Digital Library Nyata di Dunia Akademisi Indonesia

Sekarang adalah era digital, semua orang juga sudah tahu. Internet marketer menyebutnya Web 2.0. Buzzwords yang sedang ramai dibahas adalah HTML versi 5. Para peneliti internet sedang giat-giatnya menelurkan terobosan baru bernama teknologi semantic web.

Para dosen tentu juga mengetahui bahwa pola penelitian yang dilakukan mahasiswa kini telah jauh berbeda dengan yang mereka lakukan jaman dulu waktu berdjoeang meluluskan gelar master atau doktoral mereka. Mahasiswa sekarang (termasuk saya tentu saja) tidak hanya suka mie instant, tetapi juga dalam gaya riset mereka. Pengennya yang instan-instan.

Google dan Wikipedia adalah tools utama mahasiswa masa kini. Cobalah lihat di daftar pustaka, berapa rasio acuan antara jurnal ilmiah dengan alamat URL. Yeah, ketimbang harus mendatangi perpustakaan yang berdebu dan berhantu yang tutup di hari sabtu minggu itu, tentu saja lebih nyaman berselancar di “perpustakaan” Google sambil menyeruput chai latte atau black coffee latte diiringi musik yang lembut di sebuah kafe. Terlalu metropolis? Ah baiklah, ilustrasinya diubah sedikit — … sambil nggelosor di atas kasur sambil sesekali melirik Twitter ditemani camilan di kiri kanan. Home sweet home.

Jika acuannya adalah internasional hal ini tidak masalah. Kita bisa mendapatkan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena sudah banyak e-journal dan digital library di luar sana. Sebut saja Harvard Business Review, atau jurnal IEEE. Kita tinggal meluncur ke layanan jurnal ilmiah seperti Pro-Quest atau EBSCO Host. Download paper setelah membayar biaya sewa jurnal.

Jurnal Ilmiah Lokal?

Menurut saya, keberadaan digital library lokal masih jauh panggang dari api. Memang universitas-universitas besar di Indonesia sudah memiliki sistem perpustakaan digitalnya sendiri-sendiri. Tapi sepertinya hanya nice to have. Kita hanya bisa membaca judul dan abstraknya saja. Untuk mendapatkan akses secara utuh, kita harus ke perpustakaan dan mencari barang fisiknya.

Tentu saja sangat menyenangkan jika ada layanan lokal seperti Pro-Quest. Sebuah mesin pencari terintegrasi yang mencari ke sumber-sumber ilmu di masing-masing digital library universitas lalu menampilkan full text-nya. Untuk akses file secara utuh, dikenakan biaya langganan tertentu. Tentu saja ini akan menjadi business model yang sangat rumit, tapi saya pikir itu merupakan sebuah peluang.

Waktu masih aktif di lingkungan akademis — (ITS maksud saya, sekarang di Binus saya hanya sebagai mahasiswa master yang tidak tahu-menahu tentang dunia akademis di Indonesia), saya pernah mendengar ada proyek INHERENT. Sebuah proyek ambisius yang akan mengintegrasikan semua jaringan universitas di bawah Dikti dan Depdiknas. Tetapi sayang, proyek itu sepertinya berhenti pada pemasangan infrastruktur, tidak berlanjut pada integrasi content. Mungkin ide ini bisa jadi bahan bagus untuk integrasi content. Atau mungkin sekarang pun jaringan INHERENT sudah pecah? Ada yang tahu? Namanya juga proyek ambisius hehehe…

#celoteh di sore hari waktu pikiran buntu mencari ide untuk tugas paper Corporate and Business Strategy

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *