Catatan Minggu Kedua

Malam minggu, 13 Agustus 2011, tiba-tiba saya lapar mata pengen sahur junk food, McDonald atau KFC. Karena tarawihnya di Al-Azhar, saya meluncur ke KFC di Kemang. Saya sempat lupa kalau malam itu adalah malam minggu. Baru sadar waktu masuk ke KFC, saya jadi merasa seperti guru ngaji kampung yang kesasar hehehe…

Tapi momen itu meledakkan sesuatu yang sering saya renungi: yaitu gaya berpacaran anak-anak muda zaman sekarang (emang gimane gaya anak muda jaman sekarang ‘tad?) :p

Kalau anda pernah masuk forum yang sekarang diblok oleh pemerintah (saya sih sering, hehe), maka disitu anda pasti akan surprise jumlah “film” triple x yang diproduksi secara swadaya oleh anak-anak muda itu. Jumlah update per harinya bisa menyamai jumlah produksi yang dilakukan oleh production house profesional macam Vivid Entertainment atau Japan AV Idol.

Padahal, file yang terpublikasi itu hanya karena kecerobohan mereka. Adalah ketidaktahuan bahwa sebuah file ketika dihapus, yang dihapus hanya indeks-nya aja. File fisik-nya masih ada di storage dan bisa di-restore dengan software tertentu. Saya membayangkan hal yang pertama dilakukan penjual HP second adalah me-restore file-file di dalam HP dan mencari video-video seperti ini, hihihi… (Pesan moralnya, jangan pernah merekam adegan porno anda kalo ga mau kesebar di internet) :p

Artinya, ini adalah fenomena gunung es. Dari sampel yang lolos ke ranah publik di internet, bisa diambil kesimpulan sebenarnya gaya pacaran sekarang sudah sangat tidak sehat. Dan ini didukung oleh kondisi bahwa status single terlalu lama itu tidak baik — dianggap tidak laku.

Sesungguhnya zina adalah dosa yang sangat berat. Dan setiap pemuda pemudi muslim diwajibkan untuk menjauhi segala perbuatan yang mengarah kesana, karena tidak akan henti-hentinya setan berbisik. Setan disini bukan sebuah makhluk gaib yang menakutkan, tetapi hakikatnya adalah gejolak alamiah yang lazim muncul. Pemuda muslim yang telah siap sedia bahkan diwajibkan untuk bersegera menikah, dan disarankan berpuasa jika jodoh belum juga datang.

Ironisnya batasan norma agama seperti sudah tidak membekas lagi. Metode yang diperkenalkan Islam melalui metode taaruf dianggap tidak sesuai dengan kondisi sosial masa kini. Metode yang biasa dilakukan orang-orang tua kita, yaitu memperkenalkan melalui keluarga, menyelediki bibit bebet bobot secara detail dianggap kuno, bahkan dianggap sebuah pemaksaan ala roman Siti Nurbaya.

Sebuah pesan yang sebenarnya lebih ditujukan untuk diri saya pribadi, semoga kita selalu dilindungi dari godaan setan yang terkutuk. Sesungguhnya itu adalah ancaman yang sangat nyata.

Sekian catatan minggu kedua bulan Ramadhan 1432H. Selamat menjalankan paruh kedua bulan puasa tahun ini bagi anda yang menjalankan. Semoga tetap semangat dan istiqomah. Mohon maaf juga kalau akhir-akhir ini postingannya melulu soal agama — kebawa suasana sih hehehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. Sayang nya bangsa kita adalah bangsa peniru yang selalu bekiblat ke bangsa barat.. boleh kita berkiblat ke bangsa barat tapi yang kita adalah sisi positif bukan dari sisi negatif.. tapi banyak anak bangsa kita mengambil sisi yang negatif..kasihan bangsa ini…hik..hik

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *