Apakah Kita Perlu Lensa Fix?

Lensa fix (fix lens) adalah lensa yang tidak memiliki rentang zoom yang umum kita temukan pada lensa-lensa kamera SLR sekarang. Jika kita biasa memiliki lensa dengan rentang jarak 18-55 mm, 18-105 mm, atau 70-200 mm, maka lensa fix hanya memiliki satu ukuran jarak focal length saja. Misalnya 35 mm, 50 mm, 85 mm, dan 105 mm.

Keunggulannya? Dengan konstruksi yang lebih sederhana, biasanya lensa-lensa fix memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan lensa zoom biasa. Kualitas lebih tajam, distorsi minim, dan biasanya harganya juga tidak terlalu mahal. Satu lagi, diafragma yang lebar hingga mencapai f/1.4 membuat lensa-lensa model begini digandrungi banyak fotografer yang sering memotret di indoor.

Kelemahannya? Sangat tidak praktis. Karena tidak bisa diatur jaraknya, kitalah yang harus maju mundur menyesuaikan. Seringkali kondisi di lapangan sama sekali tidak membolehkan kita bergerak-gerak.

Saya sering melihat beberapa kawan menggunakan lensa 50 mm f/1.8 atau f/1.4 untuk memotret acara di indoor tanpa menggunakan flash. Ini bagus, karena dengan bukaan selebar itu masih bisa dapat ambience light yang cukup. Tetapi hal yang sering dilupakan adalah, setting ini juga berarti daerah ruang tajam yang sangat tipis (Depth of Field). Seringkali foto terlihat tidak fokus dan soft karena ini. Jadi menurut saya tantangan foto indoor dengan lensa bukaan lebar ini adalah DoF yang sangat tipis.

Kalau saya pribadi, saya tetap memilih kepraktisan — menggunakan lensa zoom normal dengan rentang antara 18 mm hingga 200 mm, bukaan standar (f/4.5 atau f/.5.6). Kekurangan cahaya bisa diakomodasi dengan menggunakan ISO tinggi (kamera SLR modern kelas menengah bisa menangani ISO 1500 dengan sangat baik), dan menggunakan lampu flash yang diset tipis atau di-bouncing sehingga ambience light masih terasa.

Published
Categorized as Fotografi

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. iyah kemaren coba pake lensa fix dg SLR teman, repot juga harus menyesuaikan diri utk maju mundur, apalagi cuman belajar kayak sy, memang lebih praktis kalo yg normal, yah kembali lagi ke kebutuhan sih 😀

  2. Saya pernah (tidak sering sih) pakai lensa fix 50mm. Salah satu keuntungan pakai lensa fix adalah kita bisa lebih berkonsentrasi untuk framing dibanding dengan lensa non fix. Mungkin ini pendapat yang naif ya. Tapi saya bener-bener merasakan bahwa membuat framing menjadi lebih menyenangkan dibanding non fix.

    Untuk kemudahan, jelas lensa non fix jauh lebih unggul. Tapi ada seni tersendiri kalau berhasil membuat foto yang bagus hanya dengan lensa fix. Sekali lagi ini pendapat saya lho.

  3. beda lensa beda kepentingan sih, hehe. buat kamu yg suka keluar dan moto banyak hal, lensa dg rentang lebar lebih nyaman. tapi buat yg serius moto still life, lensa fix lebih ok. seperti jiewa misalnya yg fotografer makanan profesional, dia nggak butuh 200 mm untuk njepret makanan di meja. jiewa perlu yg fix. 😉

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *