Perfeksionis

Adalah sebuah postingan dari Dea (namanya sih Nidya tapi entah kok panggilannya Dea) yang menggelitik saya tentang seorang yang perfeksionis. Kenapa menggelitik karena ciri-ciri orang perfeksionis yang disebutkan di situ ada yang masuk dan mirip-mirip dengan saya sendiri, khususnya bagian penderitaan.

Saya tidak sadar ternyata saya sering mengeluh tentang saya yang tidak terlalu maksimal mengerjakan sesuatu hal karena saya sendiri sudah sangat disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan lainnya. Baru kemarin sore (saya baca postingan itu di pagi hari), saya bergumam, “Hhh… sayang kok ya kuliah ini mesti harus disambi bekerja, coba kalau fokus kuliah saja, pasti hasilnya lebih bagus. Tapi kalau nggak sambil bekerja, dari mana buat bayar uang kuliahnya?”

Topik-topik dalam kuliah Magister Manajemen sungguh menariknya. Belajar teori-teori permintaan dan penawaran di Managerial Economic, atau bahkan yang masih dekat dengan background saya di IT: IT for Management. Baca case study dari Harvard Business Review (kira-kira ini seperti jurnal IEEE lah kalau di teknik) banyak hal baru yang dipelajari. Tetapi sayang sekali saya merasa tidak pernah bisa maksimal mempelajari hal itu semua karena siang hari waktu tersita karena harus bekerja. Padahal kuliahnya malam hari.

Lebih buruknya, seperti yang pernah saya tulis, saya ini punya banyak keinginan untuk bisa ini dan itu, mengerjakan ini dan itu. Padahal tangannya hanya ada dua dan sudah penuh. Saya ingin membuat produk itu, bahkan saya punya ide untuk membuat sebuah startup, juga di lain sisi, saya ingin menyelesaikan partiturnya Ludwig van Beethoven: Sonata op no. 13 “Pathetique” the Second Movement yang menuntut dimainkan dengan lembut dan penuh perasaan.

Mungkin saya memang harus belajar banyak lagi untuk bisa lebih mensyukuri keadaan. Mumpung lagi bulan Ramadhan. Saatnya pembenahan mental diri. Karena saya anggap tidak ada waktu yang lebih baik lagi dari bulan Ramadhan sebagai sebuah kawah candradimuka untuk perbaikan mental. Thanks to Dea yang sudah mengingatkan saya.

Bonus tulisan empat tahun yang lalu tentang perfeksionis:

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *