasanya aku pernah nulis status di FB seperti ini :
    “Untuk bersyukur, lihat ke bawah. Untuk menjadi pribadi yg lebih maju, lihat ke atas.”
    Jd mau lihat ke bawah atau ke atas sih tergantung tujuannya. ;P

  2. Ah ya, saya sendiri masih sering dibanding-bandingin dengan orang lain, kenapa saya sekarang masih bergaji kurang (baca: sekarang malah nggak bergaji!), kenapa saya belum beli mobil, kenapa saya belum mau punya suami, dan lain-lain..

    Orang kadang-kadang berkata begitu karena mereka mengganggap begitulah standar mereka, padahal menurut saya standar saya nggak begitu.
    Saya nggak bergaji karena saya milih sekolah. Saya milih sekolah sekarang karena saya mau suatu hari nanti bisa mendapatkan materi yang lebih banyak daripada hari ini, dan pada hari itu insya Allah materi saya akan lebih banyak daripada orang yang sekarang materinya lebih banyak dari saya..
    Saya belum beli mobil karena toh sekolah saya sekarang persis di depan apartemen saya, saya tinggal nyeberang jalan doang, jadi ngapain saya beli mobil? Boros bensin aja..
    Saya belum punya suami karena saya anggap sekolah saat ini hanya akan mengganggu pernikahan saya; lebih baik menikah nanti saat sekolah saya sudah lebih stabil. Toh biarpun saya nggak menikah sekarang, tapi saat ini kehidupan seksual saya memuaskan.. #eiyaaaa…

    Yang penting bersyukur akan apa yang kita miliki sekarang, nggak usah ribut kenapa orang lain nggak memiliki apa yang kita miliki. Saat cara pandang kita menilai bahwa orang lain kurang baik daripada kita, belum tentu Tuhan berpendapat hal yang sama..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *