Migrasi ke Ubuntu Lucid Lynx

screenshot

Setelah sekian tahun memakai Windows XP, akhirnya saya memutuskan untuk migrasi sepenuhnya ke Linux. Menghabisi semua partisi NTFS di drive C dan menggantinya dengan ext4 tanpa dual boot. Saya bukanlah fans fanatik open source (bahkan cenderung fans Microsoft), dan faktor saya bermigrasi juga bukan karena isu legalitas bajak membajak software.

Faktor pertama adalah karena kebutuhan yang tak tergantikan di Windows sudah tidak ada lagi. Dulu saya masih membutuhkan Dreamweaver dan Photoshop untuk pekerjaan mendesain web. Akan tetapi tren web sekarang adalah menggunakan CSS sehingga praktis fungsi layouting Dreamweaver tidak terlalu diperlukan lagi karena lebih mudah menggunakan teks editor biasa. Selain itu sekarang saya tak ada waktu lagi buat side job sebagai web designer, sehingga praktis fungsi Photoshop hanya saya pakai buat editing foto, yang mana itu bisa dilakukan oleh GIMP. MS Office, jelas untuk kebutuhan personal dipenuhi oleh OpenOffice.

Pemicunya adalah saat Windows XP saya crash dan harus diformat ulang. Karena laptop Compaq saya ini dibundel tanpa sistem operasi, instalasi driver-drivernya adalah perdjoeangan, apalagi setelah support driver hardware tidak disupport lagi oleh Windows Update. Semua bisa berjalan mulus, kecuali card reader-nya yang tidak terdeteksi. Saya berpikir, “Apa bedanya dengan Linux kalau begini?” Akhirnya setelah mencoba di atas Virtualbox selama sehari, saya dengan semangat melakukan full installation.

Menyenangkan Sekaligus Menyebalkan

Ubuntu Lucid Lynx memiliki tampilan yang saya suka. Font-nya halus, seperti yang saya dambakan. Sangat mirip dengan Mac (copycat?). Pokoknya sampai saat ini saya masih excited dengan OS baru ini. Saya berinternet ria dengan lancar dengan Firefox (in certain circumstances terasa lebih cepat — mungkin cache-nya lebih bagus), mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan OpenOffice Writer, dan melakukan editing foto dengan Gimp.

Tetapi Ubuntu masih jauh dari sempurna untuk pengguna awam. Meskipun orang bilang semuanya serba autodetect, tetapi saya tidak seberuntung itu. Harus berdarah-darah untuk menghidupkan modem 3G Huawei saya, dan sampai sekarang saya masih belum bisa membuat printer Epson Stylus T20E saya bekerja dengan gutenprint. Masih memakai driverΒ  dari Turboprint versi trial 30 hari. Tentu saja saya suka hanya itu saja yang tidak jalan — device lain terdeteksi dengan baik; card reader, bluetooth, wireles LAN, semua bisa plug and play tanpa hambatan.

Saya tidak akan membahas tutorial tentang usaha-usaha tersebut karena sudah banyak di internet. Mungkin justru inilah permasalahan jika sebuah OS dikembangkan oleh komunitas dan tanpa garansi. Masalah yang sama bisa menghasilkan banyak solusi dan setiap solusi belum tentu berjalan di komputer lain. Ubuntu dan Linux pada umumnya masih sulit untuk digunakan pengguna yang benar-benar awam. Juga masih jauh untuk dipakai corporate karena hitungannya akan berat di maintenance cost (kasihan IT support dan helpdesk-nya). Selama harga Windows 7 dan software bagus lainnya masih IDR 5000 cap Glodok Public License, Linux tidak akan mampu bersaing dengan kompetitornya.

Published
Categorized as Linux

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. Wah sudah pake Lucid Lynx ternyata . . . saya aja masih pake Jaunty Jackalope. Saya pengennya juga single boot dengan Ubuntu cuman sayang yang pake kompie ga hanya saya tapi orang rumah lainnya. Jadi masih dual ma XP.

    Btw soal last paragraph . . . salah satu sebab kenapa orang awam kurang menggunakan Ubuntu (Linux) . . . (imho) karena masalah kebiasaan. Disekolah diajarin Winduz so kebelakangan mereka juga pake winduz . . . saya awalnya 2006 make Ubuntu, butuh 1-2 tahun untuk membiasakan padahal skill kompie saya terbatas . . . ternyata make Ubuntu (Linux) itu asyik juga, kadang kala lebih asyik dari pada make Winduz . . . apalagi soal install software . . . guampang banget dengan synaptic πŸ˜‰ btw konon Winduz mo niru sistem instal ala synaptic, bisa terjadi ga ya? πŸ˜‰

  2. Tak pikir-pikir, Linux itu enak pol selama kita punya koneksi internet. Butuh software/driver, tinggal donlot sana-sini. Begitu ga dapet internet, ampun dah…

    Tapi secara personal, saya juga pengen ganti dari Windows ke Linux. Lha Windows makin lama makin haus memory (Win 7 aja butuh 1 GB). Kalo Linux kan masih bisa cari2 distro yg irit RAM.

  3. Alhamdulliah macbook putih saya yang sudah kuning ini masih setia menemani tanpa crash sedikitpun 3 tahun ini…Semoga masih bisa dipake ngerjain tugas akhir hahaha

  4. Apa sih bagusnya Ubuntu, kecuali kalo punya 8 DVD reponya, pake Ubuntu gak ada enaknya. πŸ˜€ Eh Lih, coba Grub-nya kamu ganti Burg (Brand-new Universal loadeR from GRUB), mantap itu.

  5. Mantap! Ayo galakkan Sumber Terbuka untuk Indonesia. Dukung narablo yang terus berbagi ilmu dan pengalaman mereka tentang Linux! Salam kenal ya, Mas galih.

  6. Masalah yang sama bisa menghasilkan banyak solusi dan setiap solusi belum tentu berjalan di komputer lain. Ubuntu dan Linux pada umumnya masih sulit untuk digunakan pengguna yang benar-benar awam. Juga masih jauh untuk dipakai corporate karena hitungannya akan berat di maintenance cost (kasihan IT support dan helpdesk-nya).

    yup. setuju skali.. πŸ™‚
    terlalu banyak variasi, terlalu banyak distro, terlalu banyak aplikasi sejenis, miskin driver hw… πŸ˜€

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *