Tentang Membuka Diri (Self Disclosure)

Saya pernah mendengar dongeng seperti ini: jika kamu dan pacarmu tidak pernah bertengkar, maka kemungkinannya ada dua: (1) kalian adalah dua orang yang sempurna; (2) kalian tidak serius dalam hubungan kalian. Karena tidak ada orang yang sempurna, maka besar kemungkinan ada di opsi (2). Mengapa kesimpulannya seperti ini?

Well, ini hanyalah sebatas contoh saja, celoteh saya ini berlaku tidak hanya hubungan dalam hal pacaran, tetapi lebih secara umum hubungan pertemanan dengan teman-teman kita.


(Gambar dari Wikipedia)

Alkisah dalam teori komunikasi, ada bagan bernama Johari Window. Bagan ini melukiskan mengenai diri kita dan hubungannya dengan orang lain. Seberapa banyak kita dan orang lain tahu tentang diri kita. Seberapa banyak kita tidak tahu tentang diri kita. Dan seberapa banyak, orang lain tidak tahu tentang diri kita.

Kedekatan kita dengan teman kita bisa diukur dari seberapa besar open area ini dalam Johari Window. Semakin kita membuka diri, semakin akrab kita. Membuka diri (Self disclosure), dalam artian membuka hal-hal yang sensitif tentang diri kita kepada orang tertentu. Dengan teman yang tidak terlalu akrab, mungkin kita hanya membuka hal-hal yang “aman” saja seperti misalnya tentang nama, tanggal lahir, tempat tinggal, hobi, kesukaan. Tetapi dengan teman yang lebih akrab, kita mungkin menceritakan tentang hal-hal yang lebih sensitif seperti pacar, perasaan, keluarga, dll.

Sensitif, karena berisiko. Kita tidak tahu informasi ini akan dipakai untuk apa oleh teman kita tersebut. Jika dia seorang yang suka gosip, mungkin informasi itu akan disebarkan kepada orang lain dan bisa berakibat runyam.

Awalnya Saya pikir, self disclosure hanya terbatas secara verbal saja, misalnya lewat media curhat, atau dalam kondisi yang baik-baik saja. Tetapi saya sadari, suatu pertengkaran, kesalahpahaman bisa disebut pembukaan diri juga. Dengan mengetahui reaksi teman kita, atau — sebaliknya — dengan menunjukkan reaksi kita terhadap sesuatu hal yang membuat tersinggung atau marah, kita bisa mengetahui batas-batas sampai di titik tertentu yang bisa membuatnya tersinggung. Dengan mengetahui batas-batas itu, kita bisa menggunakan cara komunikasi yang lebih baik lagi yang tidak menyinggungnya. Dengan begitu, hubungan ke depan akan menjadi lebih hangat.

Itulah kenapa, in certain circumstances, pertengkaran itu perlu. Hal itu membuka sisi-sisi yang selama ini selalu kita tutupi. Bagaimana orang bereaksi ketika ia sulit mengontrol emosi, bagaimana cara ia mengatasi kondisi marah, apakah dengan memukuli tembok, atau membanting apa yang ada di dekatnya, atau dengan diam. Tentu saja, pertengkaran cukup riskan. Self disclosure selalu berisiko. Tetapi saya yakin, setiap kali kita saling mengetahui sisi-sisi tertutup orang lain, semakin lebar open area dalam Johari Window, semakin bagus dan semakin akrab hubungan kita.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

  1. Debat atau pertengkaran memang perlu untuk mengetahui reaksi sebenarnya teman kita.. saya setuju.

    Johari window… hmm fragmen-fragmen spesifik yang diangkat ke dalam tulisan seperti ini yang bikin saya suka sama blog ini 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *