Review: Memoirs of A Geisha (The Movie)


Foto: Wikipedia

Peringatan: mungkin ada beberapa bagian artikel ini termasuk spoiler.

Saya membaca bukunya hampir lima tahun yang lalu dan ini termasuk novel favorit saya sampai saat ini (saya selalu membaca novel favorit berulang-ulang buat menemani makan). Tetapi saya baru saja menonton film-nya beberapa bulan yang lalu. Film yang meraih Oscar ini dibintangi oleh aktor top seperti Ken Watanabe (sebagai ketua atau chairman), Michelle Yeoh (sebagai Mameha), Gong Li (sebagai tokoh antagonis, Hatsumomo), dan tentu saja bintang utama Zhang Ziyi (sebagai Nita Sayuri).

Saya kagum dengan sinematografinya yang luar biasa menggambarkan Gion, sebuah distrik geisha di Kyoto pada tahun tiga puluhan. Sebuah areal pemukiman padat dimana geisha sudah menjadi industri hiburan malam rumah minum teh bagi orang-orang kaya — rumah-rumah kayu berjendela kertas berlantai dua yang berdempetan, jalanan kecil yang jika malam hari dihiasi lampion-lampion yang temaram. Saya kagum detail make up dan kostum kimononya yang indah. Dan meskipun dipoles make up putih susu ala geisha, Zhang Ziyi masih tetap sangat cantik.

Salah satu adegan favorit saya adalah ketika masa-masa Sayuri akan melakukan upacara mizuage. Kakaknya, Mameha, berkata dengan ekspresi yang sulit dilukiskan — bahagia yang tragis:

“Celebrate this moment, Sayuri. Tonight, the lights in the Hanamachi all burn for you…”

Bagaimana tidak, sebuah upacara mizuage, yang sebenarnya adalah penyerahan keperawanan kepada pembeli tertinggi, telah mengubah hidup Sayuri. Dari yang awalnya ia nyaris menjadi pelayan seumur hidupnya telah menjadi geisha terbesar di Gion. Lima belas ribu yen, pada tahun tiga puluhan. Tidak berlebihan jika Mameha berkata semua lampu-lampu di seluruh Hanamachi menyala untuk Sayuri.

Tetapi geisha hanyalah geisha. Seorang geisha tidak pernah bisa meminta lebih dari apa yang bisa ia dapatkan. Ia tidak bisa meminta bahkan untuk kebebasannya. Seorang geisha tidak pernah memiliki cinta yang sesungguhnya. Bahkan seorang Hatsumomo, ia tidak bisa mendapatkan cinta sejatinya yang celakanya hanya seorang tukang penarik rickshaw.

Tragisnya, Sayuri telah jatuh cinta pada chairman. Seorang yang tak pernah bisa memperisterinya. Ia hanya akan jadi geisha (isteri simpanan), tidak lebih dari itu. Makanya, film ini ditutup dengan penutup yang… sama berkesannya…

You cannot say to the sun “more sun”, or to the rain “less rain”. To a man, Geisha can only be half a wife. We are the wives of nightfall. And yet to learn of kindness after so much unkindness. To understand that a little girl with more courage than she knew, would find that her prayers were answered. Can that not be called happiness?

After all, these are not the memoirs of an empress, nor of a queen. These are memoirs of another kind.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. wah filmnya udah lama kan? itu hari nonton di bioskop awalnya tak mengerti alur ceritanya lama-lama paham, soalnya blum tau juga isi dari novelnya, bagi yg sudah baca novelnya pasti ikut merasakan asyiknya film ini 😀 tapi nice film 🙂
    adegan yg saya suka ketika adegan itu tuh hahaha 😀

  2. yup, aku memang lebih suka nonton film yang udah lama. biasanya kalo udah baca novelnya jadi pengen nonton. memoirs of geisha ini salah satu film yang nggak ngrusak imajinasi pas baca novel, malah lebih bagus lagi 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *