Menanti Kehadiran Malam Lailatul Qadr

Inna ‘anzalna hufii lailatil qadr
Wamaa adrakamaa lailatul qadr
Lailatul qadri khairu min al fi syahri
Tanazzalul malaikati waruhu fiha bi idhni robbihim minkulli amri
Salamun hiya hatta mathala’il fajri

Di dalam bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah ini, terdapat satu malam istimewa yang disebut malam Lailatul Qadar. Malam seribu bulan penuh kemuliaan. Disebut malam seribu bulan karena setiap umat Nabi Muhammad SAW yang melakukan kebaikan di malam ini, maka sama dengan melakukan kebaikan lebih dari seribu bulan secara berturut-turut tanpa berhenti.

Tentu saja pertanyaan wajar berikutnya adalah, seperti apakah ciri-ciri malam Lailatul Qadr itu? Pemahaman umum yang berkembang di masyarakat kita adalah malam Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir, khususnya pada malam-malam ganjil. Namun, seperti yang diungkapkan oleh ustadz yang mengisi kajian ba’da Subuh kemarin, semua ulama sepakat bahwa kapan terjadinya malam Lailatur Qadar adalah hak prerogatif Allah. Wallahu ‘alam.

Hikmahnya? Agar kita tidak mensepelekan malam-malam yang lain. Agar kita berlomba-lomba mencarinya di setiap malam, bahkan tidak hanya di malam terakhir saja. Ketika diisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar ada di malam ganjil saja, maka masjid-masjid banyak kehilangan shaf-nya di malam-malam genap. Semakin sulit mencari tempat parkir di mal, sementara parkir di masjid-masjid semakin melompong.

Prof. DR. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tanda-tanda ilmiah terjadinya malam Lailatul Qadar tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang jelas ialah, ketika itu dirasakan — oleh yang menemui malam tersebut — adanya kedamaian dan kesejahteraan. Ketika itu turun juga malaikat — sesuatu yang tidak ketahui hakikatnya. Menanti kehadirannya adalah dengan jalan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah sambil menyadari dosan dan kelemahan kita.

Jika hal itu dilakukan secara sadar, ikhlas, dan berkesinambungan, akan berbekas di dalam jiwa sehingga menimbulkan kedamaian, ketenteraman, dan dapat mengubah secara total sikap kejiwaan seseorang. Malam-malam terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat dimana jiwa telah diasah, sehingga berdampak positif terhadap kehidupan manusia. Itulah makna seseorang mendapatkan malam Lailatul Qadar, malam kemuliaan.

Catatan di penghujung Ramadhan (25 Ramadhan 1431 H)
Disarikan dari pengajian ba’da Subuh, dan dari buku Lentera Hati, M. Quraish Shihab: 1994.

Keterangan Foto:
Lokasi: Masjid Al-Muhajirin, Badak Camp, VICO Indonesia, Kalimantan Timur
Kamera: Blackberry Bold-9700 Onyx

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

Leave a Reply to Alris Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *