The Prisoners of Weekdays

Jika Yngwie Malmsteen punya lagu Prisoners of Your Love, maka dari situlah judul artikel ini berasal. Sudah empat tahun lebih saya mencangkuli tanah ibukota, menebas hutan beton dan menjalani kehidupan seperti orang kebanyakan: menjadi karyawan yang bekerja Senin sampai Jumat, libur di Sabtu dan Minggu.

Nah, menjalani pola kehidupan seperti itu kadang-kadang membuat saya merasa seperti terpenjara. Praktis hari Senin hingga Jumat, seorang karyawan tidak bisa melakukan hal lebih banyak daripada ke kantor seharian. Berangkat pagi-pagi, bersamaan dengan matahari terbit dan pulang bersama-sama matahari tenggelam.  Kita tidak akan bisa kemana-mana selain duduk mencangkung seharian di depan komputer. Waktu istirahat di siang hari yang sebentar itu tidak bisa dipakai karena akan habis di jalanan.

Akhirnya, segala kegiatan itu akan tertumpuk di hari Sabtu dan Minggu. Acara resepsi pernikahan di Jakarta hampir dapat dipastikan akan diadakan di weekend. Ke bengkel, belanja kebutuhan, dan sebagainya. Walhasil, acara di weekend pun juga sudah penuh oleh aktivitas. Saya pernah mengolok-olok teman saya yang selalu penuh acaranya di weekend, “kapan liburnya?”

Saya tidak tahu kehidupan karyawan kantoran di kota-kota lain. Saya dibesarkan di keluarga pendidik yang ketika jam 2 siang semua sudah lengkap dan makan siang bersama. Begitu selama bertahun-tahun. Di sini, mungkin ada keluarga yang untuk bisa makan malam bareng seminggu sekali saja adalah sebuah kemewahan.

Di satu sisi, hidup di Jakarta memang menawarkan sisi gemerlap kemewahan yang lebih dibandingkan dengan kota lain, tetapi sebenarnya banyak yang harus dikorbankan untuk itu: kemewahan akan waktu, kemewahan akan kenyamanan di jalan, dan semacamnya.

Selamat hari Senin, kawan-kawan!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. gila ya kalo mahasiswa dulu masih bisa nyanyte, senin sampe minggu kita bisa atur sendiri.. dan bisa berleha-leha… dan berubah drastis kalo sudah kerja, apalagi kerja di jam kerja yg tetap seperti robot saja ya 😀

  2. Nggak usahlah nyebut Jakarta, sekarang di Surabaya hidup saya kayak gitu juga.
    Saya pergi dari rumah sebelum jam 6 pagi, pulang sampek rumah kadang-kadang jam 7 malam. Itu pun masih bawa PR dari sekolah.
    Jaga rumah sakit setiap 6 hari, kadang-kadang saya nggak sempat makan siang.

    Bahkan weekend pun kadang-kadang saya masih diminta kerjakan tugas kantor yang terbengkalai.

    Ternyata untuk jadi ilmuwan pun banyak sekali yang harus dikorbankan.

  3. Saya juga mengalami hal serupa, meski untuk kota jauh beda dengan Jakarta. Setiap hari ada di depan komputer di sebuah kantor Lembaga Pendidikan yang Full Day. Sabtu masuk setengah hari, libur di hari Minggu. Untungnya masih bisa jalan-jalan sore harinya, menyusuri jalan alternatif menghindari macet arus lalu lintas Sidoarjo – Surabaya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *