Sebuah Catatan, Singing Vaganza

Kantor saya bisa dibilang kantor yang memiliki ekskul (kegiatan di luar pekerjaan utama) yang cukup banyak. Salah satunya adalah Sportvaganza, sebuah turnamen olahraga dan seni antar divisi yang diselenggarakan setiap tahun. Mirip Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) di SD dulu. Di cabang olahraga ada futsal, badminton, volley ball, basket, atletik (lari estafet dan sprint), dan bowling. Sementara di sisi “vaganza”-nya ada lomba menyanyi. Meskipun tema utamanya adalah having fun, mau tak mau hawa turnamen sangat terasa kental hingga setiap divisi menyiapkan semuanya sebaik mungkin.

Saya sendiri tidak pandai berolahraga, tetapi saya masih berpartisipasi di pesta tahunan ini di bidang seni-nya. Saya berkesempatan mengiringi seorang kawan yang multi talenta, menjadi bintang di lapangan futsal dan badminton, sekaligus penyanyi yang tahun lalu mewakili BPMIGAS di ajang lomba ESDM Gitavaganza.

Kami mengaransemen Endless Love-nya Lionel Richie dan Dianne Ross agar lebih sesuai untuk suara cowok dan dinyanyikan dengan single. Kami membuat musiknya sesederhana mungkin dengan tujuan untuk menonjolkan karakter suara Salman yang sangat khas. Sayangnya, kami tidak mengantisipasi penonton yang histeris ketika Salman tampil. Saya bahkan tidak bisa mendengar suara piano saya sendiri. Monitor yang ada di depan panggung percuma karena kalah dengan jeritan penonton yang memadati lima ruang meeting yang disulap menjadi ballroom. Ini membuat kami membuat kesalahan yang cukup fatal di rolling terakhir ketika juri memergoki ada nada yang terpeleset sehingga kami urung mendapatkan gelar juara.

Tidak mengapa, memang rencananya bukan untuk mengejar juara. Intinya adalah having fun rame-rame eksis di atas panggung, he he he… Buktinya, ketika kami tampil kedua kali untuk mengiringi Stenly menyanyikan Sesaat Kau Hadir-nya Utha Likumahua, saya bertukar alat musik dari keyboard menjadi pegang gitar. Itu benar-benar spontan karena sejak saya pindah haluan ke aliran piano klasik, saya belum pernah memainkan gitar lagi.

Saya sempat berfoto bareng dengan Ghea ‘Idol’ yang menjadi salah satu juri. Thanks pula buat tante Icha dan Endah yang mati-matian me-make-over saya agar penampilan harian saya yang “so-fourties-style” menjadi ala anak band dengan jeans, sepatu kets putih, dan kemeja body-fit yang digulung. Hahaha… it wasn’t me, indeed…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Hehehe, ternyata sampeyan gak cuman main kamera yah mas, main keyboard juga yah…

    Mau dong bisa foto bareng ma seorang idol 🙂

    NB : maaf baru mampir mas, baru inget kalau dulu sering mampir dan liat-liat, maklum anak badung, lupa ma asisten waktu kuliahnya dulu 😀

    Bayu Wicaksono

  2. hiyaaaa …. ghea, aku suka suaranyaa … *teriak-teriak macam abg*

    hahaha, ihiyyy …. keren rek kereeen :p
    dan tumben, ada potohnya, biasanya motoh mulu 😀

  3. Akhirnya…..ketemu juga foto Mas Galih yang hampir setiap hari saya tengok-in blog-nya. Ternyata njenengan lumayan lemu yo. Entah kenapa ya, saya kok krasan cangkruk di blog panjenengan ini. Malah beberapa wisdom words saya simpan untuk motivator pribadi saya (hik..hik..sorry yo bilangnya baru sekarang).

    Terus menulis mas. ndak usah takut kehilangan penggemar. wong saya ini hampir setiap hari cangkruk disini. cuma ya itu, juarang banget kasih comment wong saya ndak bisa nulis.

    foto-foto njenengan juga memacu saya untuk menekan rana lagi setelah sekian tahun lagi kumat aras-arasen-nya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *