Pasar Modal, Haram atau Halal?

Tahun 2011 mungkin akan saya canangkan sebagai tonggak awal saya mulai berinvestasi. Tahun mulai merencanakan keuangan dengan baik dan yang paling penting mengubah gaya hidup spending menjadi gaya hidup investing. Antara lain berinvestasi di pasar modal.

Pertanyaan kemudian adalah, halal kah transaksi saham di pasar modal itu?

Anda boleh punya pendapat tersendiri, tapi menurut saya, pasar modal itu boleh dengan syarat-syarat tertentu. Saya mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN – MUI) No. 80/DSN-MUI/III/2011. Secara garis besar, transaksi saham di bursa efek diperbolehkan, dengan syarat-syarat khusus, antara lain:

  • Tidak mengandung unsur judi atau spekulasi.
  • Transaksi tidak menggunakan margin trading.
    Pada umumnya, broker pasar modal kita membolehkan kita untuk bertransaksi melebihi modal yang kita punya. Misalnya modal kita adalah 25 juta, kita bisa bertransaksi hingga 100 juta. Gratis? Tentu tidak, ada bunga yang dikenakan di setiap margin yang kita pakai.
  • Transaksi tidak dengan short selling.
    Short adalah menjual saham tanpa harus memiliki sahamnya terlebih dahulu. Ini dilakukan ketika harga tinggi. Saham ini akan diganti dengan membeli segera di waktu lain — harapannya tentu ketika di harga rendah. Di BEI, transaksi short memang tidak diperbolehkan.
  • Tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai prinsip syariah dalam perdagangan seperti cornering, insider trading, wash sale, dll.

Spekulasi = Judi?

Poin pertama, yaitu tidak mengandung unsur judi atau spekulasi tentu sangat debatable. Ada yang bilang yang namanya trading itu ya spekulasi, sehingga otomatis judi.

Menurut saya, trading saham, mungkin memang spekulasi, tetapi tidak otomatis menjadi judi. Karena kontrol jual dan beli tetap ada di trader. Keputusan beli dan jual (meskipun rugi) tetap di trader. Dan kalau tidak mau rugi, hold saja saham itu selamanya dan sang trader akan jadi investor dadakan. Seperti orang jualan cabe di pasar, bisa untung, bisa pula rugi.

Lain halnya dengan trading forex (foreign exchange) misalnya. Ini saya anggap judi karena ada margin call, yaitu penjualan secara paksa karena account Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk menutupi posisi Anda yang merugi. Trader tidak memiliki kekuasaan terhadap modalnya ketika harga melewati margin level. Ini murni spekulasi. Di saham, Anda bisa memiliki saham dalam posisi merugi, bahkan hingga nilai saham Anda di titik terendah sekalipun. Tidak akan ada margin call.

Transaksi trading yang saya anggap judi lainnya adalah trading indeks. Ini adalah perdagangan berdasarkan indeks, misalnya indeks komoditas, atau indeks IHSG sendiri. Apa barang yang diperjualbelikan? Tidak ada. Misalnya, Anda beli sejumlah unit transaksi di level indeks 300. Anda akan untung jika indeks bergerak naik di 400.

Saham berbeda dengan indeks karena saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan publik. Salah satu fasilitas investor terhadap kepemilikan ini adalah penerimaan dividen. Dan kepemilikan inilah yang diperjualbelikan di pasar sekunder di bursa efek.

Jadi perdagangan di bursa tidak melulu saham saja, ada banyak sekali jenis-jenis perdagangan mulai dari saham hingga derivatif (turunan)-nya. Hingga saat ini, yang sudah difatwakan DSN-MUI adalah transaksi saham.

Demikian, semoga bermanfaat.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. Kalau kapan hari ngomong sama trader Forex yang insaf, dia menganggap forex itu judi karena 2 faktor: Unsur peluang dan unsur zero-sum game.

    Unsur peluang ya karena meski secara fundamental bisa diprediksi tapi teknis minutes by minute nggak bisa kita memprediksi pergerakan nilai tukar.

    Unsur zero sum artinya kalau kita untung, maka akan ada yang rugi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *