Mengendalikan Pengeluaran

Ada dua komponen penting dalam hal cashflow, yaitu pendapatan (income) dan pengeluaran (expense). Kecuali jika kita adalah enterpreneour alias wirausaha atao wiraswasta a.k.a business person, komponen pendapatan adalah variabel tetap yang tidak bisa atau sukar untuk diubah-ubah. Seorang karyawan yang bergaji Rp. 3,150,000 setiap bulan akan mendapatkan pendapatan sebanyak itu juga setiap bulan.

Sebaliknya dengan pengeluaran, ini adalah variabel bebas yang kendalinya ada di tangan masing-masing orang. Ini sangat erat kaitannya dengan spending habits dan gaya hidup. Jadi dalam perencanaan keuangan, mengatur pengeluaran menjadi prioritas utama karena ini erat kaitannya dengan kesehatan keuangan, dan akhirnya kemampuan untuk melakukan investasi.

Belum tentu orang dengan gaji yang lebih besar memiliki kemampuan investasi yang lebih besar pula. Gaya hidup orang kan beda-beda. Orang yang bergaji tiga juta katakanlah bisa saving 10% dari penghasilan, berarti Rp. 300,000. Apakah orang yang bergaji sepuluh juta bisa saving sejuta? Belum tentu. Apa iya orang bergaji 10 juta kemana-mana tidak pakai mobil, rela naik metromini? Tentu ia akan merasa layak untuk menghargai dirinya dengan memiliki (mencicil) mobil, naik taksi ketimbang kopaja, makan di restoran di mall mewah seminggu sekali, nge-gym di Fitness First tiga kali seminggu, karaokean dengan kawan-kawan di akhir pekan, dan seterusnya. Dari situ saja, bisa jadi pengeluarannya ngepas 10 juta, bisa jadi lebih atau defisit anggaran.

Untuk bisa mengatur keuangan, sebelum kesana, kita perlu menyadari dulu dimanakah posisi gaya hidup kita. Setelah sadar perlunya menempatkan diri, baru berusaha mengubah kebiasaan. Ini akan luar biasa susah. Ada teman saya yang tersenyum meremehkan ketika saya menabung beli saham Semen Gresik satu lot dan mengetahui besoknya nilainya jatuh hingga 10%. Ia berkata, “kita beda sih…” sambil memainkan jari-jarinya di atas iPad 2-nya yang berkilau.

Iya sih, beli saham atau reksadana tidak akan senikmat beli iPad. Bahkan mungkin menyakitkan karena setelah itu nilainya bergejolak naik turun. Perlu perubahan mental yang cukup radikal untuk mengubah kebiasaan dari spending ke investing. Saya butuh waktu setahun lebih. Sebelum itu prinsip saya, apa yang bisa dinikmati sekarang ya dinikmati sebagai penghargaan terhadap kerja keras. Besok belum tentu bisa.

Jadi buat saya, untuk mengendalikan pengeluaran, sadari dulu letak gaya hidup kita dimana. Jika merasa terlalu berlebihan, mari berusaha membuatnya normal.

Patokannya, ada tiga macam kebutuhan: need, want, desire. Makan adalah kebutuhan (need). Makan nasi uduk lengkap dengan daging ayam adalah keinginan (want). Makan di restoran hotel Mulia jelas adalah desire. Meng-upgrade notebook adalah keinginan. Meng-upgrade notebook menjadi Macbook Pro adalah desire (heleh, kalo ini mah curcol hahaha).

Dengan menekan pengeluaran hingga batas normal (artinya juga tidak pelit-pelit amat sehingga kita sendiri menderita), porsi untuk investasi akan semakin besar. Dan juga cashflow kita akan semakin sehat.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. nah nah nah… ada cara sederhana untuk invest, atau setidaknya saving, yaitu: menabung dulu, baru sisanya dibelanjakan..

    cara simpelnya gini: setiap gajian (bagi orang gajian) atau tiap dapat bathi (bagi yang gak jelas kayak saya) segera belikan 1 koin dinar (sekitar 2 koma sekian juta) nah kalo dirasa sisanya masih banyak, ya jangan hanya beli 1, tapi 2, 3, 10 atau lebih banyak lagi, baru sisanya dibelanjakan buat ini dan itu yang menjadi hasrat kita..

    insya alloh gak terasa tiba2 sudah punya 100 koin dinar.. alhamdulillah…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *