Menabung Cara Modern

Setelah mempersiapkan diri selama sekitar setahun dan menunggu timing yang tepat selama hampir tiga bulan, akhirnya kemarin saya menceburkan diri di hiruk pikuk pasar modal: Bursa Efek Indonesia (BEI). Saya terjun tepat ketika indeks jatuh cukup dalam, dari sekitar 3800-an ke 3300. Saya menggunakan layanan broker online dari Mandiri Sekuritas (karena alasan kepraktisan — porsi dana terbesar saya ada di Bank Mandiri). Saya akhirnya meninggalkan profil investor konvensional yang hanya menabung di Tabungan dan Deposito dengan bunga sekitar 3-5% setahun dengan alasan bebas risiko.

Inflasi, atau dalam bahasa awam pemerosotan daya tukar uang adalah musuh utama. Gampangannya, pada waktu kuliah dulu (2003-2004), saya bisa makan warteg lengkap dengan ayam dan telur hanya 3000-5000 rupiah saja. Sekarang, lauk semewah itu hanya bisa dibeli di 9000-12000-an.

Secara teknis, laju inflasi dilaporkan di titik 7-12% setahun. Artinya, daya beli uang saya akan turun segitu setiap tahunnya. Jika saya hanya menaruh uang saya di rekening ATM bank, saya hanya akan mendapatkan bunga 3-4% setahun. Dipotong biaya ini itu (administrasi, ATM, transaksi, dll), bisa jadi saya tidak akan mendapatkan hasil apapun. Deposito juga sama saja, ia tidak bisa meredam kejatuhan nilai uang saya. Artinya, tabungan konvensional tidak cocok lagi buat menyimpan dan mempertahankan nilai uang.

Tentu saja banyak sekali instrumen investasi dengan segala plus minusnya. Biasanya, para Financial Advisor (terima kasih Safir Senduk dan Aidil Akbar untuk inspirasi dan nasihatnya di Twitter) mengkategorisasikannya dalam karakteristik likuiditas, imbal hasil (return), dan risiko. Memilih investasi mana yang paling cocok itu gampang-gampang susah, karena masing-masing orang berbeda.

Tabungan dan Deposito

Ada pemeo yang terkenal di dunia keuangan: Free Cash is the King! Tidak dapat disangkal, tabungan dan deposito adalah instrumen investasi yang paling likuid. Kapanpun saya membutuhkan duit, saya bisa langsung mendapatkannya. Secara risiko pun bisa dikatakan tanpa risiko. Jika bank tempat saya menyimpan uang bangkrut atau dilikuidasi, pemerintah akan menjamin dana saya kembali. Kelemahannya, ia tak bisa mengalahkan laju inflasi.

Sekarang, tabungan dan deposito hanya sarana untuk penyimpanan uang saja, sama seperti kakek kita dulu menyimpan uang logam di celengan bumbung bambu. Saat ini, saya menyimpan uang di 2 account, Bank Mandiri sebagai operasional sehari-hari dan BNI sebagai penyangga biaya kuliah saya.

Emas Batangan

Sebenarnya, emas batangan adalah instrumen investasi terbaik. Ia masih likuid (Anda tinggal pergi ke toko emas dan menjualnya untuk menjadikannya cash) dan secara hasil, ia telah mampu mengalahkan inflasi. Harganya hampir tidak pernah bergejolak. Jika dilihat dari kacamata jangka panjang, ia dipastikan terus naik.

Emas terbukti tidak pernah mengalami penggerusan nilai. Waktu kakek dan nenek saya naik haji, biayanya sekitar 15 juta rupiah per orang. Namun waktu ayah dan ibu daftar haji (insya Allah, tahun 2014), biayanya 35 juta rupiah per orang. Tetapi jika dilihat dari emas, biayanya tetap tidak berubah: 250-an gram emas.

Namun buat saya, yang paling berbahaya dari emas adalah risiko keamanannya. Jakarta bukanlah kota malaikat. Dimana saya harus menyimpannya? Di lemari pakaian jelas tidak mungkin. Jadi saya harus menyewa safe deposit box. Saya juga akan mendapatkan risiko dirampok ketika di toko emas dan membawanya ke bank tempat SDB. Kalau pas beli mungkin lebih aman karena belinya segram dua gram. Tetapi ketika sedang butuh dan menjual dua kilo sekaligus? (hahaha, dua kilo, emang cabe?). Kesimpulannya, saat ini emas belum saya jadikan pilihan.

Emas batangan bisa dibeli langsung dari Logam Mulia ANTAM di Pulogadung, Pegadaian terdekat, atau toko-toko emas macam di depan stasiun Cikini.

Obligasi Ritel

Ah apa pula ini? Ketika deposito mulai tidak diminati, pemerintah mengeluarkan surat utang eceran yang bernama Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Ini adalah semacam kita memberi utang ke pemerintah dalam jangka waktu tertentu. Pada waktu jatuh tempo, pemerintah akan mengembalikan uang kita tepat yang tertera di surat utang. Setiap bulan, kita akan menerima bunga atas peminjaman ini. Setiap tahun, pemerintah menerbitkan ORI dengan seri berbeda. Bunganya sekitar 8-12% setahun.

Cukup tangguh melawan inflasi, meskipun belum sampai mengalahkannya. Secara likuditas, ORI seperti deposito berjangka, dan imbal hasil yang didapatkan adalah dari bunga yang kita dapatkan. Ini cocok untuk yang menginginkan hasil lebih banyak dengan risiko minimal.

Saya sedang menunggu pemerintah mengeluarkan ORI dan Sukuk Ritel (istilah obligasi berbasis syariah) seri tahun 2011.

Saham

Nah, saham adalah instrumen yang paling agresif. Ia menjanjikan return yang tinggi (tahun 2010, imbal hasil rata-ratanya sekitar 43%), tapi risikonya sangat tinggi. Anda bisa kehilangan setiap sen uang Anda ketika saham jatuh (krisis ekonomi 1998 dan 2008). High risk, high return.

Saham juga memerlukan kita mempelajari profil setiap perusahaan; artinya kita harus tahu ilmu keuangan ketika membaca laporan tahunan perusahaan. Salah tembak artinya uang kita hilang. Proses memilih perusahaan ini sering disebut analisis fundamental. Paling tidak saya menggunakan tiga komponen ketika memilah-milah perusahaan yang listing di BEI: Return on Equity (ROE), Return on Investment (ROI), dan Price Earning Ratio (P/E).

Itu belum cukup. Kita harus tahu kapan saat yang tepat waktu masuk pasar. Kita harus tahu iklim ekonomi usaha dengan cara membaca berita-berita ekonomi keuangan. Kita harus tahu kapan sebuah saham sudah murah untuk dibeli. Ini disebut analisis teknikal. Ini ilmu setengah ndukun dan kalau salah-salah bisa terjebak dalam judi. Tetapi bukan berarti forecasting ilmiahnya tidak ada, banyak instrumen yang bisa dijadikan acuan seperti candle chart, dan simple moving average.

Reksa Dana

Kompleksitas saham dan memerlukan cukup banyak waktu untuk memelototi pasar saham membuat tidak semua orang mau masuk. Reksa Dana menjadi solusi. Ini seperti menyerahkan uang kita ke seseorang (bernama Manajer Investasi) untuk dikelola. Misalnya untuk RD saham, kita menyerahkan Manajer Investasi untuk menggunakan uang kita untuk memilih saham-saham yang dianggap menguntungkan.

Kelebihan reksa dana, dengan uang 100 ribu pun kita bisa membeli reksa dana saham yang biasanya memerlukan uang dalam satuan juta untuk bisa membeli satu lot saham (500 lembar). Kelemahannya, kita tidak mengelola uang kita sendiri. Jika salah memilih reksa dana, indeks yang sedang bagus-bagusnya pun bisa jadi tidak membuat nilai reksa dana kita juga naik — bisa jadi malah turun.

Saya memilih terjun langsung ke pasar modal karena memang ilmunya dipelajari di sekolah. Ketika saya mengerjakan tugas menganalisis sebuah laporan keuangan, saya merasa seperti petani yang tahu seluk beluk membajak sawah namun belum pernah memegang cangkul. Makanya, saya menerjunkan diri, merayakan kebebasan kaki mengaduk lumpur sawah untuk pertama kalinya!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 comments

  1. @ablehunder:
    ah, betul sekali pak haji 😀

    @Kimi:
    hehehe… ternyata cuma ungkapan aja yak 😀

    @aRuL:
    secara syar’i memang sensitif sekali daeng aRuL. ada yang bilang haram, ada yang bilang boleh. tapi di BEI ada indeks Jakarta Islamic Index yang merupakan pasar modal syariah. demikian. 😉

  2. wah mantab pak dhe penjelasannya sangat komplit, (serasa ambil financial engineering lagi hehe)

    kalo saya pilih emas om, mulai dari yang kecil dulu 100 gram-an, beli di antam, alhamdulillah terkumpul beberapa biji. bukan diniati buat memupuk kekayaan, hanya simpanan biasa aja hehe..

  3. ada beberapa hal di lapangan yg nggak cocok sama teori. emas itu celengan bagus, liquid. orang bisa beli ketika masih murah, kemudian jual pas ada momen naik tinggi harganya. di lapangan, toko emas nggak mau beli ketika tinggi. mereka cuman mau jual tok, hehe.

    sukuk ritel itu aku juga pernah ngincipi, keuntungannya sangat tipis dg periode yg cukup lama. kalo sekedar duit diam, buat disimpen, ok. tapi kalo berharap ada gain, sebaiknya cari instrumen investasi lain.

    reksadana juga banyak dipromosikan sbg investasi murah untuk pemula. modal 100 ribu sudah bisa ikut ngincipi investasi. kenyataannya? betul pihak manajer investasi menawarkan satu unit reksadana seharga 100 ribu, tapi manajer investasi tidak pernah melakukan transaksi langsung dg investor, mesti lewat bank. sayangnya, biasanya bank nggak mau melayani transaksi recehan. ada yg mensyaratkan 5 juta untuk beli minimal 50 unit reksadana, ada yg malah minta 10 juta untuk 100 unit. hehe.

  4. @indobrad:
    terima kasih 😀

    @efahmi:
    terima kasih catatan tambahannya. emas bukannya bisa dijual balik lagi ke antam? sukuk memang bukan instrumen investasi yang agresif. untuk reksadana, itu pastinya bank-bank besar, kalo yang jual sekuritas perasaan ada yang dijual ketengan juga kok.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *