Apa yang Mereka Kejar?

Beberapa waktu terakhir ini kita dihebohkan berbagai macam kasus yang menyangkut keuangan. Mulai dari banker cantik yang punya banyak mobil sangat mewah sampai dugaan korupsi sebuah petinggi partai Islam yang mencitrakan diri sebagai: bersih. Yeah, nampaknya semua bermuara ke duit. Semua orang ingin kaya raya. Eh, apa benar? Semua orang ingin kaya dalam hal finansial?

Saya membayangkan, katakanlah kita mulai kaya raya. Mulai bergaji sejuta sebulan, lalu meningkat ke 25 juta, sampai 50 juta hingga bisa membeli apa saja. Apa yang terjadi? Tentu saja standar hidup kita akan naik. Yang awalnya puas naik sepeda motor, akan membeli sedan mewah. Yang awalnya bahagia hidup di rumah kecil yang sederhana, meningkat di hunian kelas mewah juga. Pergaulan kita juga akan berkembang meningkat ke level berikutnya. Pengeluaran awalnya yang sehari cuma lima puluh ribu, meningkat drastis menjadi sejuta sehari. Manusiawi.

Memang sih, kadang-kadang lifestyle itu mengalahkan segalanya. Mendapatkan privileges yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Bisa memenuhi segala keinginan. Zap!, muncul di angan-angan, saat itu pula bisa dipenuhi. Tidakkah indah bisa hidup seperti itu?

Ketika saya melihat deretan mobil Ferarri itu di TV, saya berpikir, mengapa satu mobil sport mewah masih kurang? Apa sih yang mereka cari? Apa iya segala hal itu membuat bahagia? Apakah hati nurani tidak pernah terusik kalau harta yang dipakai itu tidak halal? Mungkin awal-awal iya bahagia, tetapi lama kelamaan?

Apakah Anda ingin kaya? Itu seringkali kalimat sakti yang dilontarkan motivator, sales investasi, agen asuransi, buku-buku keuangan personal, dll. Sejujurnya, saya tidak ingin kaya raya yang seperti itu. Saya hanya ingin hidup berkecukupan (cukup dan kaya raya itu beda buat saya). Cukup itu tidak kurang, namun juga tidak lebih. Saya ingin apa yang telah diberikan kepada saya bisa berkah, syukur-syukur bisa berkah juga bagi orang lain. I’m not that perfect anyway, but I hope I can struggle to do this at my best.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. seperti kata sampean mas, manusia tak pernah puas, dikasih apa maunya lebih.
    btw gajinya sampean sudah 50 juta? (woot) hihihi

  2. Manajemen kaya itu dimulai dari perencanaan. Dari awal, tetapkan dulu, standar kaya itu apa. Nanti kalau target kaya sudah tercapai, bersyukurlah dan tetap pada standar itu. Justru dengan bersyukur itu hidup rasanya lebih bahagia. Kalau masih minta yang lebih dan lebih lagi, sampai kapanpun kita nggak akan pernah merasa kaya.

  3. saya gak ingin kaya, saya hanya ingin bahagia.. mungkin salah satu cara supaya saya bahagia adalah dengan jadi kaya.. #eaaa :))

  4. mengejar duniawi gak ada habisnya,syukuri saja yang sudah didapat..jangan lupa untuk berbagi,itu yang membuat kita kaya 🙂

Leave a Reply to Galih Satria Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *