Menyikapi Perbedaan

Tidak banyak buku-buku yang saya baca yang membuat saya terkesan. Salah satu dari yang sedikit ini adalah novel “Sang Pencerah” karangan Akmal Nasery Basral, yaitu ketika terjadi diskusi antara KH. Ahmad Dahlan dengan kakak iparnya, Kiai Muhammad Nur mengenai silang pendapat yang cukup tajam di antara mereka. Pandangan brilian dan revolusioner KH. Ahmad Dahlan yang ingin mengembalikan Islam sebagai rahmatan lil alamin — Rahmat untuk semesta alam berbeda dengan Kiai Nur yang lebih memperhatikan kondisi masyarakat yang dianggap belum siap untuk menerima perubahan.

Sebagai tokoh protagonis, tentu saja kita cenderung lebih memperhatikan KH. Ahmad Dahlan dan cenderung membela pemikirannya. Akan tetapi setelah diresapi lebih dalam, pertimbangan Kiai Nur pun tidak kalah benarnya. Kiai Nur beranggapan bahwa pemikiran revolusioner Kiai Dahlan sangat bagus untuk kemajuan, tetapi hal itu dikhawatirkan menimbulkan gejolak di masyarakat Islam tradisional yang dikendalikan oleh Masjid Gede.

Apa yang dikhawatirkan Kiai Nur tersebut terbukti. Langgar Kidul yang diasuh Kiai Dahlan dibakar oleh pihak-pihak yang tidak menyukai gagasannya. Konflik meruncing dengan Masjid Gede. Tak dapat dihindari, bahkan sampai-sampai Kiai Dahlan dicap sebagai kiai kafir.

Saya melihat, konflik semacam ini terjadi sampai detik ini.

Jika konflik yang ada masih dalam koridor hormat-menghormati, itu tidak masalah karena itulah dinamika. Namun yang membuat saya prihatin adalah demikian gampangnya orang mengecap kafir dan sesat kepada pihak lain. Kafir, atau ingkar kepada Allah adalah tuduhan yang sangat berat. Tidak bisa sembarangan karena ini menyangkut tanggung jawab. Tetapi coba lihat di media-media, di Twitter, orang demikian mudah mencap kelompok Islam yang lain (baca: rivalnya?) sebagai sesat dan kafir karena berbeda pendapat.

Ambil contoh: tuduhan kelompok Salafy terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL). Saya pikir pertempuran kedua kelompok ini sama serunya dengan pertikaian antara Front Pembela Islam (FPI) melawan Ahmadiyah. Bertempur opini di internet dengan artikel-artikel yang uniknya mengambil dalil yang sama: Al-Qur’an dan Al-Hadist, tetapi dengan penafsiran yang berbeda. Masalah aqidah memang salah satu masalah yang sangat sensitif.

Menurut saya, tanpa dibekali ilmu yang cukup, sebaiknya kita tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana. Bahkan jika kita adalah simpatisan salah satu pihak, ada baiknya untuk tidak ikut campur (misalnya dengan memforward artikel-artikel yang menjatuhkan salah satu pihak). Saya tidak habis pikir bagaimana bisa orang-orang di Twitter itu melontarkan sumpah serapah dengan mudah. Kita akan mempertanggungjawabkan segala yang kita lakukan hari ini kelak.

Asy-hadu alla Ilaha Ilallah, wa Asy-hadu anna Muhamadar Rasulullah.
Saya bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah.
Dan saya bersaksi, bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

Published
Categorized as Islam

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!