Bye Bye My Luv…

Ternyata tiba saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk salah satu benda yang paling saya sayangi selama ini. Benda yang paling sering menghiasi dan mewarnai blog ini. Benda yang merupakan impian dan obsesi selama kuliah. Kamera Digital Single Lens Reflex Nikon D40.

D40 adalah generasi pertama kamera Nikon seri entri level yang menyentuh angka lima juta. Sebelumnya, Nikon selalu gagal bersaing dengan kamera SLR sejuta umat saat itu, Canon EOS 350D, karena gagal menekan harga seri entri level-nya: Nikon D50. Akhirnya D40 keluar dengan terobosan baru, menghilangkan motor autofokus di body kamera sehingga kamera ini hanya bisa autofokus di lensa-lensa modern yang memiliki motor autofokus di lensa. Dengan kata lain: hanya bisa bekerja dengan lensa-lensa mahal.

Waktu saya membeli kamera ini, saya masih termasuk freshgrad dengan kamera andalan Canon Powershot A400. Ketika mendengar ada SLR seharga lima jutaan, saya langsung gelisah dan sibuk menghitung-hitung untuk memecah celengan ayam. Dilema seorang yang akan menjadi “mualaf” fotografi jelas: memilih “agama” kamera.

Pilihan saya antara Nikon D40 atau Canon EOS 350D yang satu harga meskipun secara teknologi, era EOS 350D sudah berakhir dan segera digantikan EOS 400D. Keputusan akhirnya jatuh ke D40 dengan beberapa alasan: (1) Saya lebih suka karakter warna Nikon; (2) Pilihan lensa yang lebih sedikit akan menahan saya untuk mengoleksi lensa-lensa (meskipun opsi ini akhirnya tidak berjalan juga, saya akhirnya beli-beli lensa juga hahaha…); (3) Ken Rockwell sangat suka D40 — bahkan hingga sekarang ia masih merekomendasikan D40 ketimbang D90 (if the price does matter!).

Jadi begitulah, saya masih belum tahu adeknya D40 ini apa — saya masih meriset kamera-kamera SLR Nikon. Saya pernah pakai Nikon D300 dan menurut saya D300 sangat susah dikendalikan, jauh lebih baik kakaknya, yaitu Nikon D200. Tetapi Nikon D200 selain sudah obsolete beratnya juga macam barbel dua kilo saja. Saya pernah pakai Nikon D80 milik kantor waktu tugas dinas ke lapangan beberapa bulan yang lalu dan saya suka handling-nya.

Entahlah, kita tunggu saja, he he he…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 comments

  1. Mas Galih maw tanya niy, kan Mas bilang suka Nikon karena karakter warna, bisa dijelaskan ga Mas apa itu maksudnya? Apa bedanya Canon ma Nikon? Saya juga pertimbangkan maw bli DSLR . . . oya kenapa kamera pocket mas itu Canon bukan Nikon?

  2. @geblek:
    akhirnya D90 mas 😀

    @dhodie:
    D40 sudah meluncur ke pemiliknya yang baru oom… kalo ndak dijual duluan susah mah buat nombokin ke D90 he he he….

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *