Yeah! Bebas!

Rasanya saya seperti seorang anak kelas 4 SD yang sedang merayakan kebebasannya karena baru saja selesai ujian. Hehehe… ternyata sensasi seperti ini bikin rindu (dan itu salah satu alasan saya sekolah lagi). Bagi adik-adik saya yang masih menikmati suka duka bangku sekolah/kuliah, percayalah, kalian kelak bakal merindukan masa-masa itu kalau sudah lama meninggalkan dunia pendidikan. Jadi, nikmati selagi masih bisa.

Saya baru saja melewati trimester perdana yang luar biasa. Teman-teman baru, lingkungan kampus yang berbeda dengan waktu di ITS dulu, dan yang pasti subjek ilmu pengetahuan baru. Ini membuat saya merasa excited, menikmati serunya diburu deadline tugas, menikmati sensasi ketika mengintip nilai di ujung kertas ulangan, dan tentu saja: kebebasan sejenak untuk liburan setelah melalui ujian akhir yang berat.

Trimester perdana ini berisi kuliah-kuliah dasar manajemen yang kalau dicermati sangat menarik. Dimulai dari pengembangan kemampuan berkomunikasi dalam kuliah Communication & Interpersonal Skill. Di sini diajarkan teori-teori self-awareness, self-disclosure, manajemen konflik dan negosiasi, hingga presentasi dan pembuatan proposal formal.

Kemudian kita bergerak dalam implementasinya di dunia kerja. Bagaimana motivasi dan persepsi seseorang berperan dalam organisasi. Masuk ke dalam lagi, semua isi organisasi dibedah. Ini menarik karena teori-teori yang dijabarkan sangat dekat aplikasinya di dunia kita sendiri. Mengamati pergerakan teman dan atasan di kantor mengenai leadership-nya, hingga bagaimana saling adu manuver dalam perang power dan politik kantor. Semua teori itu sangat dekat dengan mata! Hal ini dibahas dalam Leadership and Organizational Behavior.

Lebih jauh, kita dibawa untuk menyadari bahwa menjalankan bisnis dalam organisasi harus dilakukan dengan etika. Permasalahan etika dan moral ini diajarkan dalam kuliah Business Ethics. Tiada pertemuan tanpa case study, dari skandal ke skandal, dari luar negeri hingga dalam negeri. Wawasan kita dibuka bahwa ternyata masalah etika adalah masalah yang sangat dilematis dimana tidak ada jawaban yang benar. Dan kita akhirnya bisa mengerti mengapa kadang-kadang seorang pimpinan instansi yang notabene seorang yang bermoral dan beretika harus memutuskan untuk melakukan sesuatu yang melanggar hukum untuk organisasi yang dipimpinnya.

Dan akhirnya, setelah masalah bisnis dikupas secara kualitatif, kuliah Quantitative Business Analysis menjawab setiap permasalahan secara kuantitatif. Semua bisa diukur secara matematis, bahkan dalam urusan pengambilan keputusan yang sulit. Kuliah ini saya akhiri dengan final project yang menjelaskan gejolak indeks IHSG dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara matematis kuantitatif!

Tentang nilai yang akan keluar nanti, saya tidak terlalu fokus kepadanya. Adalah berat memang untuk bisa fokus jika kuliah harus berbarengan dengan bekerja. Meskipun masih ada kekurangan di sana sini, tapi saya puas bahwa saya melewati trimester pertama ini dengan cukup baik. Saya masih ingin berteriak loh, “Hei, jadi mahasiswa lageee!!”

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *