Untukmu

Seperti de ja vu, kita mengulang saat seperti beberapa tahun yang lalu
Wajahmu tetap sendu, matamu masih sayu seperti dulu
Aku tak tahu apakah kamu senang dengan kedatanganku
Ataukah aku hanya dapat menduga, dan hanya terlalu percaya diri menganggap kamu senang

Berdua kita menghabiskan menit demi menit dalam hening diam
Kasihan gulungan benang yang entah kenapa ada di tanganmu itu
Dan ponsel yang menjerit aku remas-remas tanpa sadar di tanganku

Aku memang bodoh
Tetapi hanya kamu yang mau menunggu
Hanya kamu yang mau mengerti
Hanya kamu yang tetap duduk diam sementara ketika yang lain pergi
Kamu diam ketika yang lain berceloteh

Entahlah, kadang aku merasa diam-mu lebih dari seribu kalimat
Ketika seribu kalimat hanya membuat aku merasa tak lebih dari anak kecil
Kamu diam, mengerti bahwa pria di depanmu sedang bertingkah seperti anak kecil
Bodoh dan kekanak-kanakan

Terima kasih untuk semuanya
Terima kasih untuk waktu yang kita lewatkan berdua
Waktu dimana setan dan iblis mengintip kita dari balik kegelapan
Waktu dimana segala sesuatu mudah untuk menjadi haram bagi kita

Terima kasih untuk segala risiko,
untuk segala kecantikan dan wangi bidadari yang kamu tampilkan kepadaku
untuk seulas senyum, yang langka aku temukan tersungging di wajahmu

*) sebuah catatan harian, dengan dramatisasi

Published
Categorized as Melankolis

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *