Belilah Kamera Sebagus Mungkin yang Anda Bisa

Saya tadi pagi sehabis bangun tidur mentweet-kan hal itu. Dalam bahasa Inggris, karena lebih cocok untuk mengungkapkan materi yang lebih banyak.

Buy the best camera you can, to remove any excuse for poor photos. Owning good gear means you can’t say, “if I only had a good camera”

Saya cukup beruntung dalam perjalanan lima tahun belajar fotografi, saya sudah mencicipi beberapa kamera mulai kamera film seluloid sampai digital. Kamera pertama saya adalah SLR film Nikon FM-10. Tahun 2005 saya membeli kamera digital pertama saya, sebuah kamera saku Canon Powershot A400. Tahun 2007, akhirnya celengan yang dikumpulkan berhasil dipecah untuk dijadikan DSLR pertama saya: Nikon D40. Kemudian terakhir saya upgrade lagi ke Nikon D90.

Di kurun waktu tersebut, setiap kali ingin mengeksplorasi ilmu baru, saya selalu merasa kamera saya tidak mampu. Nikon FM-10 tentu saja tidak mampu untuk dibawa bermain banyak-banyak. High cost. Kamera saku Canon PS A400 tidak bisa untuk belajar panning dan long shutter. Memang kreativitas kita akan terus ditantang dalam keterbatasan, namun ada satu titik dimana kamera memang tidak mampu lagi untuk melakukan yang kita inginkan.

Dengan punya kamera bagus, meskipun skill masih pas-pasan, ada beban “rasa malu” ketika tidak menghasilkan foto yang bagus pula. Ada pemeo terkenal di kalangan fotografer: foto bagus yang dihasilkan oleh kamera DSLR bagus dan mahal itu biasa, yang hebat adalah kameranya. Tapi kalau ada foto jelek hasil kamera mahal, itu mutlak kesalahan fotografernya yang dodol dan tolol.

Padahal tentu saja tidak demikian adanya. Camera is just the tool. It’s about the man behind the gun. Foto yang bagus oleh kamera apapun karena fotografernya memang jeli menangkap momen. Sebaliknya, jika foto yang kita hasilkan jelek, dengan kamera jelek, kita langsung berlindung menyalahkan kamera. Cuma kamera saku, hanya 5 megapixel, dsb.

Jadi, menurut saya, jika Anda serius dengan hobi fotografi, sekalian saja beli kamera yang paling bagus yang diizinkan oleh dompet Anda. Secara ilmu juga akan berkembang lebih cepat, dan secara investasi akan lebih hemat karena tidak akan ada lagi upgrade kamera seperti yang saya lakukan. Paling tidak jika dari awal Anda pakai Nikon D90, mungkin sepuluh tahun lagi Anda akan memerlukan kelas Nikon D3x.

Salam jepret!

Published
Categorized as Fotografi

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. gak punya kamera, hiks hiks hiks.. kamera hp sih ada 😛

    dan biasanya aku kalo moto itu lebih suka ber-objek manusia dan biasanya poto2 hasil jepretanku banyak dipake jadi profpic orang di pesbuk.. *bangga* hahaha..

    entah kenapa gak pernah tertarik memoto objek selain manusia.. tapi suka ngiler euy mata kalo lihat poto2 pemandangan yang keren2..

    btw, selain kamera yang mahal, potograper yang pro, dibutuhkan juga momen yang pas.. udah kamera keren, potograper handal tapi kalo lagi apes gak dapet momen yang keren, ya potonya jadi biasa2 aja juga 😛

  2. wah nemu tulisan ini.. agak tergelitik… kmrn aku coba ambil foto di bsd.. karna bener2 udah serius mau beli dslr.. awalnya tekad awal beli nikon d3100 yg new entry.. tp pas kmrn belajar sama temen yg punya d90.. kok rasanya lebih mending langsung beli d90 ya? soalnya juga menurut temen2 yg punya d3100 mereka cuma bertahan 3 bulan langsung pengen upgrade.. tp drpd upgrade malah tambah boros mungkin lebih baik beli d90 ya?? *lhooo kok malah jadi curhat ini ???*

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *