Ketika Merokok Menjadi Kebutuhan Pokok

Ketika orang mulai menghisap rokok untuk pertama kalinya, saat itu juga lah ia meneken kontrak selamanya dengan pabrik rokok. Karena nyatanya tidak banyak orang berhasil berhenti merokok. Saya tidak merokok karena bagi saya banyak alasan untuk tidak merokok, misalnya:

  • Saya merasa cukup berpendidikan untuk mengerti bahwa rokok itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Begini saja sudah banyak diancam oleh penyakit-penyakit menakutkan macam darah tinggi, jantung, atau kolesterol. Apalagi jika merokok.
  • Saya tidak ingin diperbudak oleh rokok.
  • Saya tidak terlalu respek kepada para perokok karena mereka adalah kaum egois sedunia — merokok di tempat umum, asap yang membuat nafas sesak, dan bau yang menempel di baju.
  • Saya tidak ingin menambah pengeluaran rutin bulanan.

Nah, soal expense ini, saya sebenarnya sangat prihatin ketika tahu bahwa mayoritas orang Indonesia merokok. Paling tidak, sebulan orang harus keluar uang sekitar Rp. 200 ribu sampai Rp. 400 ribu. Saya tidak prihatin kepada para kelas ekonomi menengah karena bagi mereka duit segitu adalah receh. Tetapi bagi kaum kelas ekonomi menengah ke bawah, uang segitu menjadi major expenses bagi cashflow bulanan mereka.

Seorang buruh pabrik rokok digaji sebulan sejuta misalnya, uang seratus ribu pun menjadi 10%. Sepuluh persen untuk rokok buat saya tidak masuk akal. Jika uang itu diinvestasikan di produk reksadana saham, dalam lima tahun saja, seratus ribu per bulan akan menjadi Rp. 13 juta! Tiga belas kali lipat penghasilan buruh pabrik itu. Dengan uang segitu, ia bisa melakukan pembelian besar (major acquisition) misalnya beli sepeda motor. Itu jika dia tidak merokok.

Permasalahannya adalah, tidak ada edukasi yang bisa menjelaskan secara mudah dan simpel bahwa uang seratus ribu pun bisa menjelma menjadi berkali-kali lipat. Uang seratus ribu menjadi terlihat kecil dan apalagi jika dikeluarkan setiap hari untuk membeli rokok. Hanya tiga ribu perak! Receh buat sebagian besar orang! Selain financial planner itu mahal, acara financial planning di tivi juga bukan buat segmen menengah ke bawah. Mereka akan jauh lebih memilih melihat sinetron Puteri yang Ditukar.

Permasalahannya adalah, rokok telah menjadi kebutuhan pokok karena kontrak telah diteken sejak orang duduk di bangku SMP atau SMA. Rokok adalah lambang pergaulan. Laki-laki biasa mengakrabkan diri dengan laki-laki lain dengan merokok bersama. Jika salah satu orang saja tidak merokok, jadinya aneh. Kurang akrab. Seperti sayur tanpa garam.

Permasalahannya adalah, rokok adalah lambang kejantanan. Meskipun setiap orang tahu iklan-iklan itu dibuat berlebihan, tetapi pesan yang diulang-ulang akan meresap ke alam bawah sadar. Laki-laki yang merokok adalah jantan, seorang petarung hidup sejati yang biasa menempuh risiko dan menjadi pahlawan. Dan saya tentu saja bukanlah seorang yang jantan ataupun yang gaul karena tidak merokok.

Entahlah.

PS: Ayah saya seorang perokok berat dan sampai sekarang saya masih heran bagaimana cara beliau mendoktrin saya untuk tidak merokok ketika saya melewati usia-usia yang kritis saat remaja. Padahal role model idola terbaik saya jelas merokok. Rokok favorit beliau saat itu adalah Bentoel Biru seharga Rp. 550. Sekarang favoritnya Gudang Garam Surya 12. Mungkin saya memang anak rumahan, entah, don’t know…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. Ramadhan lalu di masjid Al Azhar, seorang penceramah mengatakan, seorang perokok mampu bertahan puasa dari waktu subuh hingga magrib, padahal biasanya kalo hari2 kerja rokok tidak bisa lepas dari mulutnya katanya tidak bisa bekerja maksimal kalo tidak merokok. Nah ternyata puasa mampu menahan dirinya utk tidak merokok selama 12 jam. Jadi merokok seperti halnya makan, sebuah nafsu yang bisa dikendalikan juga. 🙂

  2. Iya Lih, kamu emang terlihat anak rumahan 😀

    Saya menghargai setiap pilihan laki-laki (bahkan perempuan sekarang ya) yang merokok, asal mereka juga menghargai setiap orang yang tidak merokok, apalagi kalo deket anak-anak. Mohon merokok pada tempatnya 🙂

  3. ayo mbak mbak, adek adek cewek, ibu-ibu yg masih punya anak gadis … ini ada calon yg tepat. udah pinter, s2, kerja di oil n gas dan pastinya tidak merokok … kurang apalagi coba 😀

  4. bapak saya juga perokok berat, artinya ketika matanya melek, hampir selalu merokok. pada suatu kali beliau bilang gini:

    ngko nek wes rabi gak usah ditunda-tunda le, bapak wes pengen nggendong putune dewe, moso bendino nggendongi putune wong karo nggendongi kucing-kucingmu kui

    jawaban saya singkat:

    eman-eman pak putune njenengan gendong, mambu rokok!

    dan sejak itulah bapak saya berhenti merokok total. sudah sekitar 6 bulan

  5. Sebungkus rokok harganya 10ribu-an… mahal sekali.
    Kalau ditotal, jumlah sebulan untuk konsumsi rokok bisa banyak sekali. Boros. 🙁

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *