Ied el Fitr Mubarak di Kampung Halaman

Hometown saya adalah Tulungagung, sebuah kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur yang terkenal sebagai penghasil marmer terbesar di Indonesia. Rumah saya sendiri masih terletak di 20 km dari pusat kota. Merupakan lingkungan yang ustadz mushola dan masjid-nya adalah lulusan-lulusan pondok pesantren besar Nahdlatul Ulama seperti Tebu Ireng, Darul Ulum Jombang, Lirboyo Kediri, dan (ng)Gontor Ponorogo. Karena itu, tradisi setiap kali datang hari raya Idul Fitri sangatlah unik dan mengesankan.

Selepas shalat Maghrib, tradisi pun dimulai. Setiap mushola telah menyiapkan untuk ini dengan baik. Sound system telah diperiksa secara prima. Corongnya adalah TOA yang disangkutkan di tiang bambu besar yang telah dipendekkan sedemikian rupa sehingga tingginya pas di atas wuwungan mushola. Tiang ini telah didesain supaya bisa berputar 360 derajat sesuai kebutuhan. Corong diarahkan persis ke mushola tetangga yang telah menyiapkan hal yang sama. Maka perang corong pun dimulai. Takbir berkumandang bersahut-sahutan merayakan datangnya hari nan fitri.

Berbeda dengan daerah lain yang mengadakan sholat Ied di lapangan, maka di sini sholat Ied dilakukan di mushola. Biasanya orang datang ke mushola tempat mereka melakukan sholat tarawih. Orang membawa ambengan berupa makanan khas yang bernama ladha sega gurih. Ini adalah ayam kampung yang diasapi kemudian dibumbui sedemikian rupa dengan nasi yang juga dibumbui khusus. Jika di daerah lain, hidangan khasnya adalah opor ayam, maka di sini adalah ladha sega gurih. Opor ayam dan ketupat akan hadir pada perayaan bulan Syawal hari ke-7, setelah selesai puasa Syawal, yang dikenal dengan Lebaran Ketupat.

Setelah khatib menyelesaikan khutbah Idul Fitri yang dilakukannya secara on the fly Arabic to Javanese language translation — membaca buku ceramah yang berbahasa Arab, tapi ia menyampaikannya langsung dengan bahasa Jawa krama alus — selamatan dimulai. Ini mungkin adalah salah satu transmogrifikasi antara budaya Islam dan budaya Jawa.Β Saat yang akan selalu saya rindukan. Setahun hanya sekali.

FLICKR
Lokasi: Mushola sebelah rumah, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. Maaf lahir batin yah mas… untuk semua salah ucap dan kata πŸ™‚

    Setiapkali mampir ke blog ni, membuat saya jadi pingin punya kamera SLR, no longer digicam. Hasil dramatisnya membuat cerita lebih hidup. *sambil mengingat2 amburadulnya foto2 di blog saya πŸ™‚

    Nice.

  2. minal aidin wal faizin mas galih…
    maaf lahir batin….

    wah seru juga di kampungnya, kalo di kampung sy pastinya di lapangan luas sak kecamatan kalo perlu πŸ˜‰ makane rameh tenan…

  3. wahhh jadi kangen suasana kampung, indahnya suasana kampungmu, pasti islami banget ya. kalau aku tinggal di wilayah yg didominasi masy. tionghoa, tapi bisa saling menghargai, kalo aku lebaran mrk suka yg datang silaturahmi kerumah gt.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *