Pertempuran Abadi Java dengan Flash

Kembali ke sekitar tahun 1996, dimana sekelompok orang dari Sun Microsystem (James Gosling, Mike Sheridan, Patrick Naughton)  mengguncang dunia dengan sebuah platform pemrograman baru yang mereka beri nama: Java. Membawa janji-janji yang nampaknya sulit terwujud waktu itu: multiplatform, write once, run everywhere!

Sebuah konsep penulisan kode komputer tanpa dikompilasi langsung menjadi bahasa mesin namun melalui intermediate bytecode yang dijalankan oleh sebuah interpreter merupakan sebuah lompatan besar saat itu. Hingga kini, Java masih menjadi salah satu bahasa favorit dan menginspirasi platform pemrograman seperti .NET dan Python.

Salah satu buzz waktu itu adalah munculnya Java Applet. Java Applet menawarkan sebuah aplikasi serumit aplikasi desktop tetapi bisa dijalankan melalui web. Pada waktu itu bahasa pemrograman berbasis web masih sangat terbatas dan belum sepopuler sekarang. Applet memungkinan programmer membuat sebuah RIA (Rich Internet Application) yang rumit atau sekadar membuat kagum pengunjung dengan animasi grafis yang indah.

Namun tidak lama setelah itu, muncul Macromedia Flash (sekarang menjadi Adobe Flash). Di awal kemunculannya, Flash memposisikan diri sebagai platform multimedia yang berjalan di atas web. Flash dirancang untuk desainer ketimbang programmer. Karena kebutuhan waktu itu adalah multimedia, didukung scripting yang sederhana seperti VB Script, dan shockwave player yang ringan, Flash segera merebut hati dunia web. Java Applet menjadi terkesan tua, berat, dan segera tenggelam popularitasnya.

Sekarang

Dalam perkembangannya, Adobe Flash tidak mungkin diam sebagai multimedia platform saja. Dengan Action Script yang terkenal, Flash berkembang ke ranah programming platform sebagai RIA. Karena berawal dari scripting sederhana, bukan dari bahasa yang kuat semacam Java, proses perkembangannya nyaris seperti tambal sulam. Gali bug tutup bug.

Dengan sifatnya yang independen terhadap browser, browser modern yang sangat cermat dengan isu keamanan praktis membencinya. Apple berteriak paling keras membenci Flash. Google Chrome yang memberikan akses terbatas terhadap subprogram di luar kendalinya pun seringkali crash karena aplikasi Flash yang kurang baik diprogram.

Ketika tren aplikasi web bergerak ke arah mobile, nampaknya Java kembali memegang peranan. Hampir semua mobile platform menggunakan Java dalam code development-nya, misalnya Blackberry dan Android. Tentu saja bukan Java Micro Edition era tahun 90-an, namun dasar-dasar Java masih dipakai oleh RIM dan Google. Sepertinya, bahasa yang memiliki dasar desain yang kokoh dan bagus akan terus dipakai sebagai standar hingga beberapa waktu ke depan.

#ITisMyWorld

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. *manggut2*
    sekedar hanya user bukan sebagai programmer 😀 hehe
    jadi pertentangan antara java dan flash utk org awam seperti saya, tak terlihat, tapi bagi seorang programmer sejati seperti mas galih, so pasti menjadi perhatian 🙂

  2. Iya saya juga dulu seneng banget dengan Java. Bahkan sempet bikin chatter bot Artificial intelegence berbasis Java applet. Sementara untuk flash kalau adobe tidak segera membenahi diri rasanya gak lama lagi akan tenggelam.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *