Pasar Modal Hari Ini

Jumat pagi, sahur saya digelitik oleh sepotong akun berita di Twitter, “Indeks S&P 500 jatuh terdalam”. Kemudian disusul tentang indeks Dow Jones (DJIA) yang juga ambruk parah. Salah satu penyebabnya adalah rating investasi Amerika yang diturunkan satu grade lebih rendah. Saya langsung berpikir, “Apa jadinya indeks IHSG hari ini?”

Benar. Meskipun saya sudah tahu apa yang terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Indeks bergerak terlalu cepat jatuh. Saham-saham jagoan saya jatuh. Disinilah pelajaran sebenarnya sedang berlangsung. Bagaimana kita dituntut untuk tidak panik dalam kondisi pasar yang kalut, dan mengambil keputusan dengan cepat. Pada akhirnya saya, yang masih hijau ini, tidak mampu berbuat apa-apa. Diam membeku memandang running trade yang semakin kacau.

Disini pun saya pikir semua scientist telah berubah menjadi tukang nujum. Segala teori tentang teknikal analisis telah diterjang. Nah, disinilah menariknya, semua sedang menebak-nebak, apakah kejadian krisis global 2008 akan terjadi lagi. Semua berteori. Pendukung teori optimistis berpendapat ini hanyalah imbas dari efek Amerika yang memang sedang sakit. Tak kurang Menko Perekonomian sendiri yang menghimbau agar pelaku pasar tidak panik. Inilah saat yang tepat untuk menggelontorkan modal karena saham-saham sedang didiskon.

Sebaliknya, pendukung teori pesimistis juga tak kalah kuat dengan pendapat dan datanya. Memang kondisinya sudah mirip dengan 2008. Di 2008 pun pemerintah menghimbau untuk tidak panik. Jadilah semuanya bermain tebak-tebakan. Sebelas dua belas lah sama tebak-tebakan buah manggis, hehehe…

Pagi tadi, indeks kembali bergoncang. Mau tidak mau saya harus berpikir ulang. Saya tidak mau melakukan averaging down, karena dengan kondisi “peluru” yang sudah tipis, itu tidak akan berpengaruh terhadap portofolio saya — bahkan akan mengakumulasi kerugian saya lebih besar lagi. Maka, di titik yang paling parah indeks pagi tadi (sempat menyentuh 3700), saya melepas beberapa saham yang saya anggap saya masuk di saat harga telah terlalu mahal. Saya masih belum mengeluarkan peluru cadangan terakhir, jaga-jaga kalau besok harga didiskon lagi.

Nah, siapa yang bisa tahu kalau indeks akan berbalik di sesi kedua? Di saat itu, saya mereposisi portofolio hasil jual rugi di sesi pagi agar kondisinya lebih merata. Meskipun masih merah, tapi saya cukup puas karena kerusakannya tidak terlalu parah.

Apakah yang akan terjadi besok? Apakah rebound di sesi kedua tadi hanya sekadar technical rebound atau hanya jebakan betmen untuk menekan indeks lebih dalam lagi? Yang jelas saya tidak tahu, tidak ada science yang bisa menebak apa yang terjadi besok. Tidak lebih dari spekulasi — meskipun dalam kondisi normal masih bisa diukur.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *