Catatan Penghujung Ramadhan

Saya sudah mudik di malam 26 Ramadhan menggunakan kereta api Bima jurusan Surabaya, namun saya turun di Kertosono. Sejak di rumah jumlah ibadah saya harus diakui menurun drastis karena memang atmosfernya berbeda. Di Jakarta lebih banyak waktu untuk merenung dan melihat kedalaman diri.

Karena rumah ada di lingkungan langgar NU, saya akhirnya tarawih dengan versi 23 rakaat — sesuatu yang selalu saya hindari kalau di Jakarta. Bukan apa-apa, karena saya ingin lebih khusyuk dengan jumlah rakaat yang lebih pendek tapi dengan ritme yang jauh lebih panjang.

Di langgar sebelah, sholat Isya’ dimulai pukul 18:50, dan segala rangkaian sholat tarawih dan witir selesai pada pukul 19:30. Setiap jeda rakaat keempat, jamaah menyeru sahabat-sahabat nabi mulai Abu Bakar Shiddiq ra, Ustman bin Affan ra, Umar bin Khattab ra, dan Ali bin Abi Thalib khw dengan gegap gempita.

Setiap malam ganjil, selalu ada acara selamatan/shodaqohan kecil dimana secara bergiliran jamaah membawa makanan untuk dibagi-bagi. Seringkali, urusan ini saja bisa menjadi “perang dingin” antar tetangga untuk saling bersaing — menunjukkan siapa yang lebih makmur dan kaya. Ya tidak bisa dihindari kalau hal yang begini selalu diperbandingkan orang, keluarga A menyajikan ini itu yang lebih enak dan mewah daripada keluarga B, hehe..

Lebaran memang akhirnya tidak serempak. Pemerintah memutuskan untuk menggenapkan puasa menjadi 30 hari karena hilal belum cukup umur. Suatu hal yang sebenarnya biasa dari tahun ke tahun, tetapi rupanya ribut-ributnya juga masih saja ada. Berbagai lelucon dan cemoohan ke pemerintah tersebar melalui Twitter dan BBM. Kalau melihat message yang berseliweran, nampaknya kita umat muslim Indonesia masih lebih mementingkan hal-hal yang bersifat tradisi dan seremonial seperti opor ayam dan kapan lebaran. Bukan hal-hal yang lebih mendalam seperti bertakbir, bertahmid, dan lagi-lagi: merenung dan berinstrospeksi apakah ramadhan tahun ini membawa kesan yang khusus atau hanya sekadar tradisi kebudayaan tahunan sebagai muslim Indonesia.

Demikianlah, dengan berat hati saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada Ramadhan 1432H, semoga masih diberi karunia umur dan kesehatan untuk berjumpa Ramadhan berikutnya dalam kondisi lebih mapan dan lebih baik lagi. Tetapi juga saya dengan penuh syukur menyambut malam takbiran tanggal 1 Syawal 1432H, malam kemenangan, malam Idul Fitri. Hari ketika dengan izin-Nya umat muslim diampuni segala dosa-dosa yang telah lalu sehingga seakan-akan telah menjadi suci/fitri seperti bayi yang baru dilahirkan.

Dengan segala kerendahan hati saya mengucapkan,
Taqaballahu mina wa mingkum, taqabal ya karim
Mohon maaf atas segala kesalahan, segala salah tulis, baik yang saya sengaja atau lebih-lebih yang tidak saya sengaja.

Wish you Ied Mubarak,
Selamat berhariraya bersama keluarga.
Salam hangat saya selalu,

Galih Satriaji.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. blog yg sangat komplete dan tertulis dalam bahasa yg tertutur rapi, mudah dipahami sekaligus enak dibaca. seneng banget bisa nemuin blog ini

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *