Tembang Pucung dan Sosialita Ramadhan

Saya teringat tembang macapat Jawa, Pocung (atau Pucung) yang liriknya begini

Ngelmu iku, kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pangekese dur angkara

Artinya kurang lebih,

Ilmu itu terlaksana dengan penghayatan
Penerapannya harus sungguh-sungguh
Artinya ilmu itu harus membawa kesentosaan
Sehingga akan menaklukkan angkara murka

Kata yang membekas buat saya adalah “laku”. Kata laku sebenarnya tidak bisa diartikan sebagai penghayatan. Tetapi laku adalah sebuah perjalanan rohani untuk berprihatin dalam menghayati ilmu. Orang-orang zaman dulu sering menjalankan “laku” dengan bertapa brata di goa-goa terpencil, berprihatin dengan melakukan puasa mutih (tidak makan asam garam bumbu dapur, hanya nasi putih saja) dan biasanya diakhiri dengan pati geni — hidup tanpa cahaya. Sudah menyepi, puasa, lalu tanpa cahaya.┬áBagi yang lulus laku ini, ia mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, misalnya dapat pusaka keris sakti mandraguna, ajian-ajian menggetarkan macam Gelap Ngampar, Tameng Waja, dll.

Dalam konteks kekinian, Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menjalankan “laku”. Ramadhan seharusnya menjadi fasilitator untuk setiap kita menapaki jenjang kualitas pribadi yang lebih tinggi. Dengan menahan nafsu: lapar dan haus, melatih kesabaran, banyak merenungi diri, instrospeksi, yang diaktualisasi dalam prosesi rangkaian ibadah-ibadah yang ditentukan oleh syariat.

Syariat memang mensyaratkan untuk menahan diri dari saat fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi secara hakikat, sebuah laku menahan diri ini bisa dilaksanakan selama tiga puluh hari tanpa henti. Bagaimana kita bisa menghayati lapar dan haus jika pada saat buka puasa restoran-restoran penuh sesak (bahkan sampai waiting list)? Bagaimana bisa menghayati makna kesederhanaan jika malam hari mal-mal riuh rendah orang belanja dan nonton film?

Seminggu yang lalu, saya cukup terkejut bahwa waktu saya datang di masjid bahkan sebelum adzan isya’, saya sudah cukup kesulitan mencari parkir yang kosong. Lebih terkejut lagi kemarin bahkan saya sudah terlambat untuk isya’, lapangan basket itu masih banyak ruang kosong untuk parkir.

Seperti orang zaman dahulu begitu susahnya laku untuk menguasai ilmu Gelap Ngampar atau Tameng Waja, diperlukan laku juga untuk bisa lulus di bulan Ramadhan ini. Lebih banyak merenung, melihat diri, berinstrospeksi. Kenapa kita masih saja sibuk memikirkan menu buka puasa, baju-baju baru yang akan dipakai nanti di hari lebaran? Gadget baru apa yang bisa dipamerkan untuk menunjukkan status sosial? Kenapa tidak kita jadikan momen Ramadhan menjadi momen yang membekas dalam kenangan sepanjang tahun? Jika sebelas bulan fokus kita habis untuk urusan duniawi, kenapa kita tidak menyisihkan waktu sebulan saja untuk fokus menatap masa depan yang kekal itu?

Demikian catatan minggu pertama puasa yang telah kita jalankan bersama. Selamat menjalankan minggu kedua Ramadhan tahun ini. Semoga tetap istiqomah. Amin.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Seperti biasa. Selalu menonjok langsung ke hati. Mengajak kaki melangkah ke depan cermin untuk melihat diri sendiri….

  2. kata-kata “konteks kekinian” itu sangat tidak umum, hehehe

    hmm, karena saya lebih rajin sholat di rumah, jadi gak ada yang saya tunjuk2an xD

  3. . pliizzz donnk,, qw ad tgas b. jawa nich,,
    . tlong bntu untuk membuat tmbang macapat

    . thank’s gtu ajjh,,
    . pliizz d; bantu z kakak-kakak.

Leave a Reply to Nanang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *