Perpustakaan Impian

Complete like Google, Cozy like Starbucks, Time Service like Circle-K

Jumat malam bukanlah waktu yang tepat untuk sebuah jam kuliah, apalagi kuliah berat macam Design Thinking (meskipun nama resminya bukan itu, tapi saya lebih suka nama ini). Kuliah ini banyak brainstorming dan mengasah otak untuk menelurkan ide-ide gila tanpa dibatasi oleh apapun. Dan saat saya terkantuk-kantuk dengan pikiran sudah di atas kasur, telinga saya tiba-tiba berdiri karena dosen bercerita tentang sebuah perpustakaan yang luar biasa.

Merupakan bangunan modern empat lantai. Bersih dan full AC. Di lantai bawah terdapat kafetaria. Banyak tersedia ruang meeting untuk mahasiswa. Dan serunya, buka 24 jam dari Senin hingga Minggu. Menariknya, meskipun terletak di pinggiran kota, perpustakaan itu tak pernah tidur. Selalu sibuk dikunjungi mahasiswa dan masyarakat umum.

Saya jadi ingat perpustakaan pusat ITS. Perpustakaan terbesar yang pernah saya tahu. Bangunan enam lantai. Saking luasnya, AC tidak mampu menjangkau sudut-sudut rak buku yang tua. Buku-bukunya pun tak kalah tua dan berdebu. Terletak di pusat kampus ITS Sukolilo Surabaya. Beberapa bagian sepi pengunjung. Malam hari sering dipakai pesta para makhluk halus. Konon di malam-malam tertentu ada yang melihat lantai 2 dan 5 terang benderang bersuara ribut seperti ada hajatan. Namun ketika didekati gelap dan sepi.

WIFM – What’s in It For Me?

Perpustakaan, seperti halnya museum, memang bukan budaya pop masyarakat kita. Perpustakaan identik dengan orang-orang kutu buku yang nerd. Kita memang tidak butuh perpustakaan. Kita lebih membutuhkan lebih banyak lagi Starbucks, Seven Eleven, dan bioskop XXI. Di Starbucks atau 7-Eleven kita bisa menghabiskan waktu dengan santai, asyik, sambil mengepulkan asap rokok, dan sekali-sekali melirik ke layar Blackberry atau iPhone ketika lampu indikator pesan berkedip riang.

Tahu banyak tentang film box office terbaru, siapa Justin Bieber, hafal lirik lagu Just the Way You Are-nya Bruno Mars adalah hal yang wajib diketahui. Tapi jika Anda tahu banyak tulisannya Charles Dickens, tahu isi satire juvenile, cuma tahu Bach dan Chopin, hafal di luar kepala formula Nash Equilibrium — maka saya membayangkan Anda adalah pemakai kacamata minus setebal botol dan agak linglung he he he…

Sebuah produk yang ideal tidak akan pernah sukses jika tidak dibutuhkan banyak orang. Seperti halnya perpustakaan ideal yang saya impikan di atas, nampaknya tidak akan hadir di dekat kita — meski di Jakarta kota yang paling maju se-Indonesia — dalam waktu dekat.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. Di Depok ada kafe/library yang namanya Zoe. Banyak dikunjungi mahasiswa, bisa jadi studi untuk idemu.

    Sekalian ajakan buat kopdar sama fans di Depok. (ninja)

Leave a Reply to dnial Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *