Tentang Sepeda Motor yang Membludak

Awal 2007 ketika saya memilih sepeda motor sebagai moda transportasi di Jakarta, kondisi bisa dikatakan masih cukup nyaman. Saya memilih sepeda motor karena menurut saya angkutan umum high cost dan tidak aman (saya pernah hampir dipalak di metromini 640 Tanah Abang – Pasar Minggu). Kondisi jalanan masih cukup manusiawi meskipun sudah macet, tetapi yang jelas, waktu itu sebelum jam 07:00, Pancoran – Kuningan masih bisa ngebut.

Hanya butuh empat tahun yang diperlukan sepeda motor menjadi raksasa jalanan Jakarta. Pertumbuhannya mengerikan. Tak heran, selain low cost, proses kredit sepeda motor sudah macam kacang goreng saja. Cukup KTP dan uang lima ratus ribu (bahkan ada yang tanpa uang muka), sudah bisa membawa pulang motor baru.

Sebenarnyalah hal ini sungguh-sungguh tidak sehat. Tanpa transportasi massal yang memadai, Jakarta lumpuh tinggal menunggu waktu yang tak lama lagi. Lihatlah, Gatot Subroto yang selebar lapangan sepakbola macet hampir sepanjang hari. Terjebak macet di Mampang saat menjelang tengah malam adalah hal yang biasa. Tetapi selama tidak ada alternatif yang lebih baik dari sepeda motor, perkembangannya akan terus naik.

Padahal, produsen macam Honda dan Yamaha sudah meningkatkan kapasitas produksi mereka untuk mengejar growth. Hal yang tidak saya mengerti adalah mengapa pemerintah mengizinkan produksi dalam kapasitas yang gila-gilaan, sementara transportasi massal seakan-akan tidak mendapatkan perhatian serius. KRL Jabodetabek semakin penuh. Mengapa tidak membangun jalur kereta dari double track menjadi quart track? Kapan kita punya Gajayana 2 dan Gajayana 3? Mengapa pemerintah membangun jalan tol melulu sebagai andalan infrastruktur?

Ah, kasihan pemerintah. Mereka juga manusia.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *