Neo Liberalisme

Tadi malam, kuliah Managerial of Economics dibuka dengan anekdot yang cukup menarik. Sejatinya kuliah ini adalah cabang ilmu Ekonomi Mikro yang pada dasarnya hanya membahas dua hal: penawaran dan permintaan (supply and demand).

Yang jelas, anekdot ini semakin membuat saya kagum dengan kekuatan media dalam hal pembuatan opini publik. Bagaimana media “menyesatkan” orang awam dengan istilah-istilah dan pengaturan sedemikian rupa sehingga ulasan media tetap kelihatan “ilmiah dan berimbang”.

Ini adalah tentang bagaimana pembuatan istilah neoliberal yang ditempelkan ke tokoh publik yang menjadi sasaran beberapa waktu yang lalu: Budiono (dan kemudian Sri Mulyani). Opini saat itu diarahkan bahwa Pak Budiono adalah seorang neoliberalis. Istilah asing-ilmiah-kurang-dikenal-umum ini kemudian dikesankan sebagai sesuatu yang buruk dan berbahaya. Seorang pengamat ekonomi yang maha tahu segala sesuatu, pakar segala ilmu, kemudian dihadirkan hampir setiap hari untuk menguatkan kesan.

Neoliberal, atau kapitalisme, sangat berbahaya karena tidak memikirkan keadaan rakyat.

Padahal, setiap orang yang pernah belajar Ekonomi akan mengerti bahwa contoh sederhana seperti tukang ojek adalah kapitalis. Katakanlah saya datang ke pangkalan ojek dan minta diantarkan ke suatu tempat. Tukang ojek A memasang tarif 20 ribu. Pada saat itu saya hanya punya 10 ribu. Saya tawar, tukang ojek A tidak bersedia.

Kemudian, saya datang ke tukang ojek B dan menawar. Karena tukang ojek B mendengar negosiasi saya dengan tukang ojek A, ia juga memasang tarif 20 ribu. Sampai tukang ojek ke-20 pun, mereka akan memasang tarif 20 ribu. Tidak ada yang peduli bahwa saya hanya pegang uang 10 ribu.

Apa kesimpulannya? Tukang ojek pun kapitalis. Neoliberal. Mereka tidak mempedulikan saya sebagai customer. Sebenarnya istilah ini terbatas sampai di sini saja. Sesederhana itu pengertiannya. Tetapi oleh media, hal yang sederhana ini bisa dikembangkan menjadi suatu manuver yang cukup memusingkan lawan.

Ah! Tentu saja Ekonomi Mikro tidak mampu menjelaskan, saya lupa kalau macam begini adalah ranah Politik Ekonomi, cabang ilmu Ekonomi yang lain lagi, he he he he…

Published
Categorized as TA/Kuliah

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. lho sekarang kuliah Ekonomi, Gal? Wah selamat, hati2 ga semudah eksakta hihi, eh iya soal neolliberal atau apalah, itu Budiyono bikin dua buku Ekonomi Mikro & Makro. Ini buku paling susah dimengerti walau paling tipis dari semua buku ekonomi 😀

  2. Di Gambir, pengalaman saya dengan ojek gini..

    Saya: Pak, ke Sudirman ya… 10 rb (saya sudah tau pasarannya waktu itu…)
    Ojek A: Hari gini 15 rb, 25 rb mau nggak?
    Saya: Nggak ah…
    Ojek A: Ya udah…

    Ojek B (denger hasil tawar-menawar saya dengan si A): Ayo dah mas, sama saya.
    Saya: Mau 15 rb?
    Ojek B: Ayokk!!

    Hayooo,,,, si B termasuk kapitalis ato nggak? 😀

  3. hehehehe nice om 🙂 maklum pak budiono n buk sri versuse pemilik media jadi yo ngono kui hehehehehe koyok kodok nang njerone bathok hahahaha

Leave a Reply to hedi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *