Pasar Modal, Investasi Atau Spekulasi?

Pasar Modal menurut saya adalah bahasan yang menarik; suatu ranah dan pengalaman baru bagi saya. Menarik untuk dicermati bahwa pasar modal Indonesia (Bursa Efek Indonesia) sebagian besar dikuasai oleh modal asing. Investor asing adalah penggerak indeks bursa. Ini menunjukkan bahwa pasar modal belum begitu tersosialisasi dengan baik di negerinya sendiri.

Memang pasar modal memang masih banyak mendatangkan pertanyaan, buat saya sendiri, kejelasan tentang investasi di pasar modal masih menjadi pertanyaan. Investor pasar modal bisa dikategorikan investor apa memang spekulan (short time trader)? Dimana batas suatu entitas dikatakan investor atau spekulan?

Dalam pasar modal ada dua jenis, yaitu pasar primer dan pasar sekunder. Pasar primer adalah ketika perusahaan mengeluarkan penawaran saham perdana (IPO — Initial Public Offering) atau ketika rights issue. Di sini hanya investor besar/institusional yang boleh membeli langsung dari pasar saham perdana. Sedangkan pasar sekunder adalah ketika saham diperjualbelikan oleh antar pemilik saham, termasuk diantaranya investor individual. Dana yang berputar di pasar sekunder tidak pernah ada hubungannya dengan operasi perusahaan (kecuali jika perusahaan tsb ikut bermain saham di pasar sekunder).

Ada 2 imbal hasil saham: yaitu dividen dan capital gain (perbedaan harga saat membeli dan menjual saham). Dividen dibagikan suka-suka oleh manajemen perusahaan: bisa dibagi, bisa pula tidak sama sekali. Dan jumlahnya kecil sekali karena terdilusi (dilluted shares) oleh jumlah saham (outstanding shares) yang sangat banyak. Bisa dikatakan, dividen adalah imbal hasil investasi sebenar-benarnya.

Bagaimana dengan capital gain? Dalam segi ekstrim, capital gain mungkin tidak bisa disebut investasi. Capital gain adalah harapan akan harga naik ketika menjual. Seberapa lama, tergantung trader itu sendiri. Tidak perduli berapa lama saham dipegang, karena dana Anda tidak akan pernah dipakai langsung oleh perusahaan dalam menjalankan usaha. Dan kita sebagai investor individual memang tidak pernah bisa membeli langsung dari pasar IPO. Jadi tergantung definisi investasi itu sendiri. Apakah capital gain termasuk investasi? Bukankah instrumen emas batangan imbal hasilnya juga dari capital gain? Well, itu terserah Anda.

Saya memang tidak menduga kalau saya “terseret” menjadi trader begitu cepat. Hanya 14 hari sejak saya membeli saham KLBF dan disusul beberapa saham blue chips. Saya melakukan panic selling saham BMRI karena kabar rights issue, sehingga saya merealisasikan keuntungan 10% — hanya dalam 10 hari, waktu harga saham dikerek spekulan. Tapi saya juga melakukan kesalahan membeli SMGR ketika harga sudah tinggi, sehingga nyangkut merah selama beberapa hari.

Saya merasa excited karena pasar modal membawa banyak pelajaran baru buat saya:

  • Saya harus rapi memotret kondisi keuangan saya (aset, cashflow, hutang) sehingga saya tahu betul berapa dana yang bisa saya pakai buat belajar di pasar modal
  • Saya lebih mengerti konsep-konsep Financial Analysis, analisis fundamental banyak perusahaan, analisis teknikal, belajar manajemen risiko langsung di lapangan; semuanya adalah praktik lapangan dari ilmu yang saya pelajari di kelas
  • Menyadari bahwa emosi itu nyata. Pertempuran keserakahan dan ketakutan itu nyata dan sangat manusiawi. Mempelajari psikologi ini saya anggap penting untuk menghadapi kondisi yang lebih berat daripada sekadar “melihat potensi kerugian/keuntungan saham yang ditanamkan (unrealized gain/loss)”

Hukumnya?

Pasar modal ternyata jauh lebih rumit daripada apa yang tampak dari luar. Bukan hak saya menjustifikasi hukum transaksi pasar modal; biar bagaimanapun juga, ini adalah salah satu faktor penggerak ekonomi secara makro. Logika sederhana saya bilang bahwa pasar modal diperbolehkan karena di sini ada Jakarta Islamic Index, saham-saham yang dinyatakan syariah oleh Dewan Syariah Nasional.

Saya telah membaca banyak artikel mengenai transaksi saham syariah — salah satu yang cukup menyenangkan bahwa ada ulama yang berpendapat kalau trading diperbolehkan dalam batas-batas tertentu. Hal yang jelas-jelas dilarang misalnya: short selling (menjual saham yang belum pernah dimiliki), menggunakan margin trading, menggunakan hutang sebagai modal (leveraging), dll.

Apakah saya mungkin akan berubah pendapat? Sangat mungkin. Sekarang, saya masih dalam pencarian jati diri di pasar modal, masa-masa puber lah. Saya masih mencari pola yang sesuai, apakah short trading memang lebih menguntungkan daripada long buying? Apakah cost averaging lebih manjur ketimbang market timing? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang saya cari jawabannya lewat eksperimen, terjun langsung dalam hiruk pikuk dunia pasar modal.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *