NU atau Muhammadiyah Saja

Hidup di kota besar berarti akses luas terhadap informasi — termasuk tafsir ideologi — khususnya Islam. Contohnya ketika masih mahasiswa baru dulu, saya dikenalkan organisasi seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan faham khilafah-nya, lalu ada Salafy, dan beberapa liqo’ lain yang sempat membuat saya terperangah karena cukup berbeda dengan apa yang diajarkan oleh guru ngaji saya dulu di SD. Salah satu yang paling saya ingat adalah diharamkannya musik.

Mungkin karena memang basis kaderisasi organisasi-organisasi tersebut adalah melalui lingkungan kampus (mahasiswa baru relatif masih belum punya warna), sekarang saya tidak terlalu banyak tahu dan terlibat organisasi tersebut. Yang masih hangat, kata berita NII pun memusatkan kaderisasinya di lingkungan kampus.

Akhir-akhir ini, melalui jejaring sosial, saya banyak mempelajari berbagai macam idelogi dan penafsiran. Salah satu yang cukup berbeda adalah Jamaah Islam Liberal (JIL). Berawal dari kecaman banyak ustadz terhadap JIL, saya juga bertanya, apa iya semua agama itu sama? Wong Tuhan-nya saja beda kok. Pluralisme sosial yes, tetapi pluralisme agama jelas no. Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Dari sini saja kalau tidak hati-hati kita bisa terjebak di middle of nowhere. Seperti masuk rimba raya dan semua perangkat penunjuk jalan mati.

Pada akhirnya saya tiba pada kesimpulan, bagi orang awam seperti saya, paling aman itu kembali ke hal-hal yang tradisional saja seperti Nahdlatul Ulama (NU), atau yang lebih “modern”: Muhammadiyah. Karena saya dibesarkan di lingkungan keluarga dan desa yang ustadz-nya lulusan pondok-pondok pesantren NU, saya lebih nyaman menerima nilai-nilai yang diajarkan NU. Dua ormas besar ini sudah terbukti sustainable dan tidak “bermasalah” selama bertahun-tahun.

Konservatif? Kenapa tidak?

Published
Categorized as Islam

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. InsyaALLAH, kita mengikuti tuntunan Rasulullah SAW saja, Al Qur’an dan hadist. Lebih menentramkan di hati dan pikiran. Namun, saya juga berupaya untuk tidak menutup diri dari kegiatan pengajian yang diadakan organisasi muslim spt HTI, muhammadiyah, dll. tks

  2. Saya juga berpendapat sama. Pluralisme sosial yes, tetapi pluralisme agama jelas no. Pun halnya menjadi radikal. Jelas No!
    pilih NU atau Muhammadiyah? So what?
    Yang penting ajarannya benar sesuai Alqur’an dan Hadist. Dan yang pasti bikin hati tentram, nggak mikir berbuat macam-macam yang malah merusak tatanan sosial, merusak kehidupan. 🙂

  3. Sepakat!!!! NU atau Muhammaddiyah Oke!!! sing penting bukan warisan!! sehingga jika seandainya NU juga memahami NU, atau Jika seandainya Muhammadiyah betul-betul tahu akan muhammadiyah, toh keduanya terbukti tracrecordnya bisa diterima di berbagai lapisan masyarakat tidak neko-neko!!!

  4. agama bisa juga merupakan olah pikir manusia yang bertautan antara kehidupan bersosial maupun diri sendiri tapi din lebih dari itu yang tidak ditemukan pada muhammadiyah maupun nu

  5. Mohon maaf, hanya ingin menanggapi kalimat:

    “Wong Tuhan-nya saja beda kok.”

    Bukannya Tuhan itu tetap Esa mas?
    Katanya kalau orang Islam mempercayai lebih dari satu Tuhan itu salah?
    Sekali lagi mohon maaf.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *