Minke, Pahlawan yang Dilupakan

Minke adalah seorang tokoh rekaan dalam roman Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) mahakarya Pramoedya Ananta Toer. Ia adalah seorang anak Bupati “B” (entah inisial apa ini, Bojonegoro?). Seorang anak bangsawan. Semestinya ia menyandang nama panjang dengan gelar Raden Mas, tapi ia nampaknya lebih suka dipanggil nama samarannya ketika menulis di media: Minke. Entah siapa nama aslinya.

Kesadaran tentang nasionalisme tidak datang seketika di diri Minke. Dari Minke kita belajar tentang proses pencarian jati diri dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Ia tumbuh seperti layaknya orang dari kelas priyayi yang beruntung bisa mendapatkan pendidikan. Ia fanatik terhadap Eropa. Ia hanya mau berbahasa Belanda ketimbang berbahasa Melayu. Ia memandang rendah kelas yang lebih rendah dari bangsanya sendiri.

Ia banyak mendapatkan pengaruh pandangan dari Nyai Ontosoroh. Ia mulai belajar ketidakadilan adalah salah satu bagian dari hidup dari Annelies, isterinya. Ia mulai tersedak tatkala melihat kehidupan petani gula yang ditindas oleh pemerintah Belanda.

Mungkin seorang pejuang terlahir untuk tidak pernah bisa menikmati hidup yang nyaman dan tenteram. Seorang pejuang sejati selalu gelisah dengan status quo. Ia memiliki konflik dengan Ayahandanya. Ia memilih meninggalkan hidupnya sebagai anak Bupati yang kaya raya, memilih menuntut ilmu di sekolah dokter STOVIA di Batavia — dengan cita-cita bisa menyembuhkan bangsanya sendiri. Gaji dokter hanya beberapa gulden, jauh di bawah pejabat pamong praja — jika ia menerima jabatan dari Ayahandanya.

Nampaknya ia tidak tertarik pada gadis-gadis Jawa yang montok (definisi cantik di masa itu) yang kebanyakan hanya mengincar statusnya sebagai anak Bupati. Ia tertarik dengan kecantikan Eropa ala Annelies. Ia tertarik dengan gadis Cina yang lemah sakit-sakitan namun berpandangan luas dan berkemauan keras: Ang San Mei. Dari Mei ia belajar banyak tentang perjuangan dan nasionalisme modern.

Demikianlah. Seringkali kita membayangkan para pahlawan itu terlahir dengan kesadaran penuh tentang nasionalisme. Namun Minke tidaklah demikian. Sebelumnya Minke bahkan benci bangsanya sendiri, Eropa minded. Dari Minke kita belajar tentang nasionalisme. Sebuah kata yang nampaknya kini menjadi mahal dan sulit untuk ditemukan di hati para petinggi negara kita.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. ah jadi kangen baca2 tetraloginya Pram lagi….
    membaca tetralogi ini, membaca alam sadar kita utk bagaimana mencari nasionalisme itu, banyak petuah2 yg mantap selalu memberikan inspirasi dalam setiap bacaan itu….

    😀

  2. Ng… OOT sih. Dulu waktu saya baca buku ini saya malah ngira akhirnya nanti si Minke bakal naksir sama ibu mertuanya sendiri. 😆 Abisnya, di bukunya digambarkan mereka berdua dekat banget. *dikeplak*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *