Mencatat Cash Flow Harian

Hal yang pertama kali perlu dilakukan dalam manajemen keuangan pribadi adalah mencatat aliran uang yang keluar masuk dari kantong kita. Bukankah kita sering merasa aneh ketika di ATM, kok tiba-tiba saja uang yang baru saja diambil ludes begitu cepatnya. Dan parahnya kita sering tidak ingat kemana saja uang itu pergi.

Jika kita ingin merencanakan keuangan, maka mengetahui kondisi keuangan kita adalah hal yang menjadi masuk akal harus dilakukan. Seberapa kaya sih saya ini? Atau, seberapa miskin sih saya ini? Mengapa gaji saya kurang? Apakah saya ini besar pasak daripada tiang? Sudah cukup kah saya menabung? Apa saya ini termasuk boros? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan bisa dijawab jika kita tidak memotret dan menyimpannya dalam sebuah sistem yang teratur.

Cuma memang, mencatat kondisi keuangan butuh komitmen dan ketelatenan yang tinggi. Kalau sekadar mencatat harta dan hutang yang dimiliki, itu cukup mudah, tetapi yang sulit adalah menelusuri pengeluaran harian yang bermacam-macam. Tetapi lagi-lagi ini penting untuk mengetahui pola pengeluaran kita. Jadi, jika Anda ingin memiliki sebuah rencana keuangan sendiri, hal pertama yang Anda harus lakukan adalah mencatat semua hal yang berhubungan dengan keuangan pribadi … setiap hari!

Eh, mungkin saya yang berlebihan, tetapi sebenarnya semakin pendek rentang waktu kita bertransaksi dengan pencatatannya, kita bisa meminimalisir transaksi hantu yang lupa dicatat.

Saya biasa mencatatnya di notes Blackberry sebelum memindahkannya ke sistem yang saya punya. Beberapa saat atau beberapa jam setelah transaksi — paling lambat dua hari setelah itu, saya catat itu di notes tersebut. Kemudian setiap minggu saya memasukkannya ke dalam sistem dan mereview kondisi keuangan saya. Apakah sudah terlalu boros sehingga overbudget atau ada transaksi-transaksi impulsif yang tidak terencana yang nyelonong masuk? Dengan mereview begitu, kita tetap bisa update dengan kondisi keuangan dan menyesuaikannya.

Jika cara begitu masih terlalu memberatkan, kita bisa mulai dengan cara mengira-ngira dan mengingat-ingat apa yang telah kita keluarkan selama seminggu. Tapi please jangan lebih dari seminggu agar masih terjaga keakuratannya. Misalnya, saya makan sehari tiga kali, sehari rata-rata habis Rp. 30,000, maka pengeluaran saya adalah 7 * Rp. 30,000 menjadi Rp. 210,000 seminggu. Dengan demikian, setiap minggu Anda cukup mencatat pengeluaran-pengeluaran besar saja. Jika Anda memiliki passion, maka saya pikir pekerjaan ini menjadi menyenangkan dan timeframe-nya jadi akan semakin pendek sehingga semakin akurat.

Tools

Sekarang jaman teknologi, sehingga saya pikir tidak relevan dan tidak asik lagi kalau tidak memakai komputer dalam me-manage keuangan kita. Saya tidak merekomendasikan Microsot Excel, meskipun umum dipakai, karena ribet dan tidak menyenangkan. Kita tidak bisa langsung menarik dan meng-generate laporan keuangan tiap bulan dengan Excel. Terlalu banyak hal yang harus dihitung manual, yang mana itu jadi tidak menyenangkan lagi.

Saya juga tidak merekomendasikan alat pencatat online, meskipun sepertinya lebih simpel karena langsung masuk sistem, ini akan membuat kita akan sangat tergantung dengan koneksi internet. Saya lebih suka melakukannya secara offline saja, dan mencatat pengeluaran setiap habis bertransaksi dengan notes di ponsel.

Dalam mencatat keuangan pribadi, saya memakai tools open source dan berlisensi GPL yaitu: GNU Cash. Harus diakui, bagi orang awam, tools ini mungkin akan terkesan terlalu accounting karena pada dasarnya software ini memang software akunting. Tapi buat saya, ada dua manfaat sekaligus dengan menggunakan software ini, yaitu:

  • GNU Cash tidak hanya menangani cash flow saja, tetapi mulai dari aset, hutang, hingga investasi.
  • Kita juga bisa belajar akuntansi dengan mudah, karena GNU Cash akan mengantarkan kita kepada akuntansi dengan cara yang mudah. Di sini tidak ada istilah Debet dan Credit, tetapi decrease, increase, withdrawal, expense, dll. Dengan istilah-istilah tersebut kita tidak khawatir akan salah memasukkan di kolom Debet atau Credit.
  • Belajar akuntansi dengan studi kasus keuangan sendiri? Tidakkah ini menyenangkan? Sebenarnya inilah passion saya dalam mencatat keuangan harian, karena saya bisa belajar akuntansi secara live dan langsung terasa manfaatnya.

Oke, mari saya kasih tunjuk salah satu screenshot-nya:

Ini adalah grafik tentang pengeluaran dari bulan ke bulan. Di sana terlihat bahwa saya harus mengeluarkan jumlah yang cukup besar setiap empat bulan sekali untuk bayar sekolah. Dari sini kita bisa tahu pengeluaran apa yang ternyata terjadi secara rutin padahal nggak penting-penting amat, misalnya gadget. Setelah tahu laporan ini, tentu saja kita bisa menentukan action plan berikutnya.

Masih ada beberapa laporan yang bermanfaat seperti net worth (apakah gaji kita bersisa atau kurang di setiap bulannya), laporan cash flow, hingga yang advanced seperti laporan perkembangan portofolio investasi kita.

Setelah ini, saya akan bahas bagaimana membuat sebuah perencanaan keuangan sendiri dengan menggunakan tools GNU Cash ini. Untuk membuat laporan seperti di atas, kita akan membuat beberapa account dan mencatat cash flow kita di sana. Jika Anda ingin memiliki sendiri Financial Book Planning Anda, silakan download dulu software tersebut di link di bawah ini:

GNU Cash Download Page

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Nyicil kredit itu bukan expense, melainkan asset(cash/bank) pada accounts payable.
    Expense-nya adalah barang pada saat didapatkan, sehingga pembeliannya adalah accounts payable pada expense.
    Bunga dari kreditnya adalah interest expense.
    Untuk sepeda motor, harusnya bukan expense, tapi asset, dimana nanti ada periodically depreciation expense.

  2. Accounting sekali pak ableh, hihihihi.
    Setuju, tapi dalam hal ini nyicil kredit sepeda motor ini tidak akan tercatat menjadi asset, jadi jatuh-jatuhnya di expense. Hanya penamaan pribadi saja. 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *