Tentang Intrik dan Politik

Intrik dan politik ternyata tidak hanya ada di panggung parlemen dan pemerintahan. Intrik dan politik dekat sekali bersentuhan dengan lingkaran kehidupan kita. Bagi teman-teman yang sudah bekerja, mungkin akan sangat mengenal sebuah perang non-fisik tak terlihat yang bernama politik kantor. Suka atau tidak, politik kantor ada di setiap ruang lingkup pekerjaan sebagai salah satu budaya bangsa kita.

Kenapa saya bilang budaya? Ternyata jika ditelusuri, berpolitik sebagai perang urat syaraf yang cerdik dan licik telah ada sejak jaman prabu Sri Erlangga, pendiri kerajaan Kadiri di Kahuripan. Oke, mari kita telusuri.

Nampaknya, kudeta menggunakan tipu muslihat pertama kali dilakukan oleh Ken Arok, pendiri kerajaan Singasari, dalam menjungkalkan kekuasaan akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, kemudian bahkan kekuasaan raja Kadiri saat itu: Sri Kartanegara. Cara ini dicontoh oleh keturunan-keturunan berikutnya, termasuk anak tirinya: Anusapati.

Raden Wijaya (Sanggramawijaya), keturunan kelima Ken Arok, menghiasi berdirinya Majapahit dengan taktik politik ganda. Ia berhasil mengkudeta raja Kadiri saat itu, Jayakatwang, dengan tipu muslihat tingkat tinggi sekaligus mengusir tentara Mongol yang dipimpin Kubilai Khan. Ia sendiri bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

Next. Jauh maju ke masa awal Mataram Islam. Raden Sutawijaya (Panembahan Senopati) mengkudeta ayah angkatnya sendiri, Sultan Hadiwijaya dan memindahkan kekuasaan bekas Demak dari Pajang ke Mataram.

Maju ke masa kemerdekaan Indonesia. Hampir semua presiden kita tidak turun dengan cara baik-baik. Orde Lama digantikan Orde Baru dengan kudeta kontroversial yang mirip dengan cara Ken Arok. Presiden Soeharto diturunkan paksa di tahun 1998. Penggantinya, Presiden Habibie dianggap hanya sebagai pejabat sementara. Presiden Abdurrahman Wahid dikudeta oleh Sidang MPR sebelum masa jabatan resminya berakhir. Mungkin hanya Presiden Megawati Soekarnoputri yang turun karena masa jabatannya berakhir, tetapi itupun melalui intrik politik yang luar biasa.

Jadi, bukankah drama politik telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa kita sejak zaman dahulu kala?

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Kalo membaca sejarah penurunan tahta politik pada masa kerajaan di Jawa, rasanya miris banget. Nampak dari situ bahwa memang kelicikan sudah mendarahdaging dalam budaya kita. Untuk menjadi raja, ternyata seseorang harus menggulingkan raja sebelumnya dengan menebar fitnah yang sangat halus. Untuk mencaplok negeri tetangga, harus pura-pura menikahi perempuan dari negeri itu supaya seolah-olah kedua negeri itu jadi bersatu. Dan hampir semua perang saudara ternyata berakar dari poligami. Jadi nampaknya hampir semua kekuasaan pada kerajaan di Jawa diperoleh dengan cara yang tidak halal.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *