Ketika Kualitas Layanan Mengalahkan Harga

Setelah tirakat semalaman mengenai untuk memutuskan siapa adeknya D40, akhirnya di sebuah hari Sabtu yang cerah, dengan semangat saya menuju toko kamera. Ketika riset harga, saya melihat bahwa harga di Oktagon sedikit lebih murah daripada JPC. Tergelitik untuk mencoba toko ini, saya meluncur ke Gunung Sahari, toko pusat Oktagon, untuk mencoba. Saya tahu, butuh perdjoeangan cukup berat untuk mencapai Gunung Sahari, macetnya bo’ tak tahan. Meskipun ada Oktagon di Kemang, tapi saya berasumsi bahwa di pusatnya pastinya lebih lengkap.

Oke, akhirnya saya sampai di lokasi. Sekilas pandang, Oktagon memiliki konsep yang sedikit berbeda dengan toko kamera lainnya. Di ruangan yang tidak terlalu luas, menempel rak display di sepanjang dinding-dindingnya. Di tengah-tengah ada display gantung untuk tas-tas. Di salah satu sisi ada meja kasir. Kemudian ada meja-meja bulat kecil… Ah, ini yang membedakan. Sepertinya meja ini adalah tempat untuk diskusi. Dan memang meja-meja itu penuh dengan calon pembeli yang dengan intens berkonsultasi dengan kru Oktagon.

Masalahnya, sepertinya mereka kekurangan orang. Ketika saya masuk, sama sekali tidak ada yang menyapa. Semua pramuniaga sibuk. Di sudut belakang, nampak sepertinya fotografer-fotografer pro berdiskusi serius tentang lensa. Jadi minder sendiri kalau amatir melihat diskusi itu.

Masalahnya saya ini pembeli yang sangat manja. Saya muter-muter di sepanjang dinding dengan cara agak sedikit menarik perhatian, melihat-lihat barang yang didisplay. Belum ada yang menyapa. Setelah lima menitan, saya ke kasir, tapi dasar manja, saya diam saja sambil memandangi para kasir yang super sibuk. Namanya juga mencoba, mem-benchmark sejauh apa pelayanan Oktagon terhadap calon pelanggan baru. Aduhai, tidak ada yang menyapa juga. Mungkin saya dikira teman dari pembeli lain yang memang jumlahnya cukup padat di ruangan yang tak terlalu luas itu. Saya pikir saya sudah memasang wajah yang cukup linglung untuk menunjukkan bahwa saya baru di sini, tetapi tetap ada tidak ada yang perhatian.

Menyerah, seperti kebiasaan saya, saya keluar diam-diam. Saya meluncur kembali, menembus kemacetan Gunung Sahari hingga ke ujung Kemang. Hahaha… saya menuju ke toko tempat biasa saya beli yang harganya terkenal lebih mahal: JPC Kemang. Hanya pembeli aneh seperti saya yang mungkin mau bersusah-susah pindah toko ketimbang tanya atau memanggil pelayan meminta pelayanan.

Tapi lihat bedanya. JPC Kemang selalu penuh dengan pembeli. Baru saja saya membuka pintu, sudah ada yang menyapa saya dan menanyakan kebutuhan saya. Saya bilang DSLR Nikon D90 dan saya langsung diantar ke meja untuk dilayani. Mungkin memang ini keunggulan JPC, dan layout tokonya yang model konvensional memang lebih mudah mendeteksi calon pembeli baru.

Catatan:
Ada kebetulan yang unik, di nota pembelian tertulis begini:
– JPC Kemang, Nikon D40 kit, 29 Mei 2007
– JPC Kemang, Nikon D90 kit, 29 Mei 2010

Ah!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. haha… benar2 manja ini orang. mau gak komen tapi lihat ceritanya itu…..! hahaa…

    siip deh, mas dg d90-nya. saya baru mau beli d5000, 🙂

  2. wahahaha… kayaknya kebetulan yang unik di nota itu memang sudah kamu sengaja sat.. dan bagusnya mereka punya log transaksi. top!

    jadi ini tho adeknya d40.. menunggu hasil buruanmu, pastinya top semua!

  3. udah biasa di toko sini kayak gitu, kalo tampilan pembeli yg baru masuk kelihatan berkantong tebal pasti akan segera disambut — sesibuk apapun para pramuniaganya.

  4. jadi inget sticker angkot, “anda tidak puas beritahu kami, anda puas beritahu yang lain” he he he

  5. Akhirnya…D90 memang pilihan yang wajar.
    Saya juga menduga kebetulan di nota itu sudah direncanakan. Tapi, biar lebih dramatis, pake muter dulu. 😀

  6. waha akirnya D90 🙂 keren nih meskipun make kitnya tajemnya gila. apalagi kalau bw dr kamera beuh yg biasanya make d60 yg ke abu2an make d90 lsg njreng item pekat terasa kopi 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *