Berebut Kue BBM Non-Subsidi

Saya tidak tahu apa yang menyebabkan Jl. Pierre Tendean, Mampang, Jakarta Selatan begitu menarik bagi investor dan pengusaha ritel bahan bakar minyak (BBM). Tercatat hampir semua pemain pasang lapak di sini: Pertamina, Shell, dan yang baru saja buka, Total. Seperti yang kita tahu, premium bersubsidi hanya dijual oleh Pertamina. Tetapi menarik sekali mencermati bagaimana ketiganya menjual BBM non subsidi. Pertamina, sebagai market leader mengusung brand Pertamax dan Pertamax Plus. Shell membawa brand Shell Super dan Shell Super Extra. Sedangkan Total dengan brand Performance-92 dan Performance-95.

Pricing Sensitivity Sebagai Positioning Strategy?

Uniknya, semua kompetitor Pertamina memberikan margin harga pada tiap produknya. Ketika harga Pertamax ada di titik 7900, Shell Super dibandrol 7850, dan Performance-92 dipasang pada harga 7800. Apakah strategi ini cukup membawa dampak? Karena menurut saya, perbedaan 50 rupiah tidak cukup membuat saya berpindah brand.

Katakanlah sebuah mobil Kijang Innova memerlukan mengisi 30 liter setiap minggunya. Jika diisi Pertamax, maka diperlukan 237 ribu. Diisi Shell Super diperlukan 235 ribu. Diisi Performance-92 diperlukan 234 ribu. Hanya beda tiga ribu saja paling banter. Saya hakkul yakin seorang pemilik Kijang Innova tidak akan terlalu memperhatikan beda harga tersebut.

Service Excellence

Jika dikatakan bahwa bahan bakar non Pertamina lebih bersih dan lebih bagus kualitasnya, saya sih tidak terlalu percaya. Sepertinya hanya sugesti saja ketika Jupiter MX saya terasa lebih kencang akselerasinya. Jadi, harga dan kualitas nampaknya bukan faktor yang cukup berarti.

Keunggulan dalam pelayanan akan menjadi faktor penentu. Dan siapapun juga tahu, kualitas Pertamina dalam soal pelayanan adalah yang paling buruk. Dengan membayar lebih mahal hampir dua kali lipat, tentu saja saya tidak mau ikut antri bareng dengan pembeli BBM bersubsidi. Saya ingin dilayani di lajur khusus. Tapi hampir selalu saya temukan, pompa Pertamax dijadikan satu dengan pompa Premium sehingga antrinya bisa sangat panjang. Jika saya membeli di Shell atau Total, selain pengunjungnya yang lebih sedikit, saya selalu dilayani bahkan sebelum saya mematikan mesin sepeda motor. 

Ketika di Shell, mas dan mbak selalu melayani dengan ramah. Ini jelas merupakan bagian dari SOP dan training yang mewajibkan personnel pom bensin harus ramah dan senyum. Hal sepele lain adalah, saya selalu diberi kertas kecil struk tanda pembayaran tanpa saya minta.    

Pertamina sebenarnya sudah berusaha dengan fokus pada pelayanan di jajaran pompa bensin Pasti Pas-nya. Tetapi corporate culture dan gemuknya jaringan pompa bensinnya pasti akan menyulitkan Pertamina bersaing dengan kompetitor Shell dan Total yang lebih ramping dan lincah. Lebih mudah bagi kompetitor untuk membangun pelayanan dari awal ketimbang Pertamina yang harus memperbaiki sesuatu yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Saya yakin, kelak ketika kebijakan subsidi benar-benar dicabut, dari sisi pemasaran, yang akan dirugikan justru Pertamina sendiri karena orang akan beramai-ramai pindah ke kompetitor yang memiliki pelayanan yang jauh lebih sempurna.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. saya setuju dan sependapat dengan mas bro hanya pada kualitas pelayanan tapi tidak dengan poin-poin sblumnya,,disini saya meluruskan secara kualitas,,untuk total 92/95 memang memberikan performance mesin dan pemuaian diatas shell super/v-power,,untuk pertamax/plus memang berkualitas sangat rendah,,ini bukan sugesti tapi rekomendasi bagi pengendara yang rutin menempuh jarak jauh dan trafficnya cukup berat tidak bagi pengendara jarak tempuh dekat kurang dari 20km

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *