Sepuluh Foto Terbaik Saya di 2010

Sudah saatnya kembali meneruskan tradisi. Akhirnya saya berhasil melampaui pencapaian jumlah foto yang diupload ke Flickr pada tahun 2008, yaitu sebanyak 256 foto. Jika tahun 2008 event terbaik adalah pendakian ke Gunung Gede, dan tahun 2009 ke kepulauan Karimun Jawa, maka tahun 2010 praktis saya tidak kemana-mana. Bukan apa-apa, efek pemanasan global mengakibatkan sepanjang tahunΒ  2010 adalah musim penghujan. Karena tidak ada jaminan bahwa cuaca akan cerah, saya urung melakukan traveling di tahun ini.

Ringkasan foto-foto ini mungkin bukan yang terbaik secara teknis, tetapi saya menyukainya karena foto-foto ini membawa kesan yang khusus pada saya. Setiap kali saya melihat foto tersebut, saya akan mengingat saat-saat saya menekan shutter. Okey, ini dia — diurutkan berdasarkan waktu:

#1 Menunggumu

Kebun Raya Bogor. Nikon D40. Nikkor AF-S 55-200 mm VR. Di sini saya mendapatkan efek yang saya inginkan, yaitu romantisme. Hujan zenith Bogor, balkon, dan seorang wanita. Sejujurnya, wanita itu tidak sedang menunggu. Ia sedang ngobrol dengan pacarnya. Namun ketika ia memandang dengan tatapan kosong ke arah hujan, saya mendapatkan apa yang saya inginkan. πŸ™‚

#2 Kalibata Blues

Danau TMP Kalibata. Canon Ixus 120 IS. Saya sendiri terkesan dengan hasil ini. Langit biru yang jarang didapat di langit Jakarta. Ini adalah momen tahun baru 2010, tepat setahun yang lalu saya mengambil gambar ini. Kesan yang saya dapatkan adalah: tenang, teduh, damai, dan hening. *zinnkkk…

#3 Jejak Langkah

Kebun Raya Bogor. Nikon D40. Nikkor AF-S 55-200 mm VR. Lagi-lagi frame ini ada karena saya mengharapkannya sejak awal. Efek yang saya butuhkan lengkap: jalanan setapak yang sepi, daun-daun berserakan, dan tentu saja: sepasang muda-mudi yang bergandengan tangan. Sebenarnya, foto dan puisi yang menyertainya adalah seratus persen curhat saya. Dan dengan bantuan Photoshop untuk koreksi warna untuk menimbulkan efek sendu, lengkaplah sudah.

#4 Car Free Day

Bundaran HI. Nikon D90. Nikkor AF-S 18-105 mm VR. Event Hari Bebas Kendaraan Bermotor tidak hanya acara santai dan sehat, namun juga ajang unjuk lifestyle dan kelas sosial. Sepeda-sepeda kelas satu berharga puluhan juta rupiah tampil. Mungkin seperti Ferarri atau Lamborghini yang hanya muncul setelah tengah malam di jalanan ibu kota. Menariknya, ia tidak digenjot dari rumah, namun digendong oleh mobil-mobil SUV keluaran terbaru yang parkir di sebelah jalanan yang ditutup, menunggu majikannya bersepeda santai.

#5 Bundaran HI

Bundaran HI. Nikon D90. Sigma 10-20 mm HSM. Icon Jakarta. Saya merasa belum memotret kota Jakarta kalau belum mendapatkan foto tugu Selamat Datang di Bundaran HI ini. Satu frog-view telah berhasil saya koleksi. Ini adalah pertama kalinya saya menggunakan lensa lebar di 2010. Dan juga debut kamera baru saya: Nikon D90.

#6 Pusing

Arena Pekan Raya Jakarta. Nikon D90. Nikkor AF-S 18-105 mm VR. Memotret foto bergenre human interest tidaklah mudah. Karena itulah saya selalu senang ketika ada kejadian-kejadian tak terduga muncul di depan saya waktu saya memegang kamera. Tokoh tersebut apakah sedang memikirkan beratnya hidup atau hanya sekadar sakit kepala, saya tidak tahu. Tetapi yang jelas, dengan pose seperti itu di tengah guyuran hujan, saya terkesan dengan foto ini.

#7 Ramadhan Mubarak

Ngarsapura Solo Citiwalk. Nikon D90. Nikkor AF-S 18-105 mm VR. Foto ini akan menjadi kenangan saya sampai kapan pun! Bukan pada isi fotonya, tetapi pada saat ketika saya memotret Ngarsapura dan akhirnya menonton pergelaran SIPA, Solo International Performance Art.

#8 Bianglala Senja

Jatim Park 2. Nikon D90. Nikkor AF-S 18-105 mm VR. Keluarga saya punya kebiasaan kalau rekreasi bareng sukanya mendadak. Jika malah direncanakan jauh-jauh hari biasanya malah urung berangkat. Jadilah kami datang di Jatim Park setengah jam menjelang tutup. Senja dengan cepat merayap, angin lembah yang dingin datang menggigit, khas udara pegunungan. Suasana inilah yang selalu saya ingat ketika melihat foto ini.

#9 Cafe Batavia

Kawasan Kota Tua Jakarta. Nikon D90. Nikkor AF-S 18-105 mm. Gedung yang tua ini pasti telah melihat berbagai zaman menghiasi perjalanannya. Bentuk fisik gedung tidak banyak yang berubah, namun saya membayangkan, waktu Jan Pieterzoon Coen masih menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, pelataran gedung ini dihiasi kereta kuda, bukan kereta bertenaga kuda alias sepeda motor.

#10 Kupu-Kupu

Rawa-Rawa Sweden, Tulungagung. Nikon D90. Sigma 70-300 mm APO Macro. Makro ternyata salah satu genre fotografi yang sulit. Tetapi saya senang bisa mendapatkan foto makro yang cukup bagus dengan menggunakan lensa makro betulan. Ini adalah salah satu penutup foto-foto saya di tahun 2010.

Demikianlah, dengan ini saya kembali memulai perjalanan fotografi untuk tahun 2011. Saya bercita-cita bisa mbolang ke Bali memotret tempat-tempat yang jarang turis-turis kunjungi. Dan inilah beberapa foto-foto terbaik saya untuk tahun-tahun yang lalu:

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

13 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *