Debian Masih Tetap yang Terbaik

Hari Minggu kemarin, saya diminta men-setup sebuah web cache di sebuah warnet milik kawan saya di bilangan Rawamangun. Saya menyarankan untuk memakai Squid dan ia terserah saja saya mau memasang apa. Karena Squid sangat optimal berlari di sistem Linux, maka saya install Squid di atas sistem operasi Debian versi stabil (Lenny) dengan update repository dari versi unstable (Sid).

Bagi saya, ini bukan sekadar melakukan instalasi sistem Linux. Ini adalah sebuah reuni dengan kawan lama yang tidak pernah berjumpa. Saya menggunakan Ubuntu untuk mengerjakan tugas keseharian di laptop saya. Meskipun Ubuntu adalah turunan Debian, namun setiap turunan tidak sama dengan induknya. Ubuntu sangat memperhatikan pengalaman dan kemudahan — salah satu contohnya adalah menghilangkan (atau menyembunyikan) user root dan menggunakan sudo untuk melakukan tugas-tugas administratif. Akan menjadi sangat report jika kita ingin melakukan hal-hal secara langsung dari command prompt.

Debian masih saja seperti dahulu. Sederhana. Nggak neko-neko. Ketika monitor tidak mau menampilkan layar karena resolusi yang terlalu tinggi, saya langsung melakukan editing di file X11/Xorg.conf dan menurunkan resolusinya dari situ. Hal yang tidak jalan jika ini saya lakukan di Ubuntu — entah di mana mereka menyembunyikannya.

Mau setting apa-apa straightforward. Mau menambahkan kartu ethernet ada di file network/interfaces. Mau melakukan restart daemon ada di directory init.d (Ubuntu memberikan warning jika saya merestart service dari sini). Dan yang paling bisa dilihat adalah tampilan Desktop Environment-nya yang sangat sederhana. KDE atau Gnome yang masih asli. Simpel. Dan saya orangnya memang suka dengan kesederhanaan.

Jadi, untuk urusan tertentu, Debian masih tetap yang terbaik!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. salah satu contohnya adalah menghilangkan (atau menyembunyikan) user root dan menggunakan sudo untuk melakukan tugas-tugas administratif. Akan menjadi sangat report jika kita ingin melakukan hal-hal secara langsung dari command prompt.

    tugas2 administratif biasanya tidak berlangsung terus menerus. ubuntu menawarkan memakai prefix ‘sudo’ agar user (awam) tidak terbiasa menggunakan root#. jika digunakan secara berurutan, prefix ‘sudo’ menyimpan session sebelumnya sehingga user tidak dimintai password terus menerus. session ini akan hilang dalam waktu tertentu apabila user tidak lagi memekai prefix ‘sudo’.
    saya skrg justru lebih nyaman pakai prefix ‘sudo’ dari pada harus ‘su’ dulu :p

    Debian masih saja seperti dahulu. Sederhana. Nggak neko-neko. Ketika monitor tidak mau menampilkan layar karena resolusi yang terlalu tinggi, saya langsung melakukan editing di file X11/Xorg.conf dan menurunkan resolusinya dari situ. Hal yang tidak jalan jika ini saya lakukan di Ubuntu — entah di mana mereka menyembunyikannya.

    ubuntu memang fokus pada kemudahan user awan. user sebisa mungkin dihindari berkotor-kotor mengedit Xorg.conf jika hanya ingin menurunkan resolusi. cukup pakai Monitor Settings saja. tinggal klik resolusi yang diinginkan :p

    Mau setting apa-apa straightforward. Mau menambahkan kartu ethernet ada di file network/interfaces

    klo mau setting IP cukup klik NetworkManager di pojok kanan atas. 🙂

Leave a Reply to budiono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *