Pilar-Pilar dalam Musik

Yuk kita menelusuri lebih detail dari alat-alat musik yang biasa menghibur kita, menjadi soundtrack kisah cinta kita, mengisi kesepian kita, dan apa saja. Kata ABBA, who can live without music? What would life be? Without the song or a dance what are we? (Thank You for the Music).

Musik dibangun oleh tiga pilar besar: irama/ritme (rhythm), melodi, dan harmoni. Oke, mari kita kupas satu-satu.

Ritme atau irama atau tempo, rhythm, adalah salah satu bagian terpenting di musik. Ritme menentukan jalannya sebuah musik, cepat ataukah lambat. Ritme dalam suatu lagu dibagi dalam ketukan-ketukan berdurasi sama (bayangkan seperti jarum detik yang berdetak secara ajeg). Ketukan-ketukan ini dibagi-bagi lagi dalam bagian yang sama. Inilah yang biasanya dinamakan birama 4/4, 3/4, 2/4, dan seterusnya. Kalau ditelusuri lebih lanjut, musisi seharusnya jago Matematika karena bisa membagi nada-nada dalam ketukan tertentu, hehehe…

Alat musik yang bertanggung jawab menjaga irama atau tempo adalah drum. Ketukan drum dijadikan patokan alat musik lain untuk membunyikan nada demi nada sehingga bersatu dalam rangkaian musik yang utuh. Sehingga, syarat menjadi pemain drum bahwa ia harus bisa menjaga tempo dengan stabil. Ini tidak mudah lho, banyak kawan-kawan saya pemain drum yang sulit menjaga tempo, khususnya setelah ia melakukan drum roll dan masuk ke reffrain, biasanya temponya cenderung naik. Drum adalah salah satu alat musik yang paling penting dalam musik modern (Fungsi yang sama di musik tradisional gamelan adalah kendang).

Dalam membentuk ritme lagu yang utuh, drum akan ditemani oleh bass untuk menunjukkan nada-nada utama pada setiap bagian lagu. Bass untuk mempertegas chord untuk memandu alat musik melodis atau penyanyi mencari nada yang pas. Bass akan membunyikan nada mengikuti ketukan drum ketika bass drum digebug. Tek dug tek dug dug…

Dua alat musik ini sebenarnya cukup untuk membuat vokalis bernyanyi. Tetapi alangkah sepinya. Jeda antara nada bass akan menyisakan ruang kosong. Lha, ruang-ruang kosong inilah yang akan diisi oleh alat-alat musik melodis seperti gitar, piano, violin, saxophone, flute, dll.

Gitar dan piano, baik ketika memainkan chord maupun melodi untuk mengisi ruang kosong itu, seringkali masih menyisakan ruang kosong lagi. Padahal, bagian lagu yang disebut reffrain itu memerlukan musik yang cukup ramai. Untuk itu biasanya ruang-ruang kosong itu diisi sebuah layer musik yang bisa menutup rapat. Jika kita perhatikan dengan lebih detail, biasanya suara string (gabungan banyak violin yang memainkan nada berbeda-beda) dipakai. Itulah kenapa di pergelaran orkestra atau big band, jumlah alat musik gesek yang paling banyak, padahal fungsinya hanya sebagai pelapis ruang-ruang kosong. Namanya juga pelapis, hanya akan terdengar jika suara-suara dominan seperti drum, bass, gitar, dan piano diam.

Berbagai alat musik baik ritmis dan melodi yang berjalan dalam tempo yang seragam, dengan bunyi yang berbeda-beda, akan membentuk satu pilar lagi dalam musik yang dinamakan harmoni. Tentu saja jika semua alat musik ingin menonjol tidak akan terjadi harmonisasi yang baik. Penyusunan harmonisasi ini seringkali disebut proses aransemen lagu, dan karena pembuatannya adalah mengisi ruang-ruang dalam ketukan-ketukan drum dan bass, hasilnya akan menjadi sebuah komposisi. Penyusunnya disebut komposer.

Published
Categorized as Musik

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *