Terpinggirkan

FLICKR
Lokasi: Jl. Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Di Jakarta, pejalan kaki adalah kaum yang paling didzolimi. Adalah sangat tidak nyaman berjalan-jalan di ibukota Jakarta Raya ini. Fasilitas satu-satunya yang dimiliki pejalan kaki, trotoar, tidak pernah sepenuhnya dimiliki.

Oke, ambil contoh, berjalanlah di trotoar jalan Pasar Minggu Raya dari ujung Pancoran ke Kalibata saja di sore hari. Perjalanan Anda akan dihadang oleh pedagang kaki lima yang menggelar lapak di tengah trotoar, praktis memenuhi lebar trotoar. Para pedagang kaki lima itu sering mengeluh bahwa mereka didzolimi oleh nasib dan pemerintah, namun kira-kira mereka sadar nggak ya bahwa mereka juga mendzolimi kepentingan pihak lain, yaitu pejalan kaki?

Contoh lagi, berjalanlah di trotoar paling lebar di poros Sudirman – Thamrin di jam pulang kantor. Ini trotoar paling lebar dan paling bersih yang seharusnya memanjakan pejalan kaki. Apa yang terjadi? Anda akan diteriaki oleh klakson-klakson pengguna jalan paling arogan, paling agresif, dan paling tak tahu aturan di Jakarta: pengendara sepeda motor. Di sini, jalur Anda diserobot oleh pengendara motor. Yeah, seharusnya Anda yang berteriak marah, tetapi siapa yang berani melawan sepeda motor? Sedan 3 miliar saja memilih diam sambil menggerutu kalau spion-nya disambar sepeda motor.

Jadi beginilah kondisi trotoar sekarang. Tumpukan sampah daun yang rontok bercampur lumpur ini mungkin sangat jelas bercerita bahwa di sini pejalan kaki bukanlah pengguna jalan yang dianggap penting.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. Senangnya tinggal di Surabaya, makin ramah dengan pejalan kaki terutama di jalan-2 utama. Sudah di beton, dikasih tegel . . . dan lebar! 🙂 tapi intinya saya pikir sebagian besar dari kita tidak punya rasa menghormati orang lain dan itu tercermin dari cara kita memperlakukan fasilitas umum.

  2. Setujuu… kapan hari sempat mau jalan ke kalibata, n temen bilang suruh oper angkot di terminal pasar minggu.
    Masya Allah, trotoarnya udah jadi pasar. Mana maceeet. Sayang banget yah kalo engga dikelola. Kita udah jalan mepet-mepet eh masih kena serempet angkot, sepeda motor, plus keranjang bakul..

    *hloh, kok malah curhat yah? 😀

  3. Hahaha jadi ingat sewaktu ingin berjalan kaki dari kantor ke Plangi melewati trotoar di Sudirman.. Persis sekali penggambaran yang diungkapkan di artikel ini *cuma bisa mengurut dada melihat kelakuan mereka*

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *