Lumix? Coolpix?

Ahai, saya punya ide buat menjawab pertanyaan mas-mas lewat forum komentar. Sekali lagi mohon maaf kalau saya mulai jarang membalas pertanyaan baik lewat email atau lewat forum komentar. Sepertinya tantangan buat ngeblog makin hari makin digoda sama Twitter yak? Hehehe..

Pertanyaan pertama, dari Mas Nanang, teks lengkapnya di sini:

Penasaran sama Coolpix-nya Nikon. Dari beberapa referensi yang saya baca, Nikon gagal di kamera saku. Coolpix-nya kalah jauh sama kompetitor yang lain. Apakah memang begitu Mas Galih ?

Well, sejujurnya, saya juga menyesal setelah melihat performa Canon Ixus 120 IS saya. Di kondisi low light cukup buruk, bahkan di kondisi pagi hari yang mendung, hasilnya noisy dan tidak terlalu tajam. Hanya karena keajaiban pengolah citra saja yang bisa membuat sedikit lebih baik.

Waktu itu, kamera saku tipis masih mahal. Masih termasuk kelas kamera saku high-end. Tetapi memang ketika membeli Ixus, prioritas pertama saya adalah ukuran, bukan kualitas. Karena memang saya membeli kamera saku untuk dijadikan kamera second line, bisa siap sedia kapan saja menangkap momen. Kalau ingin yang lebih serius, saya bisa pakai Nikon D90 saya, yang memang ribet karena ukurannya besar dan harus dimasukkan dalam tas kamera.

Lumix

Ketika Panasonic Lumix menjadi jawara di berbagai review di situs fotografi terpercaya macam DPReview, saya masih belum percaya. Rupanya, brand awareness sangat mempengaruhi persepsi. Saya tetap dalam pendirian saya: kalau kamera saku ya Canon, kamera SLR ya Nikon.

Sampai pada akhirnya ada teman saya yang membeli Panasonic Lumix LX-series, high-end. Saya lebih terkesan pada hasil software pengolah citra internalnya. Sepertinya kamera ini sudah memiliki peredam noise-nya sendiri, penajaman digital, dan pengolah warna internal. Bagi anda yang menyukai warna natural seperti aslinya, mungkin Lumix kurang cocok untuk anda.

Coolpix

Entahlah, saya dari dulu agak kurang sreg dengan seri kamera saku-nya Nikon ini. Ketika melihat sample image-nya, saya melihat hasil yang kurang tajam dan noisy. Kombinasi yang sempurna untuk foto yang jelek secara teknis. Dan ini juga paling susah diperbaiki di Photoshop. Di DPReview, Coolpix menjadi runner-up di bawah Lumix — saya nyaris memilih ini sebagai ganti Ixus 120 IS. Hanya karena Lumix F3 konstruksinya tipis dan ringan sehingga bisa masuk saku, saya memilih Lumix F3.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. Terima kasih sudah menjawab penasaran saya Mas. Berhubung saya sudah terlanjur beli IXUS 130 IS, sepertinya mulai sekarang harus lebih sering pakai software pengolah citra ya.
    Trims.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *