Ketika Setan dan Iblis Dibelenggu, Tinjauan Logis

Salah satu ungkapan yang populer di bulan Ramadhan ini adalah bahwa setan dan iblis itu dibelenggu ketika bulan Ramadhan. Nggak boleh mengganggu dan menggoda manusia. Ini berasal dari hadist populer yang berbunyi, “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (HR. Muslim)”.

Sekadar pemikiran sambil lalu saja, saya tidak membayangkan bahwa setan dan iblis benar-benar dibelenggu secara harfiah, apalagi kalau penafsirannya memakai ilmu makrifat, dimana setan itu sejatinya hidup di dalam hawa nafsu. Sehingga tidak mungkin dibelenggu (buktinya kita masih bisa saja tergoda untuk melihat paha-paha putih mulus ketika puasa) :p

Ramadhan, bagi saya lebih merupakan sebuah pengkondisian, sebuah kawah candradimuka. Kita menganggap Ramadhan adalah bulan yang spesial, yang khusus, yang hanya datang setahun sekali. Spesial dalam hal apa tentu tergantung dari masing-masing kita mengintepretasikannya. Spesial diskon pahala kah, spesial bulan ampunan kah, spesial suasana macet di sore hari karena ada penjaja kolak di pinggir jalan kah, spesial buka gratis di masjid kah, atau spesial acara TV karena semua TV membuat program khusus Ramadhan?

Karena terkondisi — oleh suasana, oleh ibadah itu sendiri, dan oleh lingkungan, maka kita akan lebih terkontrol untuk bertindak. Lebih sulit untuk berbuat hal yang dilarang agama. Bahkan melihat perempuan lewat di trotoar saja segera memalingkan muka karena takut memandang sesuatu yang bukan hak, yang bisa mencederai kesempurnaan puasa kita.

Di sinilah saya kira, makna belenggu itu sendiri. Kita lah yang membelenggu dan mengendalikan hawa nafsu. Bulan Ramadhan dengan segala kekhususannya itu membantu kita untuk lebih mudah mengendalikan, karena banyak sekali rambu-rambu yang harus dipatuhi.

Saya membayangkan, selama sebulan Ramadhan ini, para setan dan iblis seluruh dunia sedang memanfaatkan cuti sebulan mereka untuk sejenak beristirahat setelah setahun bekerja keras. Kemudian, para ketua regu akan mengadakan konferensi dan rapat koordinasi tahunan. Mungkin di salah satu venue di Las Vegas begitu. Mereka melakukan persiapan-persiapan, melakukan update knowledge, membahas strategi baru yang akan mereka terapkan sesudah para manusia keluar dari kawah candradimuka mereka dalam kondisi yang bersih dan suci (Fitri).

Tentu saja. Makanya, buat saya, puasa sunnah enam hari di bulan Syawal itu lebih berat daripada puasa wajib di bulan Ramadhan. Karena pengkondisian itu telah selesai. Belenggu telah dilepaskan. Setan datang dengan kemampuan yang lebih tinggi. Seperti halnya orang yang diet “balas dendam” ketika berhasil menyentuh bobot terendah (dan oleh karena itu bobotnya langsung menanjak), saya khawatir akan terjadi proses “balas dendam” juga untuk memperturutkan hawa nafsu setelah “diet” selama sebulan.

Semoga kita semua dijauhkan dari hal itu. Semoga tobat yang kita lakukan setiap hari setiap malam di bulan Ramadhan ini menjadi taubatan nasuha. Dan semoga kita tetap berada di dalam lindungan-Nya dalam menghadapi godaan setan yang terkutuk yang akan datang lebih dahsyat selepas Ramadhan.

A’udzubillahi minasyaithonirr rojiim…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Memang di bulan Romadhon syetan dibelenggu, dengan pandangan Ma’rifatpun akan terlihat begitu kokohnya belenggu itu, namun dengan pandangan Ma’rifat pula akan terlihat manusia melepas sendiri belenggu itu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *