Dari Jurusan Sains ke Sosial

Bapak saya adalah seorang guru Matematika yang — menurut teman yang pernah menjadi muridnya — gaya mengajarnya jelas, enak, humoris, tetapi sekaligus killer. Jadi wajar jika dalam pendidikan keluarga, saya mendapatkan doktrinasi bahwa sains  (science) adalah ilmu dari segala ilmu di atas ilmu sosial. Saya masih ingat betul, bagaimana Ibu sangat galak ketika mengetes hapalan saya tentang perkalian dibawah angka 10. Saya bisa disetrap tidak diberi kue-kue kalau masih salah menghitung 8 kali 7.

Ketika saya duduk di bangku SMU, citra jurusan IPA dianggap lebih superior daripada jurusan IPS, karena disanalah orang-orang pintar nan jenius bercokol. Sembilan dari sepuluh pemegang The Best Ten Student di Cawu III kelas 2 memilih jurusan IPA. Deretan ruang kelas 3 IPA yang berada di paling selatan gedung sekolah sepertinya lebih berkilau daripada deretan ruang kelas 3 IPS. Anak IPA berjalan dengan anggun dan menegakkan kepala. Semua membidik jurusan sains yang dianggap paling memiliki masa depan cerah saat itu: Teknik Informatika, Teknik Industri, dan Teknik Elektro.

Sejak saat itulah, saya tenggelam di dunia sains. Jika ditanya apa kredonya, mungkin I believe in science. Persamaan Matematika menjadi sesuatu yang menarik untuk ditelaah. Matematika adalah sains sekaligus seni. Hal ini berlanjut ketika saya mengambil penjurusan Intelligence Business System. Saya memilih pembimbing yang terkenal paling killer, paling galak, dan memiliki kecintaan dengan Statistik pada tingkat yang mengerikan. (Salam hormat saya selalu, Pak Rully Soelaiman :D).

Makanya saya sendiri masih agak heran mengapa saya berani kuliah lagi di jurusan sosial. Padahal saya pernah berangan-angan meneruskan riset saya di bidang information retrieval, atau topik-topik advance mengenai Data Mining dan Artificial Intelligence.

Perubahan. Saya merasa jalan pikiran saya terlalu struktural mengikuti pola pikir komputer. Loop and break if not zero. Dengan “menyeberang” ke jalur sosial, saya berharap mendapatkan ilmu dan wawasan yang lebih luas lagi, sehingga pola pikir yang terlalu ke otak kiri ini agak bergeser ke kanan. Oleh karena itu, saya mengambil Magister Manajemen, bukan topik-topik advance di bidang sosial macam Ekonomi Mikro atau Akuntansi lanjut.

Ada seorang kawan yang mengasumsikan alasan saya memilih MM karena saya ingin menjadi manajer. Agak terlalu jauh, karena saya anggap, tidak harus manajer atau calon manajer yang kuliah MM. Setiap profesional yang bekerja memerlukan pengetahuan yang diajarkan di kuliah MM. Dengan mengetahui lebih luas dunia manajemen, ia akan lebih produktif dan lebih strategis dalam pekerjaannya. Katakanlah, seorang programmer murni mungkin akan memikirkan ekses teknis saja dalam merancang sebuah sistem. Tetapi, programmer dengan pengetahuan manajerial bisnis akan memikirkan aspek-aspek yang lebih luas ketika merancang sistem. Mungkin ia akan memperhitungkan efek politisnya, efek sosialnya, dll.

Ilmu mungkin dalam jangka pendek tidak begitu terasa gunanya. Tetapi ilmu yang menumpuk dan mengendap akan menjadi sebuah pola pikir. Dengan ilmu yang lebih luas pula, kita akan mendapatkan kesempatan untuk membaginya dengan orang lain, menolong orang lain, mungkin bahkan mencerahkan orang lain.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 comments

  1. weleh, sebelum masuk ke Strategic Management di Teknik Industri ITS, sebenarnya saya juga mau ambil MM, tapi setelah konsultasi ngalor ngidul plus melihat stok fulus, akhirnya menjatuhkan pilihan di ITS lagi :d

    sambil jalan-jalan.. makan-makan..
    dan ndak ada cita-cita mau jadi menejer :d

  2. weitz tapi bukan karena tuntutan kerja kan beralih ke sosial kan?
    ke depan sih sy liatnya, emang kita harus kuasai byk ilmu kalo cuman berkutat pada ilmu sains kita akan ketinggalan jg

  3. setuju aku mas.. dunia itu selebar daun kelor..
    sebenernya rada mirip ama dunia yang aku lagi jalanin sekrg, orang IT di kasi duduk di kursinya HR. Awalnya canggung karena berbeda dunia, tapi lama2 menyadari bahwa “dunia gak selebar daun kelor”.. orang2 itu “bermacam2”, maka, harus juga punya ilmu “macam2” biar lebih bijak ngeliatnya.. 🙂 (hihihi..sokwise:modeon)

    (dhika86)

  4. “Ilmu mungkin dalam jangka pendek tidak begitu terasa gunanya. Tetapi ilmu yang menumpuk dan mengendap akan menjadi sebuah pola pikir.” I love this. Nunjek sekali rasanya…..Thanks.

  5. wis suwi gak mampir… hehehe,
    klo menurutku jurusan sains melatih kita untuk berpola pikir kreatif dengan berbagai permasalahan yang dihadapi, sedangkan jurusan sosial melatih kita untuk menggunakan perasaan. Hidup ini tidak hanya dengan logika, tetapi juga perasaan. Klo emang butuh sesuatu yang membalancekan keduanya, kenapa tidak?

    so, sains + sosial = prefect ^^ *pendapat ngawur, hahaha

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *