Benarkah Linux Bisa Dipakai?

Cukup banyak teman-teman saya yang terkejut bahwa saya tidak memakai dual boot pada laptop saya. “Hah? Bisa Dipakai?!?” begitu reaksi kebanyakan kawan saya. Saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya tanpa melebih-lebihkan, “Bisa, cuma memang lebih susah.” Jangankan pengguna awam, yang mendapatkan pendidikan formal di bidang IT saja jarang yang menon-aktif-kan Grub-nya menjadi single boot saja. Kecuali mereka yang memang benar-benar maniak yang kerjaannya download dan kompilasi kernel terbaru.

Hingga saat ini, Ubuntu Lucid Lynx cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya menemukan bahwa aplikasi-aplikasi FOSS yang biasa saya pakai di Windows ternyata terasa lebih enak kalau dipakai di platform aslinya. Inilah aplikasi-aplikasi yang saya pakai:

Berselancar di Internet

  • Alat konektivitas modem: UMTSMon, untuk memaksa si modem 3G bekerja di sinyal 3G only. Modem akan dideteksi otomatis oleh Ubuntu dan kita bisa langsung connect lewat network connection-nya Ubuntu.
  • Webbrowser: Google Chrome, terkesan lebih lite ketimbang Firefox, dan saya kebetulan belum membutuhkan kemampuan Firefox extension yang luar biasa itu. Saya bahkan rela meng-upgrade WP engine saya ke WP terbaru karena editor WP versi 2.3 memiliki bug di Chrome.
  • FTP Client: Filezilla, meskipun Nautilus bawaan Gnome mendukung FTP, tapi saya lebih suka memakai perangkat khusus untuk FTP.
  • Chatting: Pidgin Internet Messenger. Aplikasi alternatif Yahoo! Messenger ini mendukung banyak protokol termasuk Y!M, Google Talk, hingga Facebook Chat.
  • Flickr Uploadr: Flickr Uploader, tidak ada versi resmi dari Flickr untuk perangkat yang bisa melakukan batch uploading ini, ternyata ada juga versi alternatifnya di Linux

Office

  • OpenOffice adalah hal wajib di Linux. Saya sudah mengerjakan beberapa makalah serius untuk tugas kuliah memakai OpenOffice Writer.
  • Email & Calendar: Evolution. Saya adalah pengguna Mozilla Thunderbird dulu waktu di ITS, tapi saya ngikut aja apa kata Ubuntu. Evolution sama sekali tidak usable di versi porting-nya di Windows, tetapi di Linux sudah sangat prima. Rasanya seperti MS Outlook saja.
  • PDF Reader: Adobe PDF Reader, tidak ada software yang fiturnya sekaya software aslinya.
  • Accounting: GNUCash Finance Management. Ini sangat berguna buat melakukan tracking cash flow harian saya. Software ini sangat berguna, utamanya buat orang yang belum memiliki Menteri Keuangan seperti saya, he he he…

Grafis

  • Perangkat utama: GIMP. Tentu saja. Tidak ada perangkat pengolah citra yang sehebat GIMP di dunia FOSS. Secara fitur sebenarnya sudah menyamai Adobe Photoshop, cuma tinggal permasalahan aksesbilitas dan kenyamanan user interface saja.
  • Desktop publishing: Scribus. Saya membuat format essay Car Free Day dengan menggunakan Adobe InDesign, waktu saya migrasi ke Linux, ternyata ada perangkat yang juga menyamai InDesign. Tinggal menunggu karya pertama ebook yang saya bikin dengan ini.

Multimedia

  • Pemutar musik: saya nurut apa kata Ubuntu sebagai pengganti Winamp: Rhythmbox. Saya masih mencoba bikin XMMS2 bekerja karena saya agak kurang suka dengan Rhythmbox.
  • Pemutar video: saya juga nurut kata Ubuntu: Movie Player. Mirip seperti Windows Media Player, perangkat ini juga cukup hebat termasuk kemampuan menampilkan subtitle.
  • Music Sheet: MuseScore. Untuk menulis not balok kalau saya lagi belajar baca partitur, saya memakai perangkat ini untuk menuntun saya mendengarkan ketukan demi ketukan.
  • Perekam audio: Audacity. Kalau lagi narsis pengen pamer kemajuan dalam belajar piano, saya merekam suara yang keluar dari piano, dicolokin ke line microphone di latop, lalu merekamnya dengan perangkat ini.

Demikianlah, masih banyak lagi yang belum saya sebut, tetapi ini sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pastikan koneksi internet Anda lancar dan anda tidak perlu menghapalkan homepage untuk setiap perangkat tadi. Linux menyediakan sistem repositori yang mengumpulkan dan mengatur dependensinya. Tinggal buka Synaptic atau kalau mau hardcore lewat terminal: apt-get install.

Published
Categorized as Linux

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. blogwalking gan,,
    yang disayangkan adalah pengembangan game di linux yang tidak seheboh di window*,meski ada wine tapi ndak bisa maksimal,,
    jadi window* dipake untuk ngegame dan linux dipake untuk kerja,,
    hehehe,,

Leave a Reply to dhany Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *