Tentang Kritik Terhadap Foto

FLICKR
Lokasi: Istana Bogor, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS (Powershot SD 940 IS)

Kemarin saya membaca sebuah kritik di salah satu foto di facebook yang kurang lebih berbunyi,

Ini foto nggak ada POI-nya, coba kalau yang bawa payung menghadap ke sini pasti lebih bagus.

POI adalah kependekan dari Point of Interest, atau titik utama yang ingin disampaikan fotografer kepada penikmat foto. Foto adalah sebuah seni. Seni erat hubungannya dengan rasa, sehingga cara menikmati dan mengapresiasi sebuah foto adalah dengan perasaan.

Karena perasaan masing-masing orang berbeda, tentu saja tak jarang bahwa apa yang disampaikan fotografer berbeda dengan audience. Tidak apa-apa. Itulah seni. Sehingga saya merasa aneh dengan komentar di atas, kalau menurut fotografer POI-nya adalah pembawa payung yang sedang membelakangi? Atau malah titik air hujan yang karena itu payungnya dibikin blur? Atau ternyata abstrak, padahal kritikus sudah mencela bahwa gambarnya tidak tajam?

Konsep selalu subjektif, bahkan menurut saya tidak ada foto yang jelek selama fotografer sudah senang dengan apa yang dipotretnya. Sehingga, saya pikir juga, tidak relevan juga kalau sebuah karya seni foto diperlombakan mencari mana yang paling bagus dan yang paling bercerita. Itu hanyalah lomba teknik dan keberuntungan. Keberuntungan momment bagus datang dengan settingan kamera yang pas. Keberuntungan dilirik juri sehingga pas dengan selera juri.

Kalau tidak diminta secara khusus, sekarang saya berusaha untuk tidak memberikan komentar/kritik yang terkesan sok tahu seperti di atas. Lha, siapa saya kok berani-beraninya lancang menilai sebuah foto padahal sebenarnya saya tidak mengerti cerita di balik foto? Kalau diminta, saya akan berkomentar menurut pandangan saya, jika saya yang mengeksekusi tombol shutter, jika saya dihadapkan pada momment seperti itu, apa yang akan saya lakukan.

Namun demikian, kritik dan komentar juga diperlukan sebagai salah satu sarana untuk memperluas wawasan dan khasanah kita. Asal jangan patah semangat kalau mendapat kritik yang mencela. Kritikus tidak tahu keterbatasan kondisi yang dialami fotografer ketika di lapangan. Misalnya kritikus bilang akan lebih bagus jika sudut diambil dari atas. Padahal di situ tidak ada alat untuk naik lebih tinggi. Semacam itulah.

Tetap semangat! Anda adalah master fotografi ketika di balik kamera. It’s not about your camera to capture momment, but it’s you, the person that shoot behind the gun.

Published
Categorized as Fotografi

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Kembali dapat petuah bijak dari guru-yang-belum-pernah-mengajarkan-saya-moto ini.

    Eh saya kepengen beli 120S deh om, abis enak bisa disakuin =))

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *